DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
230. Pencarian keluarga Josh


__ADS_3

Setelah pertempuran sengit antara ibu dan ayah Bara, yang mungkin lebih dari beronde-ronde.


Sepasang Insan yang telah melepas rindu itu pun masih terjaga dalam dekapan di dalam selimut.


" Sayang, bagaimana keadaan Tantan, dan juga Panglima...di sini tidak ada elektronik sama sekali, aku tidak tahu kabar kalian di kota!"


" Sahabatmu tidak perlu kau khawatirkan semua baik-baik saja...jangan memikirkan apapun , hiduplah dengan damai di sini, besok aku harus kembali ke kota...!"


" Secepat itu??"


Rasanya Suzy tidak rela, baru sebentar dia merasa bahagia dan lega, sebentar itu Suaminya sudah harus kembali.


" Tunggu aku, aku akan kembali memeluk kalian menjaga kalian..."


" Jenderal..."


" Hmmm...."


" Tidak bisakah untuk tinggal beberapa hari lagi...??"


" Panglima hanya memberiku waktu 3 hari untuk berangkat tinggal kembali!"


Suzy terdiam, dia masih ingin Suaminya sedikit lebih lama bersamanya.


" Ueeeek oeeeeek oooeeeeeek..."


terdengar Bara menangis , Petter dengan sigap mengambil putranya .


" Dia haus Jenderal..."


" Oh ya??, kau haus nak?, tenang saja ayah tidak mengambil jatahmu...kau pemiliknya!"


memberikan Bara pada Suzy untuk di susui.


Petter segera mengenakan pakaiannya, lalu merangkapkan selimut pada tubuh istrinya dan memeluk istrinya yang sedang menyusui dari belakang.


" Oh dia sangat rakus...!"


" Hihihi..." Suzy hanya terkikik.


Petter menciumi kepala belakang Istrinya berkali-kali betapa Petter sangat mencintai istrinya yang sudah memberikan Petter Junior untuknya.


" Terimakasih istriku..." Petter berkali mengucapkan kata-kata itu pada sang istri karena sangking bahagianya.


"Sebenarnya aku dan Bara masih ingin lebih lama dengan Jenderal...!"


" Kau pikir aku tidak??, tentu saja aku ingin 24 jam bersama kalian...tapi...kau paling tahu mana yang harus aku prioritaskan sayang...!"


Suzy menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya dan mendongak melihat wajah garang suaminya yang jarang tersenyum, namun wajah garang itu akan selalu menampakkan senyumnya pada dirinya dan sekarang pada Bara wajah itu terlihat semakin berseri.


" Lihatlah Ayahmu nak...dia sekarang terlihat tidak begitu menakutkan!"


" Heheheh...tentu saja, senyum ini hanya akan mencair ketika bersama kalian..." memeluk dan mencium pipi istrinya dengan lembut dan penuh kehangatan.


" Jenderal kau harus kembali secepatnya..."


" Ya, aku akan segera kembali..."


" Ehmmm aku dan Bara akan mendoakan keselamatanmu, dan juga semuanya termasuk keluarga Tantan dan Panglima...!"


" Doa seorang istri adalah kekuatan untuk Suaminya...jadi aku berlindung pada Doa yang slalu kau panjatkan...!"

__ADS_1


Suzy pun tersenyum...


" Bara sudah terlelap, biar ku gendong, cepat pakai pakaianmu sayang..."


Suzy segera mengenakan pakaiannya.


" tidurlah...biar aku yang menjaga kalian...!"


" Mm....bangunkan aku jika Jendral sudah harus kembali "


" Siap...!"


Suzy pun tidur di pangkuan Petter, tubuhnya cukup terasa lemas jadi Suzy terlelap begitu cepat.


...----------------...


Di Lereng gunung


" Nisa, apa kau baik-baik saja??"


" Ya tuan hanya luka kecil..."


Nisa terluka di bagian lengannya setelah pertemuan dengan beberapa hewan buas .


" Itu cukup besar lukanya cepat naik!"


pinta Zero.


Gadis kecil itu sangat ragu, karena tidak enak hati.


" Ayo ...kita cari tempat aman untuk menangani lukamu!"


Akhirnya gadis kecil itu pun menempel pada punggung Zero, dan Zero dengan cepat membawa Nisa dan Anjing pelacak untuk mencari tempat yang cukup aman.


Zero menurunkan Nisa perlahan lalu membuka Ranselnya.


" Lenganmu sobek, tahan bila sakit remas lenganku"


Zero segera menyiramkan air pembersih luka yang ready slalu di tasnya setelah bersih dan darahnya berhenti , Zero segera memberikan obat lalu membalut luka Nisa dengan kasa.


" Setidaknya ini cukup untuk melindungi lukamu sementara agar tidak infeksi "


" terimakasih tuan..."


" Hemm ya,...."


kruyuk kruyuk


" hihi....itu bukan perut ku tuan..." Nisa sangat malu dan tidak mengakui.


" Lapar jangan di tahan, tetaplah di sini...aku akan kembali membawa makanan untukmu, kau memang sedikit merepotkan!" Zero pun segera beranjak pergi sementara Nisa duduk bersama anjiing menunggu .


30 menit menunggu akhirnya Zero kembali membawa beberapa ubi jalar dan satu kelinci yang sudah terlepas dari bulu-bulunya.


" Kau bisa membuat api kan??"


" Ya tuan..." Nisa segera berdiri mencari ranting dan daun-daun kering untuk membuat api.


Gadis kecil itu cukup cekatan, dengan cepat dia sudah mengumpulkan banyak ranting dan dan segera mengeluarkan korek api dari sakunya.


tak butuh waktu lama api unggun pun jadi, Zero bagian membakar bahab makanan yang sudah di bawanya tadi.

__ADS_1


Nisa terlihat senyum-senyum sendiri sambil melihat api unggun di depannya , apinya cukup menghangatkan tubuhnya yang mungil


" Apa yang kau pikirkan??"


" Dulu saya, sangat ingin naik gunung, namun orang tua saya slalu melarangnya, dan sekarang tidak ada siapapun yang melarang ku melakukan apa yang ku inginkan"


Meskipun bibir kecilnya selalu menyunggingkan senyuman namun air matanya mengalirkan butiran bening yang cukup deras.


" Mereka sudah tenang, mereka sudah percaya padamu kau sudah bisa menjaga dirimu sendiri...!"


" Hiks hiks Benar...aku akan membalaskan semua derita yang sudah di alami Keluargaku!"


" Oh ya, tentu saja...kau akan membalasnya dengan tanganmu sendiri...!"


" Tuan, apa kau punya keluarga??"


" aku sama sepertimu, keluarga ku di bantai habis dan hanya tersisa aku, tidak bukan hanya Keluarga ku semua sukuku kami hampir habis dan dikeluarga ku tinggal tersisa aku..."


" Itu kenapa Tuan menyelamatkanku??"


" Aku dulu juga di selamatkan Panglima, aku dilatih sangat keras oleh Panglima sendiri, dan saat itu dia masih seorang prajurit biasa!"


" Panglima sangat baik ya, tuan juga sangat baik!"


" Ya, Panglima adalah seseorang yang sangat aku hormati dan kagumi...!"


Nisa mengangguk setuju dengan ucapan Zero, meskipun Nisa tidak pernah berbicara langsung dengan Panglima, namun Zero cukup mewakili gambaran isi kepalanya tentang Panglima.


" Dia sebenarnya orang yang suka memperbaiki, sekiranya bisa di perbaiki maka dia akan memperbaikinya dengan totalitas, namun jika tidak bisa di perbaiki maka dia akan menghancurkannya dengan totalitas seperti debu yang tertiup angin!"


" Tuan tolong latih aku dengan tanganmu sendiri!"


" Apa??"


" Ya, tuan dilatih oleh tangan Panglima sendiri, dan Tuan menjadi luar biasa, tolong latih aku dengan tangan tuan sendiri!"


Zero terdiam cukup lama, untuk memikirkan permintaan gadis 16tahun itu, namun melihat gadis manja dan lemah itu memiliki tekat yang cukup besar, sehingga menjadi seperti sekarang Zero menganggukan kepalanya setuju.


" Oke, jangan menangis jika kau ku latih...!"


" Tidak aku tidak akan menangis...!"


" Ya, sekarang makan dulu yang banyak istirahat 15 menit kita akan berlatih sambil menjalankan misi...!"


" Siap...!"


Zero dan Nisa pun makan untuk mengisi tenaganya kembali agar bisa menjalankan misi dengan baik, karena sumber kekuatan tidak hanya pada tekat, tapi tetaplah ada pada makanan.


Zero juga membagi beberapa potong daging mentah untuk sang anjiiing pelacak.


Zero melihat pada benda yang melingkar pada pergelangan tangannya...


" Mereka juga belum menemukan sesuatu!" gumamnya yang tetap fokus pada benda di pergelangan tangannya


" Kita Lanjut Nisa...!" Zero segera berdiri, Nisa pun juga segera berdiri.


Mereka pun segera melanjutkan pencariannya


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lanjut sabtu ya...

__ADS_1


karna harus lanjut membelah diri di lapak sebelah juga harus updated.


__ADS_2