
Akhirnya pertempuran keduanya selesai setelah bertempur 1 jam 45 menit.
Zero masih memeluk erat tubuh telanjang istrinya di bawah selimut dengan sangat posesif.
seakan tidak ingin melepaskan sedetik pun.
" Kak...!"
" Panggil aku sayang...!"
" sasssayang...!"
" Ehmm...apa sayangku?"
" Apa kakak tidak bersiap??"
" Apa kau mengusirku, setelah mendapatkan kepuasan?" Zero semakin mengeratkan pelukannya.
" Kakak nakal, bukankah kakak yang tambah terus??!"
" Aku sangat menyesal!"
" Menyesal karena menikahi Nisa??" raut wajah Nisa terlihat sedih.
" Ya benar, kenapa kita tidak menikah dari dulu? jika aku tahu menikah rasanya senikmat ini!" mengecup pundak polos Nisa.
" aku kira kakak menyesal menikah denganku!"
" Aku bahagia, terimakasih sayang! muaach, biarkan aku tidur satu jam memelukmu seperti ini.. karena masih ada waktu 2,5 jam, setelah itu aku harus berangkat dan tak tahu kapan kembali!"
" Baik kakak...!"
Zero membalikan tubuh Nisa yang membelakanginya kini menghadapnya.
Zero menatap lekat wajah jelita itu sepuasnya, keduanya saling memandang.
" Cantik istriku!" Zero menarik Nisa dalam dekapannya dan memejamkan mata.
...----------------...
tok tok tok
" Bos Panglima menunggumu!"
Zero segera membuka matanya,
" Oh sial...aku terlambat bangun!" Zero melihat istrinya masih tertidur pulas, dengan perlahan Zero beranjak berdiri dan segera membuka pintu sedikit.
" 10 menit!"
Zero menutup pintu lagi dan segera mandi.
setelah mandi, Zero memakai seragam berwarna hitam, topi hitam dengan lambang singa, memakai sepatu boot hitam.
Zero mengecup kening istrinya sedikit lama, lalu berjalan ke box bayi, melihat Grey masih sangat pulas, Zero menggendongnya dan mengecup pipi gembul milik Grey dan memindahkan Grey tidur dalam pelukan Nisa.
mengecup kening mereka bergantian.
" Grey, ayah pergi agak lama, jangan merepotkan ibumu ya, ...sayang aku berangkat dulu, jaga anak kita!" Zero pun segera meraih ranselnya dan segera pergi menuju lapangan dan bersiap untuk berangkat karena sudah terlambat.
__ADS_1
" Maaf aku terlambat!" ujar Zero membungkuk
" ini pertama kalinya kau tidak ontime Zero!"
tegur Panglima dengan wajah datarnya.
" Maaf Panglima!"
" Sudahlah tidak banyak waktu lagi cepat masuk ke dalam mobil masing-masing kita berangkat sekarang!" perintah Panglima.
Semua segera masuk kedalam regu masing masing.
saat mengabsen satu persatu orangnya Zero terkejut karena Yesa masuk dalam regunya.
" Siapa yang mengijinkanmu ikut??" tanya Zero terkejut.
" Panglima!"
Zero mengehela nafas berat, tak bisa membantah apapun keputusan Panglima, namun Zero merasa tidak suka karna ada wanita di regunya.
" Aku tidak bisa melindungimu dengan baik, kau pindah ke regu C Yesa!"
" Tidak!"
Zero pun juga tak bisa berkata apapun,
Zero segera mengambil tempat duduk di ujung.
Mereka pun memulai perjalanannya ke kota.
" Ria, setelah tugasku selesai aku akan meminta Panglima menikahkan kita!"
" Ah, itu benar paman dan bibi, sangat mudah di rayu tapi tidak dengan kakak sepupumu!"
" Kuncinya ada pada kakak iparku !" menggandeng tangan Tantan
"Oh ya, sebenarnya aku ingin menjadikanmu adik, tapi sekarang kau adalah kakak iparku, kakak ipar tolong setelah semua urusan selesai, bujuk panglima untuk segera menikahkanku dengan Ria !"
" Jimiiie...!" teriak Panglima dari kejauhan.
" Lihat, Panglima sangat menyebalkan!!" ujar Jimmie kesal.
Tantan dan Ria terkikik
Jimmie meraih Ria dalam pelukannya, dan mencium kening Ria .
" Jaga diri baik-baik!" Jimiiie pun segera menyusul langkah Panglima dan segera melompat ke dalam mobil jeep.
Rombongan mobil dan truck itu pun satu persatu pergi meninggalkan Bascamp, terlihat Nisa berlari terkeok- keok dengan telanjang kaki sambil menggendong Grey berharap masih bisa melihat Zero sebelum pergi.
" Kakak....!" teriak Nisa dengan keras.
mobil Zero yang akan keluar gerbang itu pun terhenti, semua orang tahu Nisa adalah istri Zero, itu berarti Nisa adalah Nyonya mereka juga.
Zero pun turun dan berlari menghampiri Nisa.
" Sayang, kenapa tidak pakai alas kaki...??"
melepaskan sepatunya dan memakaikan pada Nisa.
__ADS_1
" Kenapa kakak tidak membangunkan Nisa??!"
" Maaf, aku membuatmu kelelahan, aku tidak tega!"
" Kakak, aku tak apa... bagaimana bisa kakak ke kota tanpa sepatu!"
" Di ranselku masih ada satu, kau nanti sakit...!" Zero melepas jaketnya merangkapkan jaket besar itu menutup tubuh Nisa dan Grey.
" Lain kali kenakan pakaian dengan benar saat keluar, mengerti??"
" Maaf!"
" Tidak apa-apa, aku pergi dulu jaga diri baik-baik!" Zero mengecup kening Nisa dan juga Grey.
" Grey, jaga ibu saat ayah pergi...,sayang aku pergi!" Zero pun segera berbalik saat melihat Ria dan Tantan Zero membungkukkan badan dan segera berlari kembali menaiki mobil.
mobil itu pun pergi dan gerbang itu tertutup rapat.
Tantan dan Nisa menghampiri Nisa yang terlihat sedih .
" Grey ikut tante yuk!" Ria mengambil Grey dari Nisa sementara Tantan menuntun Nisa kembali ke paviliunnya.
" Lihat, kau berhasil memegang kuasa hatinya Nisa...ajaranku sukseskan??, ingin bisa mengendalikan pria kemudinya adalah di sana hehehehe!" Goda Tantan.
Nisa hanya tersipu malu....
" Ajarkan padaku juga kakak ipar!"
" Tenang saja, nanti kita private Ria, tapi hati Jimmie sudah sepenuhnya untukmu, dari jauh sebelum kita bertemu!"
" Tapi tetap saja, aku ingin belajar, melihat Nisa di perlakukan sangat istimewa oleh Zero hatiku meleleh!"
" Okok...kita antar Nisa dulu sekarang baru private! heheheheh "
Sementara itu ada hati yang sedang panas oleh cemburu, siapa lagi jika bukan Yesa, namun Yesa tidak bisa berbuat apa-apa.
Zero mengambil sepatu cadangannya dari ransel dan segera memakainya.
lalu Zero kembali fokus pada kertas yang dibawanya, dia mempelajari rencana yang yang akan dilakukan oleh Panglima, karena masuknya Yesa, harus merubah lagi susunan personilnya.
Kini tidak ada lagi main-main bagi mereka, karena sudah saatnya memulai pertempuran secara terang-terangan.
...----------------...
Satu minggu Kemudian
Hatta Latif sudah resmi dilantik menjadi seorang Presiden bersama Jimmie sebagai wakil presiden.
Di bantu oleh Jimmie Hatta membuat perombakan pada kabinet, Dan melantik enam menteri dan lima wakil menteri yang baru, dengan wajah baru.
beberapa kaki tangan Bi sudah tersingkirkan sebagian, masih di sisakan oleh Jimmie karena di rasa masih berguna untuk rencana ke depannya.
Rakyat merasa lega dengan pemimpin yang baru, baru seminggu menjabat, pergerakan perbaikan , bantuan, penanganan keseluruhan yang dibutuhkan masyarakat yang krisis pun mulai teratasi, Hatta, Jimmie dan anak buahnya fokus pada perbaikan pangan papan
sementara Panglima, dan Jendral kembali fokus pada posisinya,
karena peraturan baru wajib bagi pemuda berusia 17 tahun ke atas pria wanita, mendapatkan pendidikan dasar untuk basic pelatihan fisik dan juga penguasaan dalam memegang senjata.
Dan itu adalah tugas Zero untuk melatih,jika terjadi peperangan, mereka bisa melindungi diri mereka, karena panglima hanya bisa melindungi 50% penduduk pasif, dan 50% harus aktif untuk melindungi diri sendiri.
__ADS_1