DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
26. Terlibat


__ADS_3

Mereka berdua ternyata malah sangat menikmati hukuman mereka menjadi tukang kebun dihalaman Jendral Petter.


" apa-apaan?, kenapa mereka malah seperti mendapat wahana bermain ?" Gumam Jendral Petter yang mengawasi kedua rubah-rubah kecil di atas balkon.


" Tantan, apa kau tidak takut ketahuan ayahmu besok?"


" mmm, kita jalani sajalah! lihat besok apa yang akan terjadi!, untung saja Jendral mengijinkan kita memakai masker!"


" mmm, Jendral sangat baik ternyata meski pun kelihatanya sangat dingin dan kejam!"


" Ya, tak ku sangka dia mau membantuku memberi tahu bahwa ayahku akan datang kemari!"


"Aku akan berusaha baik pada Jendral agar kita selalu dimudahkan dalam semua hal di sini!"


"Sebaiknya kau beribadah yang baik dan memohon pada Tuhan, agar semua urusan kita dimudahkan!, kita tidak bisa bergantung pada siapa pun!" ujar Tania mengingatkan.


" Jendral sangat kuat dan memiliki kedudukan tinggi, kita aman jika kita bisa mengambil hatinya !"


" seberapa kuat orang lain, kita tidak bisa bergantung padanya, dengan mengambil hatinya, kau hanya bisa mempercayai dan mengandalkan diri sendiri untuk tetap bertahan hidup dengan baik!"


" apa harus seperti itu? "


"Ya, tentu saja!, dirimu sendiri yang harus kau andalkan!"


"aku tidak percaya dengan kemampuanku, bagaimana aku bisa mengandalkan diriku sendiri?"


"kau akan mengerti kemampuanmu saat kau dalam situasi yang sangat sulit dan mendesak !"


" aku tidak mau dalam keadaan seperti itu!"


" Ya sudah kau pakai pampers dan minum susu saja di rumah!" Tania kesal pada sahabatnya itu.


" memangnya aku bayi!"


sambil melempar tumpukan rumput ke arah Tania.


"Hei, kau ini!" Tania membalas Suzy dengan tumpukan rumputnya.


Mereka saling melempar rumput satu sama lain.


"Astaga jika mereka tidak dihentikan, bisa - bisa paviliunku rata dengan rumput!" Jendral Petter segera turun menghampiri mereka berdua yang masih asik main lempar rumput.


" Apa menyenangkan bermain-main saat dihukum?"


" tentu saja tidak ,jika kau mau bergabung ayo sini!" ujar Suzy tanpa sadar.


Tania dia tak bergerak sambil memberi kode mata, karna tahu jika Jendral Petter berada di belakang Suzy.


" apa sekarang kau takut?" Suzy menantang Tania.


Tania hanya diam saja tak menjawab.


" Hentikan!!" Tegas Jendral Petter


Suzy menyadari suara yang terdengar jelas di telinganya, rumputnya terjatuh karna terkejut.


" Apa hukuman ini tidak membuat kalian jera?"


mereka berdua diam tak menjawab.


"Jawab!" Bentak Petter


" Huaaaaaa,huaaaaaaa, galak sekali, huhuhu Tantan, aku takut!" Suzy berlari memeluk sahabatnya.


" Hei apa yang kau lakukan , kita akan dihukum lebih berat lagi jika kau menangis!" bisik Tantan


" Huhuhuhu, aku terkejut sekali ,huhuhu jantungku sudah mau copot huhuhuhu huaaaaaaaaa!"


Jendral Petter menggaruk kepalanya yang tak gatal, baru kali ini dia mengurusi anak-anak yang sangat merepotkan.


Jendral Petter menghela nafas untuk menenenangkan diri.


" Sudah, cepat bersihkan dan kembali beristirahat! " sambil berlalu pergi.


"apa sudah pergi?" Bisik Suzy yang segera merubah ekspresinya.


" Ya Tuhan, nyalimu besar sekali, berani-beraninya kau membohongi Jendral! "

__ADS_1


" ayo cepat kita bereskan ,aku tadi benar-benar takut sekali, ...huffffft, jika tidak seperti itu kita pasti akan dihukum lagi, katamu kita harus mengandalkan diri sendiri! "


"Ha????, ya ya ya kau benar!" Tania merasa konyol dengan sahabatnya.


Mereka segera menyelesaikan hukuman dan segera kembali beristirahat.


keesokannya...


seperti biasa mereka mengikuti apel pagi dengan tertib .


jam istirahat sebelum apel siang...


" mana, aku dari tadi tidak melihat ayahmu..."


" itu bagus, kita makan saja waktu istirahat kita tidak banyak!"


mereka pun makan dengan tertib tanpa membuang waktu.


" Komandan, kenapa ke sini?"


" itu ayahmu!" Suzy memberitahu Tantan.


"brrrrrrrrr!" Tania menyemburkan makannya ke wajah Suzy karna terkejut.


" Tantan kau jorok sekali!!!" Teriak Suzy kesal.


Dan membuat semua orang memperhatikan mereka.


Suzy dan Tania segera memakai maskernya kembali dengan sigap.


Jendral Petter yang berada dibelakang ayah Tantan menepuk jidatnya.


bisakah kalian tidak menimbulkan masalah sehari saja?


dalam hati Jendral Petter.


"maafkan atas kegaduhan yang terjadi komandan, saya akan mendisiplinkan mereka!" ujar Petter.


"tunggu, tadi anak itu memanggil siapa? Tantan?" tanya Hatta Latif yang mendengar nama putrinya.


" kau benar-benar membawa masalah suzy!" ujar Tania lirih.


" maaf ,maaf, maaf!" Suzy merasa bersalah.


"Komandan, para petinggi sudah datang!"


ujar anak buah Hatta Latif.


Hatta Latif menghentikan langkahnya dan berbalik, pergi .


Tania dan Suzy merasa kakinya sangat lemas dsn terduduk.


" Hampir, hampir, hampir aku hampir ketahuan!" ujar Tania merasa lega.


" Tania maafkan aku selalu membawa masalah untukmu!"


" sudahlah Suzy, Jangan dibahas lagi ,itu tadi terlalu menakutkan!, untuk sementara kita aman, semoga saja ayahku melupakan kejadian ini!"


" iya, paman orang yang sangat jeli!"


" sudahlah kita siap - siap untuk apel siang! "


mereka pun bersiap-siap untuk menyelesaikan apelnya.


" Komandan, apa yang anda risaukan?" ujar Anak buah Hatta Latif bertanya.


" apa kau memperhatikan 2 anak didik tadi?"


" oh dua wanita yang memakai masker tadi?"


" Ya!"


" apakah ada yang salah dengan mereka berdua?"


" Aku mendengar salah satu dari mereka menyebut nama Tantan!"


" maksud komandan, salah satu dari mereka adalah putri komandan?, nona Tantan?"

__ADS_1


" Selidiki mereka berdua, aku merasa postur tubuh itu seperti Tania!"


"Laksanakan komandan!"


Aku yakin jika itu seperti putriku...


dalam hati Latif meyakini .


Apel siang pun telah usai, Tania dan Suzy kembali ke paviliun Leon Zang.


"astaga, aku hampir ke tahuan oleh ayahku!"


" Jika sampai ketahuan, kau pasti akan di kirim lagi luar negeri!"


" mmmm, Jika aku sampai dikirim lagi keluar negeri aku malah akan menjadi tentara sungguhan di sana!" ujar Tania kesal.


" Kau tidak ada habisnya melawan ayahmu!, bagaimana pun dia tetaplah ayahmu Tantan"


" aku tahu, di kartu keluarga juga sudah jelas dia ayahku!"


"Hisss kau menyebalkan sekali!"


Di sisi lain...


"Jadi apa yang kau tahu?" ujar Hatta Latif


" Mmmm, mereka tidak terdaftar anak didik tahun ini!"


"apa ?"


" Mereka adalah orang bawa'an panglima dan tinggal di paviliun panglima!"


" Lalu identitas mereka apakah kamu tidak mendapatkannya?"


" saya sudah berusaha, namun saya tidak mendapatkannya!"


" Apa Rencana panglima, menyembunyikan 2 wanita di paviliunnya?, bukankah Panglima sedang bertugas?"


"Tidak ada yang berani, menginjakan kakinya dipaviliun panglima Komandan!"


" Dia memang seorang Panglima Perang, benar-benar tidak ada yang berani mengusiknya!, Kita ke paviliunnya sekarang!" ujar Hatta Latif.


Hatta Latif sangat penasaran dengan 2 anak didik tadi, dan segera berjalan menuju paviliun panglima.


Tok tok tok


tok tok tok


Pintu pun terbuka,


" Loeh Jendral, apa yang anda lakukan di paviliun Panglima!"


" saya sedang wawancara dengan mereka!" Jendral memperlihatkan 2 wanita yang tidak dikenalnya duduk di sofa dengan membawa buku catatan ditangannya , dan tersenyum mengangguk pada Hatta Latif.


" Wawancara?"


" Benar komandan, mereka mendapat tugas untuk makalahnya tentang kegiatan TNI di asrama, mereka juga ikut berlartih juga!"


" Owh, seperti itu! kalau begitu maaf mengganggu anda!"


"ah, tidak apa-apa komandan, lalu apa yang membawa komandan kemari?" tanya balik Jendral Petter.


" Tidak ada, kalau begitu saya tidak mengganggu waktu anda!"


Hatta Latif segera pergi meninggalkan kediaman panglima.


Sial 2 trouble maker itu, melibatkan aku dalam kebohongan besar, astaga berbohong itu sangat menakutkan dari perang...


dalam hati Jendral Petter.


Bersambung...


Author


jangan lupa like dan komenya


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2