
" Aku akan beberes, lalu kita ke sana dengan alasan mencari 201...!"
" oke...!"
Setelah selesai merapikan kembali peralatannya, Zero dan Nisa mulai memasuki permukiman sederhana itu, ya rumah itu hanya terbuat dari bahan-bahan seadanya di hutan, mungkin itu jika tertiup angin ****** beliung akan roboh.
Baru menginjak satu kaki di gapura yang seperti terbuat dari akar-akar pohon, keduanya sudah di hadang oleh 3 pria berbadan tegap dengan kulit coklat yang sangat eksotis ada coretan warna putih di lengan kanan dan kirinya sambil menodongkan tombak.
Zero menggunakan bahasa isyarat tangan, bahwa dia sedang mencari anjiingnya .
Namun mereka semakin memajukan tombak itu di bagian leher Zero dan Nisa.
Zero mundur sedikit lalu mengambil ranting dan menggambar seekor anyingg,
setelah itu dia menunjuk matanya, dan lalu menunjuk ke gambar anyingnya.
untunglah ketiga orang itu paham, kemudian Zero melanjutkan penjelasannya dengan gambar, mereka langsung paham, namun mereka meminta Zero dan Nisa menunggu
Tak lama keluarlah kepala sukunya, lalu menyambut kedua orang itu dengan baik.
mereka pun di ajak masuk ke permukiman itu, semua mata tertuju pada Zero dan juga Nisa
Karena kulit mereka paling Cerah sendiri.
Zero mencoba mempelajari bahasa mereka dengan mengamati interaksi mereka, tidak sulit bagi Zero karena dia juga sama seperti mereka meski berbeda bahasa, namun semua memberikan gerakan tubuh yang sama.
Satu hari tinggal di sana , Zero sudah menguasai sedikit bahasa, Zero mencoba berbincang Kepada kepala sukunyaz dan menceritakan semua maksudnya bisa sampai di sini.
Yang Zero tangkap dari jawaban kepala sukunya , dia mengatakan, tidak hanya sukunya yang tinggal di tempat ini, namun ada 3 suku mereka tidak akrab satu sama lain, mereka memiliki dunia dan batasan sendiri.
" Di sana ada satu suku, mereka seperti penyihir , memiliki alat perang yang diluar nalar !" Kepal suku ini memperagakan alat seperti apa itu dan bagaimana alat itu digunakan
setelah di praktekkan, Zero paham jika itu adalah senjata api.
" Suku itu tinggal di mana??"
Kepala suku itu menunjuk arah Utara,
Zero mengangguk paham, Lalu Zero menanyakan keberadaan anjingnya.
Dan kepala suku meminta seseorang untuk membawa 201 pada Zero.
" Ehmmm...201 kau hebat!" sebagai imbalannya Zero memberikan snack pada khusus anying yang dia bawa .
kemudian Zero segera berpamitan, meninggalkan suku yang cukup ramah itu, dia menuju ke arah di mana kepala suku itu tunjuk.
" Apa kau lelah??"
" Lumayan kak...!"
__ADS_1
" Ya, saat melakukan misi...tidak ada kata istirahat, berbeda dengan latihan!"
" Saya mengerti!"
" Bagus...!"
" Oh kakak.... bolehkah aku bertanya??"
" Boleh... katakan??"
" Kenapa Panglima terus mengulur untuk membuat perhitungan dengan orang - orang biadab itu?, bukankah Panglima bisa langsung menghabisi mereka??"
" Ehmm, Panglima bukan tipe orang yang meredam masalah, tapi menumpas habis ke akarnya...!"
" bukankah semua sudah cukup kuat untuk membalik keadaan??"
" semua tidak sesederhana yang kau pikirkan Nis...!"
"Panglima slalu memakai strategi, dan syarat utama untuk mengatur strategi adalah tidak terburu-buru, dia harus mempertimbangkan beberapa hal, yang pertama adalah jika strateginya tidak tembus, dia harus memiliki strategi lebih dari 7, dan setiap strategi yang di atur dia harus menimbang dampak, dan harus bisa menanggung konsekuensinya, sederhananya seperti menggoreng telur ceplok saja, kau harus memastikan tempat penggorengannya tidak lengket, kau juga harus tahu kapan saatnya telur itu dibalik agar tidak gosong dan pecah, jika kau hanya asal balik saja kemungkinan besar dia tidak akan menjadi telur ceplok mata satu kan??, dan kau harus menerima resiko terpercik minyak panas, padahal itu sepele tapi cukup menyakitkan saat butiran kecil minyak panas itu mengenai tanganmu,kau harus siap dan sigap untuk menghindar atau bertahan karna ledakan dari telur itu tidak pernah terprediksi kapan dia akan memberikan letupan kecil atau mungkin bisa saja besar...!"
" Hihihi...kakak aku sekarang mengerti!"
" Apa yang kau tertawakan jika kau mengerti??"
" Aku sangat kagum pada kakak, perumpamaan itu sangat mudah aku cerna...!"
" Bagus, setidaknya otakmu masih berfungsi dengan baik...!"
" Hem...aku senang karena kau mau bangkit dan menjadi kuat, tidak semua orang bisa berada di posisimu...saat kau memohon untuk menolongmu, aku cukup terkesan!"
Sementara pipi Nisa memerah mendapatkan pujian dari Zero.
" Kau kenapa,?, apa kau sakit???"
" Tidak - tidak !" Langsung menjaga jarak pada Zero.
mereka masih setia mengikuti 201 yang sibuk dengan penciuman .
...----------------...
Bascampe Zero.
Petter sudah kembali tepat pada waktunya,
Dia tiba tepat waktu.
" Panglima ....!"
terlihat Petter berkaca-kaca, bibirnya bergetar entah apa yang ingin dia sampaikan namun tak bisa keluar dari bibirnya.
__ADS_1
" Apa Jenderal??? ada apa??" Panglima yang melihat gelagat melow yang tidak pernah tampak pada wajahnya menjadi khawatir.
akhirnya Dex menimpali untuk mewakili Petter menyampaikan apa yang ingin di sampaikan.
" Panglima, sepertinya Jenderal ingi berbagi kebahagiaannya pada anda, benar begitu kan Jenderal???"
Petter mengangguk, dan air matanya mengalir tanpa suara.
" What???" Panglima semakin penasaran
" Jenderal sudah menjadi seorang ayah!" Dex melanjutkan
" Hei kau tidak bercanda??" Panglima segera memeluk Petter, dan menepuk punggung Petter bangga.
" Aku ikut senang, syukurlah...mereka sehat kan istri dan anakmu??, boy or girl???"
" Sehat, dia laki-laki!" jawabnya sedikit penuh tekanan, ya dia sebenarnya sangat ingin menangis saat melihat putranya itu, itu sungguh mengharukan, karena dia saat kembali tiba-tiba sudah menjadi papa, namun Petter menahannya, dan dia hanya akan lega jika sudah berbagi kabar bahagia itu pada sahabatnya sehidup sepingsan itu, yaitu Leon.
" Wah, hebat...siapa namanya??"
" Barata Narasimha..."
" Aku tahu artinya, Pria terbaik Sekuat Singa!"
" Benar, Panglima kau juga akan menjadi ayah, apa kau sudah menyiapkan nama untuk anakmu??"
" Aku tidak tahu, dia laki-laki atau perempuan, jadi aku belum menyiapkan nama untuknya!"
" siapkan 2 nama sekalian, aku sempat berpikir lama, saat bertemu dengan istriku langsung diminta untuk memberikan nama!"
" Baiklah nanti akan ku pikirkan, kalau begitu seperti apa putramu??"
" Dex mana tunjukan pada Panglima!"
Dex segera menunjukkan foto Bara pada Panglima.
" hahah...Bara sangat mirip denganmu!"
" Tentu saja itu anakku, aku juga tidak sabar ingin melihat anakmu, jika dia perempuan jodohkan saja, tapi jika laki-laki biarkan mereka menjalin persahabatan seperti kita!"
" Ah, tidak ada perjodohan...mereka akan menentukan pilihannya sendiri!" tegas Leon dia tidak ingin anaknya seperti dirinya.
" Benar juga, kalau begitu biarkan mereka tumbuh bersama....!"
" Itu jelas...!"
" hemmm..." Petter terus tersenyum, entah kenapa saat dirinya bergelar Ayah itu rasanya 1000% lebih membanggakan dari gelar seorang Jenderal.
"Petter istirahatlah, besok kita akan mulai muncul di depan publik, setelah itu kita akan muncul bersama dan mengundang wartawan!"
__ADS_1
" Baiklah, aku istirahat dulu...." Petter pun segera menuju camp istirahanya begitu juga dengan Dex dan juga Panglima.