DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
239. Janji seumur hidup


__ADS_3

Zero pun tiba di basecampnya.


anak buahnya memberi hormat pada Zero yang baru tiba, dia ingin masuk dan membersihkan tubuhnya lebih dulu baru menemui Nisa, yang sekarang akan menjadi tanggung jawabnya.


setelah selesai mandi ,Zero berjalan menuju Paviliun Yang ditempati Nisa dan Grey, zero ingin melihat bayi laki-laki yang dirawat Nisa, namun tidak ada siapapun.


" Di mana Grey??" tanya Zero pada penjaga


"Grey, mendadak sakit kemarin tuan!"


Zero segera berlari menuju bangunan, besar di bascampnya, ya itu rumah sakit di basecamp Zero.


" Zero..." Ria memanggil


" Nona... bagaimana keadaan Grey??"


" Sudah membaik, dia ada di ruang perawatan, Grey baik kok, kau seharusnya melihat Nisa lebih dulu, dia sudah sadarkan diri, tapi tidak mau berbicara sama sekali!"


mata Zero langsung berkaca-kaca,


" Ehmmm, dia butuh seseorang untuk mensuportnya!"


" Nona saya akan ke ruangan Nisa,tolong jaga Grey...!"


" Ya, tenanglah untuk urusan Grey!, Nisa ada di lantai 4 kamar 37!"


Zero mengangguk dan segera pergi ke ruangan Nisa.


nafas Zero terengah-engah sampai di pintu kamar 37, Zero melihat dari kaca pintu, terlihat Nisa meringkuk, memegangi kedua lututnya, pandangannya kosong.


Tok tok tok


Zero mengetuk pintu sebelum membukanya,


Nisa mengabaikan kedatangan Zero.


" Nisa...!"


Tidak ada respon, Zero segera duduk di samping Nisa.


" Nisa, jangan seperti ini, maafkan aku ini karena salahku!"


Nisa hanya membalas tatapan pada Zero dengan mata yang tak memiliki cahaya kehidupan lagi.


" Aku akan bertanggung jawab, sepenuhnya atas hidupmu mulai saat ini, nanti dan sampai aku mati!" Zero memegang tangan mungil itu, Zero tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, untuk menenangkan gadis itu, Karena Zero tidak pernah berurusan dengan wanita.


Nisa menarik tangannya, dan menggelengkan kepalanya.


" Nisa, kau tidak bisa seperti ini, bukankah kau ingin balas dendam?, kau juga sudah berjanji pada Grey bukan??, aku tahu itu cukup menyakitkanmu, apa kau akan mundur??"


" hiks hiks hiks....hiks hikshiks...hikshikshiks..." Nisa menangis sesenggukan


" Menangislah...jangan ditahan...kau harus mengeluarkan semuanya!"


Nisa pun menjerit cukup keras, dan menangis terisak-isak, hingga wajahnya memerah.


Zero membelai kepala Nisa lembut,


" Anak pintar, menangislah sampai puas...!"


" Hiks hiks, kakak...Nisa sudah kotor, huhuhuh, kakak Nisa sudah menjadi ******!"


" Jangan mengatakan hal bodoh itu, kau adalah gadis baik di mataku...!"


" Huhuhuhu, mana ada gadis baik di gili...."


" Ssssssssttttt ...." meletakkan telunjuknya pada bibir pink muda yang sedikit pucat .


" Jangan lanjutkan!, lupakan...aku akan menjagamu !"


" Hiks hiks hiks..."


" Kau bisa membunuhku jika itu membuatmu bisa meluapkan kekesalanmu, karena aku kau menjadi seperti ini...maafkan aku!"


" Kakak aku tidak menyalahkanmu!"


" Sungguh??, ehm...kau harus ingat janjimu kau akan membunuh mereka kan??, membalaskan dendammu dan Grey, jangan lemah...mulai detik ini hidupku akan ku serahkan untukmu... apapun yang terjadi aku akan slalu disampingmu dan juga Grey!"

__ADS_1


" Kakak..." Nisa merasa tersentuh dengan ucapan Zero , padahal selama ini Zero sangat cuek padannya.


" apa??"


menjawab dengan lembut.


" Terimakasih!"


" Untuk apa?, aku membuatmu menderita, aku bukan orang yang patut mendapatkan kata itu darimu!"


" hiks hiks, kakak bantu aku menjadi lebih kuat lagi!"


" Iya, tapi kau harus sembuh dulu, makan yang banyak dan minum obatnya teratur!"


" Kakak, apa Panglima menghukum kakak??"


" Iya,....!"


" Maaf!"


" Untuk apa??, hukumanku adalah menanggung hidupmu, itu hukuman dari Panglima!"


" Apa??, menanggung??, apa aku akan menjadi saudara angkat kakak??" Zero tersenyum tipis


" Aku tidak butuh saudara, aku butuh pendamping hidup!"


" Apa??" Wajah Nisa memerah.


" Sudah istirahatlah...cepat membaik Grey membutuhkanmu!, nanti aku datang lagi ke sini!"


" Ehmm...."


Nisa mengangguk


Zero keluar dari ruangan Nisa, sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang,


"Kenapa rasanya seperti naik tornado, ini lebih mendebarkan!"


Zero berusaha mengatur nafasnya.


...----------------...


Namun saat ini Panglima, jimmie, dan Hatta sedang berbincang serius di dalam ruangan.


" Ajudan itu akan segera di eksekusi, aku sudah tidak punya cara lagi untuk mengulur waktu, karena semua orang ku sudah habis di kejaksaan!"


ujar Panglima.


" Paman apa kau tidak mau mengambil kursi itu??"tanya Jimmie


Hatta menghela nafas panjang...


" aku tidak bisa memimpin!"


" Ayah, rebutlah kursi itu, Jimmie akan berada dibelakangmu, jadikan Jimmie kaki tanganmu!"


" lah kok aku??" Jimmie ikut terkejut, dia tidak suka terikat.


" Kau , Jack dan juga Dex akan mengawal ayah menguatkan posisinya, kalian kan warga sipil tidak akan terlalu mencolok, kalian juga bisa menggunakan identitas baru!"


" tapi aku tidak suka terikat!" ujar Jimmie


" Jika kami ikut bergabung dalam urusan kursi itu, itu akan sangat mencolok, Jendral sudah melakukan tugasnya, setelah itu aku dan Jenderal akan kembali fokus di posisi kami , kau dan anak buahmu akan membantu menyortir dan menekan para tikus bau yang berada di bagan teratas sampai bawah!"


" Berat sekali!" Keluh Jimmie.


" aku tidak menerima penolakan, maaf Ayah dan Jimmie...aku memaksa!" tegas Panglima memasang wajah tanpa toleransi.


seketika ruangan itu hening, hanya hembusan nafas berat yang keluar dari ketiganya.


Tok tok tok...


" Masuk...!"


" Sayang, kenapa kau repot membawa itu?"


" Suamiku, kalian pasti sedang panas aku membuat, brownies dan es kelapa muda agar kalian lebih dingin dalam mengatur rencana!"

__ADS_1


" Terimakasih sayangku...!"


" Sama-sama, aku kembali dulu!" Saat akan melangkah


" Tantan...!"


" Oh, iya ayah??"


" Bolehkah ayah meminta pendapatmu??"


" Apa ayah??" berbalik dan mendekat pada ayahnya.


" Apakah, ayah bisa menempati kursi itu nak??, bagaimana pendapatmu!"


" Ayah bukankah kita sudah membicarakannya??"


"Aku ingin kau meyakinkanku nak!"


"Ayah, kau pasti bisa...!!"


" Abang Jimmie...!"


Jimmie terkejut mendengar Tantan memanggilnya abang, terdengar seperti adik perempuan yang manja, sangat menggemaskan.


Tantan mendekat pada Jimmie sambil memasang wajah penuh harap, padanya, sangat imut dan lucu.


" Abang...tolong bantu ayahku...abang yang terbaik!"


Rasanya Jimmie sangat ingin mencubit pipi ibu hami itu karena semakin gembul.


" Ehem.." Panglima mengode untuk Jimmie menjaga pandangannya.


" ah, baiklah paman, aku akan membantumu!"


ujar Jimmie menyanggupi.


" Wah, bagus abang dan ayah memang sangat hebat!"


" Jadi deal kan ayah?? Jimmie??" Panglima meyakinkan keduanya


" Deal!" namun hanya Ayah Tantan yang setuju


" Yea...kalau begitu aku pergi dulu!" Tantan pergi Dengan sangat gembira.


Akhirnya rencana suamiku berhasil,dalam hati Tantan lega dapat membujuk ayahnya untuk menjadi pemimpin, urusan Jimmie pasti Suaminya bisa mengurusnya.


Jadi saat tiba dengan Jimmie Panglima langsung mengedipkan matanya pada Tantan sambil melirik mertuanya, Tantan langsung paham dengan maksud Panglima.


"ogggggggggh!"


" Eh, Mikel ada apa?, kau juga mau ikut menjalankan rencana??"


" Ya sudah masuk!"


Tantan membuka pintu dan membiarkan Mikel masuk.


Mikel pun masuk dan membuat mata Jimmie gelisah.


" Leon, anjinggmu kenapa masuk??"


" Mikel, ada apa??" tanya Panglima


Mikel berdiam diri di samping Jimmie, sambil melihat ke arah Jimmie dengan Intens.


Jimmie sudah di ambang ketakutan, karena Jimmie juga pernah di serang oleh Mikel dan hampir kehilangan tangannya.


melihat Mikel menatap tajam pada Jimmie, Panglima pun tahu maksud dari anjinggnya.


" Apa kau ingin memakan Jimmie karna tidak mau membantuku??"


" Apaan kau Leon suruh pergi sana!"


Mikel baru menampilkan bibir tajamnya yang kokoh seakan memberi peringatan pada Jimmie.


" Ah oke deal, kau puas... sekarang menjauh dariku!"


Mikel pun langsung pergi duduk di samping Panglima dengan patuh.

__ADS_1


Panglima tersenyum puas karena menang.


__ADS_2