DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
229. Pria Terbaik Sekuat Singa


__ADS_3

Setelah menempuh waktu yang cukup panjang, akhirnya Jenderal sampai ke negeri konoha, salah tempat keluarganya bersembunyi.


" Masih 2 jam perjalanan masuk ke dalam Jenderal Hutan hunian keluarga anda Jenderal!"


" Seharusnya Panglima membuat akses helikopter!" Petter rasanya ingin terbang agar cepat sampai ke hutan dalam.


" Nanti kita usulkan Pada panglima!"


" Butuhnya sekarang!"


" Itu mustahil Jenderal...!"


" Ya aku tahu, aku akan sabar...!" Jenderal menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku, sambil menghirup dalam-dalam udara yang masih bersih yang belum bercampur dengan nafas orang munafik seperti di perkotaan.


" Istirahat saja Jenderal aku akan membangunkanmu saat sudah tiba..."


" Ehmm " Karena memang begitu cukup lwlah Jenderal pun memejamkan matanya.


Setelah 2 jam menempuh perjalanan ke hutan dalam, mereka pun sampai di gerbang .


" Jenderal....sudah Sampai" Dex menepuk bahu Petter perlahan.


Petter segera bangun dan turun dari mobil, rasanya sungguh tak sabar ingin bertemu istri tercintanya yang sudah serasa berabad-abad tidak bertemu.


" Ah, Jenderal tunggu ...!"


" Apa....?"


" Di sana..." menunjuk gerbang kecil di sisi kanan.


Petter mengikuti Dex ...


" Jenderal di sana tempat tinggal istrimu...!" menunjuk rumah pedalaman di bagian tengah.


Petter berlari sekencang mungkin, hatinya berdebar tak karuan ingin segera melihat sang istri.


saat sudah di depan rumah tengah, Jenderal mengatur nafasnya agar lebih rilek.


Tangan Jenderal Petter mengetuk pintu dari bambu itu.


tok tok tok...


tak lama pintu pun terbuka,


Betapa terkejutnya seseorang yang membuka pintu,


Mata mereka saling menatap, seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


butiran bening itu menetes deras di pipi.


" Su...suu...suuamiku...."


" Sayang..." Jenderal Petter yang sudah berkaca-kaca segera memeluk istrinya sekuat -kuatnya.


" Huhuhuhuhuhuhu....huhuhuhu..." tangis haru itu cukup kencang keluar dari bibir sang istri Jendral.


Petter menciumi seluruh wajah istrinya tak henti-henti...sampai dia tersadar perut istrinya sudah tidak buncit lagi.


" Sayang???" Petter meraba perut istrinya yang sudah rata.


" Hehehehe ...aku... melahirkan Caesar 2 bulan lalu...."


" Apa??? anak kita sudah lahir??"


" Ehmmm ..." Suzy tersenyum bahagia


" Dimana anak kita??"


" Di sini...." Anton yang berada di belakang Petter menggendong cucunya dengan selendang.


Petter segera menghampiri anaknya yang berada di gendongan sang kakek.


" Anakku???"


" Dia laki-laki..." tegas Anton memberitahu anaknya.


" Ah, Putra ku...." Petter segera mengambil alih Putranya dari gendongan ayahnya.


" Siapa nama putra kita??" terlihat jelas wajah Petter benar -benar bahagia , karena sekarang dia sudah menjadi seorang ayah.


" Dia belum ku beri nama, aku menunggu ayahnya yang akan memberikan nama!"

__ADS_1


" Apa? jadi putraku masih noname??"


" Ya, cepat' berikan cucukku nama agar aku bisa memanggilnya dengan benar, selama ini aku memanggilnya Petter kecil...!"


" Jelek sekali" ujar Petter datar.


" Haaaa, namamu memang jelek"


" Ayah kan yang memberikan nama padaku!"


" Ya itu sesuai denganmu yang jelek!"


" Kakak...." Terdengar teriakan dari jauh.


terlihat anak perempuan dan laki-laki saling berpegangan tangan berlari menghampirinya, siapa lagi kalau bukan memei dan Seon yang tidak bisa terpisahkan.


" Oh Memei dan Seon sudah semakin tinggi ya!"


" Tentu saja, aku sekarang hampir setara dengan Seon Kakak" Ujar Mei bangga.


" Hahaha, kakak senang karena kalian baik-baik saja!"


" Tentu ...di sini kami lebih unggul dalam pelajaran...!"


" Bagus...kakak senang mendengarnya...!"


" Hei ...mei ,seon ..ayo cepat kembali ke kelas...!"


" Kakak kami harus lanjut belajar, sampai jumpa nanti!" Memei dan Seon pun segera berlari menghampiri teman yang memanggilnya.


" Petter istirahatlah...ayah mau ke toko kecil ayah...ayah di sini juga bisa berbisnis meskipun hanya kecil-kecilan "


" Oh benarkah??"


" Tentu saja, kau meremehkan ayah??"


" Tentu saja tidak!"


" Dah ayah pergi dulu!"


" Oke ayah...Dex kau juga bisa istirahat..."


Petter pun menggandeng istrinya masuk ke dalam rumah primitif dari bambu itu.


" Sayang, apa kau baik-baik tinggal di sini??"


" Ya, di sini lebih tenang..."


" Apa kau sungguh - sungguh??"


" Ya, apa aku terlihat mengada- ada...??"


" Heheh,kau tidak bisa ke mall, perawatan, jalan-jalan belanja, apa itu tak masalah??"


" Siapa bilang tidak bisa melakukan apa yang kau katakan semua, di sini juga ada tempat perawatan, di sini tidak ada mall namun barang - barang yang di jual justru tidak ada yang sama, seperti pakaian sepatu semua harus pesan dulu baru di buatkan, hihihi"


" Oh benarkah??, apakah keadaan tubuhmu baik-baik saja??"


" Ya, melahirkan Caesar katanya lebih lama sembuhnya dari pada normal..."


" Untunglah di sini juga cukup lengkap peralatan, dan dokternya juga luar biasa!"


" Ya, setelah pulang dari rumah sakit, mereka mengantarkan seseorang ibu paruh baya untuk membantuku dalam semua urusan,dia membuatkan ku obat herbal dan jahitannya dalam 1 bulan sudah menutup sempurna dan bekasnya sedikit samar tidak terlalu kelihatan...!" membuka bajunya menunjukkan pada Petter.


melihat perut istrinya yang masih ramping membuat Petter menelan Savilahnya.


" Sayang, tutup kembali perutmu..."


" Ha???" Suzy menutupi kembali perutnya dengan wajah bingung.


" Kau tidak pernah tahu gejolak batin yang terpendam begitu lama sayang, dari pada nanti kamu kerepotan...!"


" Apa sayang??"


" Tidak, lihat anak kita...kenapa dia sangat mirip denganku???" Petter masih tidak percaya jika dia sekarang adalah seorang ayah.


" Jenderal jika dia mirip tetangga kita, itu akan menjadi masalah bukan??" menggaruk keningnya yang tak gatal.


" Hahahahah, aku sangat bahagia, maaf karena aku tidak bisa menemani perjuanganmu bertaruh nyawa untuk putra kita!"


" Jenderal juga sedang berjuang, dan itu untuk ribuan nyawa, kami tidak akan menyalahkan seorang ayah yang hebat seperti mu!" Suzy memeluk tubuh suaminya beserta anak dalam dekapan Petter.

__ADS_1


" Terimakasih karena sudah mengerti!"


Cup...


melabuhkan kecupan pada pucuk kepala istrinya


" Suamiku??"


" ehmmm"


" Jadi siapa nama anak kita??"


" Barata Narasimha "


" Apa itu artinya??"


" Pria terbaik sekuat singa"


" woooo....jadi Bara panggilannya ???"


" iyalah masak rata....?"


" Hihihihihi...." Suzy terkikik bahagia karena akhirnya keluarga kecilnya berkumpul kembali.


Petter masih terus menimang Putranya yang masih lelap dalam dekapannya.


" apa dia sangat Hobby tidur seperti mamanya??"


" Iya dia hanya menyusu tidur, pup, buang air kecil menangis..."


" Memangnya waktu bayi kau tidak begitu??"


" Tidak aku waktu lahir langsung ke mall"


" Hahahaha... dasar, lihat mamamu itu...jangan sepertinya yang suka ngambek dan terkadang mengomel tiada henti..."


" Jangan seperti papa nak, sangat kaku dan tidak pekaan"


" Hahahahaha" sepasang orang tua baru itu tertawa begitu bahagia.


" Dia kebo sekali, padahal kita tertawa begitu keras dia tidak terbangun...!"


" Hihihi...iya ya ..sudah turunkan Bara, aku juga ingin di peluk...!" pinta Suzy


" Tidak mau, aku mau menggendong Bara sampai puas...!"


" Huhuhu...kau tidak boleh pilih kasih Jenderal...jika tidak ada aku, maka tidak ada bara...!"


Petter segera meletakkan putranya pada box bayi, dan segera menarik istrinya dalam pelukannya.


" Apakah setelah 2 bulan melahirkan, ayahnya bisa meminta jatah??" tanya Petter to the point.


" kata dokter boleh berhubungan setelah 4 atau 6 Minggu setelah melahirkan...!"


" Oh berarti sudah boleh dong kan sudah 2 bulan itu artinya sudah 8 minggu kan???"


" Ya...!"


" Kenapa istriku sampai melahirkan Caesar???"


" Bara terlilit tali pusar, dia sangat aktiv saat dalam kandungan!"


" Oh Jelas sepertinya dia sangat tidak sabar untuk bermain tembak-tembakan..."


" Ya, mungkin dia akan menjadi seperti ayahnya kelak...!"


" Menjadi apapun siapapun asalkan itu pilihannya sendiri, selagi itu baik kita harus tetap mendukungnya!"


" Setuju...."


" Kalau begitu sekarang ayah Bara juga ingin main tembak-tembakan, melawan ibu Bara, apakah ibu Bara siap??"


" Hihihi...Siap ndan!" Tegas Suzy...


Dan pertempuran panas pun terjadi Antara ibu Bara dan Ayah Bara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lanjut ngakk???


tinggalkan komentar dan likenya dulu juragan...

__ADS_1


__ADS_2