DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
231.Namanya juga Anying


__ADS_3

Nisa mengambil kain kecil dan menempelkan pada hidung si Anjiing pelacak


" Tuan ..."


" Panggil kakak saja..."


" Itu ...tidak mungkin..."


" Apanya yang tidak mungkin?? aku juga hanya seorang bawahan, tidak nyaman di panggil Tuan, kakak, panggil kakak!"


" kakak, ini sepertinya aku mengenali kain apa ini..."


" Sudahlah itu tidak penting...kita ikuti terus si 201" ya itu sebutan urut anjiing militer yang di bawanya.


" Oh, ya..."


ini seperti kain yang di dalamnya ada spon itu sama seperti braa bukan?


dalam hati Nisa.


Dia melihat ke arah Zero dengan pikiran yang menerka-nerka.


Zero sangat tidak nyaman dengan pandangan Nisa padanya.


" Fokus, atau aku tidak akan mendidikmu!"


" Oh ya!" Nisa memasukan bra yang sudah menjadi kain perca itu ke dalam sakunya, dia harus lebih kuat lagi, dia harus membunuh orang - orang yang sudah membantai keluarganya.


tangan mungilnya mengepal erat, dan sepertinya 201 menemukan sesuatu, karena larinya semakin Brutal .


" Lepaskan!"


tegas Zero.


Nisa segera melepaskan tali yang di pegangnya dengan larian cukup kencang 201 satu memasuki semak-semak.


Nisa dan Zero segera mengikuti dengan menambah kecepatannya dalam berlari.


" Berhenti!"


Nisa dan zero menekan kakinya agar terhenti.


" Apa Tuan??"


" Kita tidak boleh gegabah, kita tidak pasti tahu apa yang terjadi di balik semak ini!"


Nisa mengangguk paham, matanya menelusuri semak mencari celah agar bisa mencari ada apa di balik semak itu.


Mata Zero dan Nisa sangat fokus mencari sesuatu di celah-celah, namun setelah menemukan celah keduanya terkejut dengan apa yang di lihatnya.


mata mereka seperti akan keluar dari tempatnya.

__ADS_1


" Anjiiing sialan!" Zero sangat kesal saat ,mengharapkan sesuatu hal besar malah justru dia mendapati 201 sedang ***** ***** dengan seekor anjiing liar , yang sejenis dengan 201 , ya jenisnya adalah anjiing Ajak atau Cuon alpinus, Zero mengambil jenis Ajak ini karena mereka adalah penghuni pegunungan dan hutan, Dalam kemiliteran memang memiliki banyak jenis anjjing yang dilatih, sesuai dengan habitatnya, itu untuk memudahkan para prajurit dengan bantuan si Anyiiing.


Ya namanya juga anying, dia tidak bisa profesional ketika melihat lawan jenis cukup menggoda.


" sudah jangan kau lihat...!" Zero membalikan badan Nisa mereka duduk di dekat semak menunggu dua sejoli yang jatuh cinta pada pandangan pertama sedang memadu hasrat liar kehewanannya.


" Wah, 201 sangat prima!" gumam Nisa


" Kau masih kecil apa kau tahu dengan ucapanmu??"


"Itu bukankah ada dalam pelajaran biologi, aku tahu itu, seharusnya itu bukan hal tabu!"


Zero mengangguk membenarkan, apalagi dia adalah anying.


" Tapi tuan, eh kakak...anjing itu seperti bukan anjing liar!" ujar Nisa


Zero kenapa tidak berpikir hal sama dengan Nisa dia kembali melihat di balik celah memperhatikan anying yang sedang menggonggong-gonggong syahdu, benar saja anying itu memiliki kalung tipis di lehernya.


" Benar, dia memiliki tuan...!"


" Apa kita sedang dalam bahaya??"


" Nisa...cepat cari pohon tertinggi, lihat keadaan sekitar!"


Dan jawaban Nisa melangkah dengan kaki ringan dia tahu pohon yang cukup tinggi, yang sudah dilewatinya tadi, karena latihan fisik berlari dan memanjat itu sudah dia kuasai,jadi tidak sulit untuknya melakukan perintah kecil dari Zero.


Karena badanya cukup mungil, dia sangat lincah memanjat bagaikan simpanse dengan tumpuan kuat di kaki dan genggaman erat di jari-jari mungilnya, tidak butuh waktu lama ,Nisa sudah berdiri tegak di cabang ranting besar dan tertinggi karena di pucuk.


Dia bertugas mengawasi, maka dia juga membawa teropong canggih pemberian Zero untuknya.


" Oh, sepertinya itu tempat tinggal suatu suku di hutan ini, karena semuanya premitif!"


tanpa Nisa sadari ada seekor ular yang sedang mengamati gerak - geriknya.


slepppp...


Ular itu terpenggal tanpa aba-aba.


" Kau tidak bisa fokus pada satu titik , tubuhmu pendengaranmu, Semua indra pada tubuhmu harus kau gunakan, jika tidak kau akan mati konyol...!"


" Kakak, maaf..."


" untuk apa, kau kan membahayakan tubuhmu sendiri,bukan tubuhku...!"


" apa yang kau lihat cepat turun...kau saja tidak tahu jika aku memanjat, bagaimana jika itu musuh, kau sangat ceroboh!"


Nisa tertunduk merasa down, selama ini dia merasa sudah cukup kuat, tapi ternyata tidak seperti yang dia rasakan, saat menjalankan misi berbeda dengan latihan.


" Cepat turun!"


Nisa pun turun perlahan, semangatnya mengendor, tinggal satu pijakan lagi dia akan segera lompat ke tanah namun dia tidak fokus, dan membuatnya tergelincir jatuh .

__ADS_1


buk.....


" Kakak, terimakasih!"


Zero menangkap tubuh mungil itu dengan tepat .


" Hemm...kau masih sangat lemah...!"


" Sepertinya aku memang tidak berguna!"


" Dan tetaplah menjadi tidak berguna...!" Zero menurunkan Nisa dan berjalan mendekati 201 yang sudah lega dengan pelepasan - pelepasan nafsu hewaninya.


" 201, di mana pasanganmu??"


tanya Zero pada 201.


Namun 201 seakan tidak menanggapinya, dia hanya menjiat-jilati salah satu kaki depannya seakan kenyang makan sesuatu.


" Nisa apa yang kau dapatkan??"


" Kakak, di sana ada hunian primitif, ada sekitar 20an rumah...!"


" Sekarang biarkan 201 yang bekerja!" Zero melepas kalung rantai pada 201 dan memakaikan kamera yang amat kecil di leher dan bagian paha belakang 201.


" 201, jadilah anjing Liar kau harus melihat setiap sudutnya dengan jelas!" perintah Zero.


Dengan segera 201 bergegas pergi


Zero mencari tempat aman, untuknya menggunakan peralatan canggihnya .


" gunakan semua panca Indramu saat berjalan!"


" Iya kak...!" mereka berjalan cukup jauh dan setelah mendapat tempat aman dan tersembunyi, Zero segera mengeluarkan peralatan canggihnya, dari tab yang bisa dilipat - lipat menjadi kecil, lalu mengeluarkan alat penangkap signal hutan.


dia segera mengaitkan tabnya dengan kode kamera yang ada pada tubuh. 201.


sementara Nisa bertugas menjaga keamanan Zero entah itu dari hewan liar, buas atau musuh tersembunyi.


agar Zero bisa fokus dengan baik, setelah semuanya stabil, akhirnya Zero dapat melihat dengan jelas tempat permukiman primitif itu, namun semua terlihat alami, tidak ada yang mencurigakan, tidak ada peralatan modern sama sekali.


Semua orang menggunakan baju alakadarnya, dan semua terlihat sibuk dengan aktivitas yang sangat monoton.


" Kakak, apa ada sesuatu??"


" Semua terlihat normal, sepertinya anyiing tadi peliharaan mereka, sepertinya memang tidak ada petunjuk di sana, kita coba saja ke tempat lain!"


" tapi Kakak, bukankah... tempat yang seperti itu adalah tempat persembunyian yang terbaik???"


Apa yang dikatakan Nisa juga tidak salah,


" Tapi, sepertinya kita tidak bisa datang begitu saja, suku pedalaman mungkin tidak mudah menerima orang asing ...!"

__ADS_1


" Bagaimana kita tahu kalau tidak mencoba??"


Zero tersenyum melihat anak didiknya cukup tanggap, dan sedikit ada perkembangan.


__ADS_2