
Mereka masih sibuk bermesraan seperti gaya berpacaran anak - anak SMA,
Nonton, jalan - jalan, berbelanja, makan ya gitu deh, Panglima menuruti semua kemauan sang istri.
Nah kedua pasangan ini sengaja banget gitu menyamar dan mengunjungi Xian - xian di Penjara,
" Kakalian???" Xian - xian langsung naik darah melihat Panglima dan Tantan bergandengan tangan seakan tak terpisahkan.
" Xian bagaimana kabarmu?" Tanya Tantan santai
" Kalian ke sini hanya ingin memamerkan kemesraan kalian!"
" Tidak!" jawab Tania.
" Lalu?"
" Maaf Kak Xian, aku dan Panglima slalu mesra setiap waktu, kau tahu itu kan?, aku ke sini hanya ingin mengingatkan mu, mata di balas mata, gigi dibalas gigi!"
" Apa kau pikir kau mampu?"
ujar Xian yang merasa konyol dengan Tania.
" Tentu saja!"
" Apa karna Panglima memilih mu kau merasa bisa melakukan segalanya?"
" Benar!"
" Kau kira aku tidak bisa membunuhmu?, maka aku akan membunuhmu sekarang!" Xian dengan cepat melempar kursinya ke arah Tania.
Dengan sigap Panglima menangkis dengan tangannya.
" Cukup Xian - xian!, nikmati saat - saat terakhirmu dengan damai!"Tegas Panglima.
Xian - xian baru merasa ketakutan dengan ancaman Panglima, Xian - xian berjalan mundur sambil menangis, tubuhnya gemetaran .
" Jangan, jangan...jangan!" ujar Xian ketakutan.
Panglima segera membawa Tania keluar dari sana.
" Panglima, dia sangat takut padamu?"
" Aku sangat heran kenapa baru sekarang dia merasa ketakutan!"
" Jelas saja, dia tidak memiliki siapapun sekarang , ayahnya juga di penjara ibunya kabur!, dia tidak memiliki apapun sekarang!"
" Apa kau kasihan???"
" Tidak, itu bahkan masih terlalu ringan!"
" Kau sangat pendendam ya rupanya?"
" Panglima tanganmu kuat sekali, tidak ada yang terluka kan?"
" Tidak, jangan khawatir, sekarang kau mau kemana lagi?"
" Oh ya Panglima, di mana Jimmie dan abang - abang ku?"
" Mereka sedang bertugas memperbaiki SDM dan SDA di negara kita!"
" Ah, mereka pasti sangat sibuk!"
" Tentu saja sangat sibuk, kita juga sangat sibuk!"
" Mana ada sibuk, kita sangat santai menikmati hidup!"
" Aku rasa kau slalu bersantai di manapun kau berada!"
__ADS_1
" hehehehe, ya bagaimana ya, aku ini termasuk nyawa yang kembali, aku sudah pernah setengah mati, aku hanya mencoba menikmati kesempatan yang Tuhan berikan padaku, dan ternyata segala sesuatunya jika dinikmati terasa sangat mudah!"
" Aku menyukai jawabanmu, kau memang tidak terbantahkan!"
" Siapa aku ?, Tantan!,heheheh Panglima ayo mengunjungi Ayah ibu dan Seon!"
" Okey!" mereka pun menuju kediaman keluarga Panglima yang baru.
" Apa tidak apa - apa mereka tinggal di rumah yang tidak seluas dikediaman Zang?" tanya Tania yang melihat kediaman keluarga Panglima dengan bangunan yang minimalis namun memiliki halaman yang sangat luas.
" Kau tanyakan saja langsung pada mereka?"
" Lalu bagaimana dengan Kediaman Zang?"
" Hmmm...Dijuallah kan hanya kediaman itu yang tersisa dijuallah, dan membeli rumah ini dan jauh dari kediaman pertama!"
" Oh sayang sekali!, aku sangat menyukai kediaman itu!" Ujar Tantan.
" Nanti jika Bonus ku turun kita beli lagi rumah itu!"
" Sungguh???"
" Tentu saja, ayo masuk!"
" Ibu ,Ayah kami datang !" ujar Panglima.
Namun kediaman itu tidak terlihat ada orang.
" Pintu terbuka, kenapa tidak ada orang?" Panglima bingung.
Panglima dan Tania berjalan lebih dalam memasuki ruangan.
" Sayang awas!!!"
Panglima dengan bergegas mendorong istrinya Ke tembok.
" Kau tidak apa - apa?"
" Bagaimana bisa pisau ini bisa menembus plafon rumah??"
ujar Tania bingung.
Tak lama terdengar langkah kaki dari atas plafon, Panglima menarik Tania untuk bersembunyi di samping lemari dan melihat situasi.
Tak lama dari sudut pojok ruangan ada seseorang turun menggunakan tali dari lubang atap.
Panglima dengan Sigap melompat mengambil pisau dan sudah berdiri dibelakang Pria itu sambil. menekankan Pisau di pinggang pria itu.
" Katakan apa niatmu?"
Pria itu terkejut dan segera mengangkat tangan.
" Aku tidak memiliki motif apapun, aku hanya sedang membetulkan atap yang bocor saja di rumahku!"
" Apa???" Panglima segera membalikan tubuh Pria itu
" Ayah????"
Plokkkkkk
" Dasar anak nakal , bisa - bisanya kau mau membunuh ayahmu!" memukul kepala Panglima sangat kesal.
" Mana ku tahu itu ayah!" Panglima membuang pisaunya!"
" Ayah!!!" Tania keluar dari persembunyianya.
" Aduh anakku, kau lihat anakku sendiri mau membunuh ayahnya!" mengadu pada Tantan.
__ADS_1
" Ayah apa yang kau lakukan di atas membawa Pisau??" tanya Tania.
" Tahu ayah ini ada - ada saja!"
" Atap rumah kami bocor, aku mencoba memperbaikinya!"
" Dengan Pisau??"Tania kebingungan.
" ini untuk memotong perekat ini!" memujukan pada Tantan.
" Oh, lalu pisau ayah Jatuh?"
" Ya, siapa tahu kualitas bangunan ini sangat buruk, pisau dapur saja bisa menembus Plafon ini!"
" Aihh Ayah kau hampir melukai menantumu!" Ujar Panglima.
" Sungguh maafkan ayah, nak..sungguh ayah tidak bermaksud ,dibagian mana yang terluka?"
Huan menjadi khawatir.
" Tidak ada ayah, putramu sangat sigap dalam menjaga menantumu ini, ayah, bagaimana bisa membeli rumah ini?"
" Ah, iya Ayah sangat tertarik dengan lahan di sini sangat luas, jika dan lokasi ini cukup strategi, untuk membangun sebuah usaha di masa depan!"
" Oh ya???"
" Hmmm, meski masih terpencil, lihat di sana akan di bangun rumah sakit dan sebuah universitas kedokteran, ayah langsung membeli rumah ini karna memiliki lahan yang sangat luas, untuk usaha nanti di pikirkan lagi, saat ini santai dulu saja!" Ujar Huan Zang.
" Ayah kenapa menolak tinggal di rumahku?"
tanya Huan.
" Ya ayah bukankah putramu banyak rumah?"
" tidak nak itu milikmu, bagaimana bisa ayah merepotkan anaknya, sedangkan ayah tidak pernah memberikan yang terbaik untukmu!"
" Ayah, jangan bicara begitu, itu justru membuat hati Panglima tenang!"
" Justru Leon lah yang tidak pernah membalas Jasa Ayah selama ini, 10 rumah pun juga Itu tidak akan bisa membalas semua kebaikan Ayah pada Leon!"
" Aku berterimakasih untuk niatmu nak, tapi lihatlah ayahmu masih mampu, ayah masih sehat, aku adalah ayah dari seorang Panglima, sangat mudah untukku bangkit kembali jika aku mau nak!"
" Wooooo ayah Huan the best!" uhar Tantan memeluk ayah mertuanya.
" tentu saja, Ayah hanya ingin menikmati saja ketenangan ini, selama ini ayah terlalu sibuk dan tidak ada waktu untuk keluarga ayah, begini juga tidak buruk rasanya!"
" Kami pulang!" Datang lah Maya bersama Seon.
" Eh, pengantin baru kok sudah di sini!"
" Ibu dari mana dengan Seon?" Tanya Tantan.
" Menjemput Seon sekolah dong sayang, kalian sudah lama, aduh rumah kami sangat tidak rapi Anak menantu, seharusnya kabari dulu jika mau datang!"
" Rumah ini sangat hangat karna kita bisa berkumpul di satu ruangan!" ujar Tantan.
" Benar - benar, ayah mu hanya suka diruang bacanya saja itu sangat menyebalkan!" sahut maya setuju dengan Tania.
" Kalian apa nyaman tinggal di sini?" Panglima menanyakan dengan tegas.
" Tentu nak, tenang saja!" jawab Maya.
" Aku akan tenang jika kalian tinggal di kediamanku di utara!, sekolah Seon juga dekat, dari Paviliun ku juga dekat, Besok pindah!, Leon tidak mau tahu, aku ingin dekat dengan kalian!"
Jadi sebenarnya Leon ini tahu jika memang keadaan ekonomi kedua orangtuanya ini memang sedang tidak stabil, padahal ayahnya sudah bangkrut tapi masih membuat acara nikahan dadakan itu buat dia dan Tania, dan juga butik ibunya ini juga mengalami penurunan drastis karna banyaknya kekacauan - kekacauan internal di negara yang membuat, banyak pelanggan membatalkan pesanannya, jadi omset turun drastis akhirnya juga tutup.
tapi orang tua Leon itu nutup - nutupin dari Leon sama Tania, mereka menjual rumah itu sepakat buat acara nikahan Tania sama Leon, ya meskipun mereka tahu kalau Panglima itu pasti mampu, tapi sebagai orang tua ,ya masak diam aja kan, apalagi itu adalah hati kebahagiaan putranya gitu.
__ADS_1
mereka ngumpulin sisa - sisa harta mereka termasuk kediaman Zang itu, buat mencover nikahan Tania sama Panglima dan sisanya buat beli rumah di tempat yang jauh dari perkotaan itu.
Panglima tahu semua pengorbanan orang tuanya itu, tapi dia juga tidak ingin membuat harga diri orang tuanya itu jatuh dong di depan si mantunya Tania ini.