DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
192. Genting


__ADS_3

" Nyonya Panglima meminta semuanya bersembunyi tidak terkecuali ayahmu, dan keluarga Jendral semua jangan tersisa untuk bersembunyi!" Ujar Yesa terburu-buru.


" Apa ini??"


tanya Suzy bingung


" Lagi??, aku sangat lelah seperti ini!" ujar Maya.


"Bibi, ayo kita jangan menunda kita harus bersiap-siap agar tidak merepotkan Panglima dan Jendral!" Ria membujuk bibinya.


" Abang, bagaimana ini??" Tanya Tantan bingung.


" Karena begitu kalian bersiaplah...aku akan mengutus rekan untuk mengurus paman Zang dan Anton !"


Jack menenangkan Tantan.


" Lalu ayahku??"


" Biar aku yang urus!" sahut Dex.


" Baik, aku akan bersiap-siap dengan yang lainnya dulu!"


" Yesa ...kau jaga di sini sampai orang yang memakai lambang ini datang maka kalian boleh segera ikut pada mereka!"


" Bagaimana dengan kau apa yang akan kau lakukan?"


" Aku harus mengabari rekanku yang di negara X untuk mengurus keluarga Suzy!"


" Baiklah...!" Yesa mengerti dengan tugasnya.


Persiapan Panglima membangun Orang - orang di belakang pemerintahan sangat hebat, aku tidak salah memilih pilar, dan aku tidak khawatir dengan kakak ipar dan keponakanku.


dalam hati Yesa lega.


" Yesa, tolong bantu mereka untuk bersiap!"


" Nyonya apa yang ingin kau lakukan?"


" Aku harus memindahkan uangku terlebih dahulu ke akun bank virtual...!'


.


"Nyonya kenapa anda masih sempat memikirkan itu?"


" sudah lakukan apa yang ku pinta, aku akan selesai dengan cepat!"


" Baik!"


Apa yang di pikirkan Nyonya sebenarnya?


dalam hati Yesa keheranan.


Yesa segera membantu yang lain berkemas sampai selesai.


" Kakak ipar apa yang kau lakukan kami sudah selesai!" ujar Ria yang menghanpiri Tantan Yang sedang sibuk di depan layar.


" Bagus, aku sebentar lagi selesai!"


" Kakak ipar, lalu bagaimana dengan orang tuaku??"


Tantan berhenti mengetik, dan melihat ke arah Ria yang terlihat sangat khawatir.


" Aku akan hubungi bang Dex, sekarang kau bergabunglah dengan yang lain!"


" Baik kakak ipar!"


Ria pun menurut agar tidak menyusahkan Tantan yang sedang sibuk dengan urusannya.


" Ah.... selesai...hemmm..semua uangku dan panglima sudah aman...!"


Tantan segera bergabung bersama yang lainnya.


" Tantan apa sudah selesai?"


tanya Suzy.


" Hmmmm, apa belum datang?"


" Itu ada yang datang kalian tetap di dalam...aku akan lihat dulu!"


Yesa segera keluar menghampiri mobil yang berhenti di depan gerbang.


" Siapa kalian?"

__ADS_1


" Kami orang panglima!"


" Mana buktinya?"


menunjukkan lambang yang sama pada Yesa.


" Cepat masuk!"


" Tantan, apa mereka sungguh orang Panglima?" ujar Maya yang merasa aneh dengan orang - orang yang datang .


" Ibu, bawa ini,...Ria bawa ini...dan Suzy...kau harus berada dibelakang Yesa nanti!"


" Bagaimana ini?, aku takut!" ujar Suzy ketakutan.


" Ibu, ....kau satu-satunya yang bisa di andalkan...jika ada serangan tolong tetap tenang, jangan takut semua juga sama, ingat Panglima dan Jendral tidak akan selamat jika kita tidak bisa pergi dari sini hidup-hidup!"


" Aku tidak bisa pakai pistol kakak ipar, aku takut membunuh orang!"


Tantan mendekat dan berbisik pada Ria


" Pistol itu hanya mainan...tembak saja ke arah musuh yang agresif, untuk menakutinya!"


" Sungguh ini mainan??" Tanya Ria.


" Ya benar, jika mereka meresahkan lakukan seakan - akan kau sungguhan menembak!"


" Baik - baik...bagian mana yang harus aku tembak agar dia ketakutan?"


" Hehe, Dokter Ria paling tahu area mana yang paling tepat!"


"Oh ya,jika peluru mengenai arteri brakialis di lengan, satu arteri inguinal bilateral di pangkal paha, atau arteri subklavia di bawah tulang selangka itu lumayan merusak kondisi tubuh, akan terjadi pendarahan yang hebat, oke!"


" Memang bukan dokter kaleng-kaleng, ibu...mari tunjukan pada mereka, wanitanya panglima tidak mudah di tindas!"


" Tentu saja akulah yang Melahirkan seorang Panglima, jangan harap bisa menindasku!"


mereka membuat formasi melingkar yang saling membelakangi.


" Nyonya mereka sudah dat...!"


"angkat tangan!!!" Dibelakang kepala Yesa sudah di todongkan pistol oleh orang yang datang tadi.


" Apa?? kalian bukan orang Panglima??"


" Orang Panglima hahahah... cepat tangkap mereka semua jangan sampai ada yang terlepas!"


3 orang pun mulai mendekat ke arah Tantan dan Yang lainnya.


" Bu, fokus pada orang sebelah kiri, Ria kau yang kanan aku yang tengah, aku Hitung sampai 3 langsung tembak ya!"


" Ha?? sungguh di tembak??bukankah ini pistol mainan?" tanya Ria


" Ya mereka akan kaget saja Ria karna itu bukan peluru sungguhan, tenang saja...kau sudah tahu di mana saja yang harus di tembak!"


" Tahu!"


" 1,2....tembak!'


Doorrrr dorrrr dorrr dorrrr


Ria menembak di bagian yang dia tahu itu sangat tepat.


Dorrrrrrr


Maya menembak sekali tepat di jantung


Yesa segera memanfaatkan kelengahan musuh segera menyiku musuh dibelakangnya dan mematahkan tangan yang memegang senjata sampai senjata itu terjatuh


Yesa segera mengambil dan menembak orang yang tepat ada di depannya dan di depan Tantan.


" doooooorrrr"


"Cepat masuk mobil Yesa dampingi Suzy....!"teriak Tantan


Yesa segera mendampingi Suzy yang sudah gemetaran karna ketakutan.


Sementara Ria masih ngelag...


Loh kok berdarah??


dalam hatinya kebingungan


" Ria cepat masuk!!"

__ADS_1


menarik. Ria yang masih kebingungan, dan terlihat satu orang yang di pukul Yesa akan bangkit Tantan segera menginjak kepala orang itu dengan keras.


" Oh maaf ya Ampun tidak sengaja, kenapa ditengah jalan , jadi keinjakkan?" sambil mengelus perut berjalan menyusul yang lain.


" Yesa ,Yesa cepat kemudikan!"


"Kemana kita nyonya?"


" Jalan dulu ke jalan Raya!"


Tantan sibuk membongkar isi tasnya kemudian dia mengeluarkan beberapa obeng dan tang.


" Tetap jalan!"


Tegas Tantan.


" Apa yang anda lakukan Nyonya?"


" Memutuskan kabel Gps!, kita tetap akan terkejar jika tidak mematikan Gpsnya!"


" Apa tidak adan tombol on offnya?"


" Kau kira ini saklar lampu, tetaplah menyetir jangan hilang fokus!"


" Baik!!"


sementara Tantan sibuk dengan otak - atik, terlihat dibelakang Ria sangat pucat dan Suzy juga masih sangat Syok.


" Ria kau kenapa??"


" Bibi, bukankah itu pistol palsu??, tapi kenapa orang itu berdarah??"


"Jika Tantan tidak begitu ,kau mana sampai hati membunuh orang, kau tidak akan bertentangan dengan sumpahmu sebagai dokter!"


" Apa aku membunuh orang??"


" Tapi kan itu terdesak, itu tidak apa-apa mereka bukan orang baik!"


" Bibi....!" Ria melihat kedua tangannya dengan gemetaran.


" Ria, berhentilah mengacau kau membuatku sulit konsentrasi, jangan sampai aku salah memotong kabel!"


" Benar Ria...kita pikirkan bagaimana kita lepas dari mereka agar tidak menyulitkan Panglima dan Jendral!"


" Yaya, maafkan Ria...!"


Ini darurat , jika tidak kita yang akan mati bukan?


dalam hati Ria


" Oh... syukurlah selesai...!"


" Nyonya kita kemana?" tanya Yesa lagi...


" Kemana?, emmm...apa kau pernah di ajak Zero ke markasnya?"


" Tidak, terakhir Zero mengajakku masuk ke dalam hutan,aku kira di sana cukup aman Nyonya!"


" Ke sana!"


" Baik!"


" Apa kita akan tinggal di hutan??"


" Kita harus bersembunyi ibu, mau bagaimana lagi?"


" Kalau begitu pikirkan cara menghubungi Abang karna kita tidak sempat membawa ponsel!"


" ada Cincin ini nyonya!" memperlihatkan pada Tantan.


" Oh kalau begitu kita akan di temukan, dengan Cincin itu!" Merasa lega.


Tantan melihat ke belakang,


" Suzy apa kau baik-baik saja??" tanya Tantan.


" Lumayan....!" mencoba mengatur nafas.


"kakak, kenapa kau tidak memberikan pistol pada kak Suzy?, dia kan juga pernah ikut latihan di Distrik Militer!"


" Bagaimana bisa kau menyuruh Ibu hamil membunuh orang??, jika aku tidak memikirkan bayiku aku juga lebih baik menembaknya sendiri!"


" Benar juga...itu juga sangat mempengaruhi, kakak minumlah dulu!" Ria memberikan botol kecil yang slalu ada di kantongnya

__ADS_1


Suzy pun meminumnya agar merasa lebih tenang.


Sementara Tantan masih berpikir Sebenarnya apa yang terjadi.


__ADS_2