
Tak lama Jendral pun datang...
" tuan perwira, ...!" memberi hormat pada Hatta Latif.
" sudah tak perlu formal, terimakasih sudah menyelamatkan kedua anakku, Suzy juga sudah ku anggap seperti anakku sendiri!, bagaimana keadaanya, apa orang tuanya datang?"
" Orang tuanya baru saja datang tuan perwira, saya ke sini untuk melihat Tania!"
" Anakku masih belum sadar,...!"
" Ya tuan, Tania mengalami luka serius, dokter masih harus memeriksanya bertahap!, jika boleh saya memberi saran sebaiknya Tania di pindahkan di rumah sakit di kota Tuan, di sini tak begitu lengkap peralatanya!"
" Rumah sakit militer juga lengkap, aku akan mengurus nya!"
" keponakanku juga seorang dokter militer, biarkan dia yang merawat Tantan tuan!"
" Baiklah, trimakasih nyonya!"
Hatta Latif segera pergi mengurus semua yang perlu di urus.
" Petter, kau juga pindahkan Suzy ke sana!"
" Baik tante!"
Jendral Petter kembali ke ruangan Suzy untuk meminta izin pada orang tuanya terlebih dahulu.
" nyonya, apa sudah lama kenal dengan nona saya?, kenalkan saya bibi Chu ,dari kecil sayalah yang mengurus nona Tantan!"
" Saya Maya bi, terimakasih sudah merawat Tantan sampai menjadi gadis yang cantik dan baik hati!"
" mmmm, Saya sangat sedih melihat nona saya seperti ini, dari kecil dia tak memiliki ibu dan tuan sangat keras mendidiknya!"
" kasihan Tantan. aku sudah menyayanginya seperti putriku sendiri! "
" Terimaksih nyonya, anda orang yang sangat baik, sebenarnya Tuanku, sangat mencintai putrinya,namun setelah nyonya saya meninnggal, tuan menjadi sangat protektif pada nona, jadi di mata nona Ayahnya adalah orang dingin tak berperasaan, tuan saya keras hati, dan nona saya sangat keras kepala, kesalahpahaman diantara terlalu dalam!"
" jadi seperti itu, sama halnya dengan putraku dan suamiku, mereka tak pernah sejalan, slalu saja bertengkar, tapi suamiku memang payah dan kolot, putraku juga sama kolotnya, itu membuatku tidak pernah hidup tenang bibi!"
" Berat juga ya nyonya, mungkin suami nyonya, sudah merasa itu yang terbaik untuk anaknya,namun untuk sang anak itu bisa dikatakan merebut kebebasan, atau hak asasi mereka, menjadi orabg tua itu juga tidak mudah!"
" Iya bibi, aku juga dulu berpikir seperti itu, tapi aku juga harus menyadari putraku sudah tumbuh besar dia memiliki keinginan sendiri, memiliki sudut pandangnya sendiri dalam menilai orang lain, aku mulai mempercayakan masa depan anakku pada dirinya sendiri, sudah cukup orang tua mengantar sampai pintu gerbang saja selanjutnya biar dia sendiri yang menentukan hidupnya!"
" Benar nyonya, saya sangat setuju, hati seorang ibu memang lebih mudah mengerti, namun beda untuk seoarang ayah!"
" Mmm ya Bibi...!"
" Bibi chu, semua sudah aku urus, bibi pulang dengan sopir dulu dan tolong siapkan untuk keperluan Tania!"
" Baik tuan!"
" Nyonya terimkasih karna sudah menemani Tania di sini, nyonya boleh beristirahat, saya yang akan menjaga putri saya di sini!, nanti setelah semua selesai anak saya akan dipindahkan!"
" Baik, Tuan kalau begitu saya undur diri!"
meskipun sangat berat untuk meninggalkan Tania, namun itu lebih baik.
setelah semua selesai Tania dan Suzy dipindahkan ke rumah sakit militer.
untuk sementara Jendral pun kembali ke Distrik militer.
" Jendral bagaimana kabar nona kami?" Tanya orang kepercayaan Panglima dibagian informasi.
" Katakan saja pada Panglima, Wanitanya selamat dalam keadaan hidup!"
" Oh ,baik Jendral! "
__ADS_1
Sebaiknya tidak memberitahu Panglima keadaan Tania sekarang, jika sampai tahu itu tidak akan baik.
" oh ya, katakan saja pada Panglima, untuk segera menyelesaikan tugasnya dengan baik dan segera kembali! "
" siap Jendral! "
sepertinya itu lebih baikan ya?,
sudahlah aku sangat lelah, sebaiknya aku istirahat.
Jendral segera masuk ke paviliun nya segera mandi dan merebahkan tubuhnya di sofa.
memandangi sekeliling ruangan, yang tertinggal tawa canda dari suzy yang terekam dalam ingatan Jendral Petter.
Tak ku sangka gadis itu meninggalkan memory indah yang menghangatkan tempat ini ,rasanya sepi sekali dia tidak di sini, sepertinya aku sudah sangat terbiasa dengan kehadiranya.
Jendral mengingat lagi kenangan - kenangan tentang Suzy, Jendral pun tersenyum.dan tertawa sendiri.
" Yah, sepertinya dia sudah berhasil membuatku menerimanya, di sini!" gumam Jendral Petter.
Disini juga tertinggal tawa dan keusilan Tania, dia sudah seperti adik perempuan untukku, Tania kau harus segera bangun sebelum Panglima kembali!
dalam Hati Jendral yang juga mengkhawatirkan Tania.
" Panglima, Nona sudah diselamatkan dalam keadaan hidup!" Zoo melaporkan
" mmm, syukurlah! , apa dia baik-baik saja?"
" menurut pesan yang di terima, Jendral hanya berpesan untuk Panglima agar menyelesaikan tugas dengan baik, dan segera kembali!"
" Hanya itu?"
" Ya panglima!"
aku harus menyelesaikan tugas ini dulu ,agar bisa segera kembali.
" Baik, lanjut!"
" Lapor keadaan di sana sudah terkondisikan untuk , rencana A dan rencana B juga sudah selanjutnya bagaimana arahan Panglima untuk besok!"
" lakukan saja sesuai rencana, habisi semua tanpa tersisa, agar tidak menjadi masalah di masa depan!"
" Tapi Jendral, Budiana meminta mengampuni nyawa satu orang di sana!"
" Apa?"
"Kata budiana, itu adalah anak yang di culik dan dilelang dipasar gelap dan dijadikan budak di sana!"
" Hahah, bagaimana dia bisa jadi seorang bandit?, hatinya saja seperti hellokitty!"
" kami akan melakukan sesuai perintah Panglima!"
" Selamatkan anak itu, cari informasi tentang identitasnya!, itu nanti kita urus setelah kita melenyapkan semua!"
" Baik laksanakan!"
Keesokan harinya Panglima tiba di tempat yang akan di sergapnya.
orang-orang di sana sudah di ganti dengan pasukan-pasukan khusus yang menyamar sebagai pekerja di sana.
" Bagus, barang ini bagus, kerja bagus, ini bonus bulan ini, jika bulan depan kalian bisa menjarah barang-barang bernilai tinggi maka bonus akan lebih besar lagi!"
" Terimakasih bos, saya akan berusaha lebih keras lagi!" ujar Budiana.
"Di mana anak itu?"
__ADS_1
" Siapa Bos Meng?"
" Joe...!"
" ah mungkin di gudang belakang bos Meng!"
" Ah, baiklah karna aku akan melelangnya lagi, di pasar gelap, aku sudah mendapat orang baru!" ujar bos Meng tanpa belas kasih.
Joe yang mendengarkan percakapan antara Bos Meng dan budiana pun merasa sedih.
" oh..egmmm egmmm egemmmm"
" Diamlah nak kami datang menyelamatkanmu, berhentilah meronta!"
Joe memang nasibnya sudah tak karuan pun pasrah dan berhenti meronta, entah dibawa kemana dia oleh orang yang tidak dikenalnya.
setelah situasi cukup baik untuk menyergap, semua pasukan yang menyamar pun segera bergerak,
" Angkat tangan!!!" Panglima yang segera masuk dengan menyodorkan pistolnya ke arah gerombolan Bos Meng dan Budiana.
" Apa- apaan ini?" ujar Bos Meng mengangkat tanganya.
" Menyerahlah, situasi ini tidak menguntungkanmu untuk melawan! " ujar Panglima.
" Budiana apa kau mengkhianatiku?"
" maaf bos Meng, aku salah jalan sudah mengikutimu!"
" apa kau tahu apa akibatnya jika mengkhianatiku?"
" Ya aku tahu!"
" Bagus jangan harap kau bisa menyelamatkan anak istrimu!"
"aku akan mukulmu lebih dulu jika kau berani menyentuh keluargaku!" Budiana memukul bos Meng hingga terjatuh!"
" Amankan orang-orang asing ini jika melawan bunuh!!!" perintah Panglima.
" kau salah berurusan dengan kami jika kalian berani membunuh orang dari negara kami, negara kami tidak akan tinggal diam!" ujar Bos Meng.
" Kalau begitu bunuh semua tanpa tersisa, dan tak bisa dikenali lagi!, jangan sampai meninggalkan sisa masalah ke depanya!"
" apa?, bagaimana bisa kau membunuh kami, kau seharusnya menyerahkan kami pada polisi ,bukan kau yang menghakimi kami!"
" Negara kami memang negara hukum, namun hukum tidak berlaku jika kami harus membunuh penjahat untuk melindungi nyawa kami sendiri!"
" Kau kira aku tidak ada perlindungan?, kau terlalu naif! jika aku harus mati kalian juga harus ikut mati di sini!" Bos Meng mengeluarkan sebuah tombol dari sakunya.
" apa? kau memasang Bom?"
" ahahahahhha, kau kira kau siapa berani menangkap dan mengancamku?!, Lepaskan aku dan orangku maka aku akan membiarkan kalian hidup!" ujar Bos Meng memberikan sebuah penawaran.
" Hanya ikan yang mau terpancing upan pada kail!, kau kira kau bisa membodohi kami!, kalau begitu mari kita mati sama-sama!" Ujar Panglima berjalan mendekati Bos Meng.
" Apa?, berhenti melangkah satu kali lagi aku akan menekannya!"
" Tekan saja, lebih baik kami pulang tinggal nama dari pada gagal menyelesaikan tugas!" ujar Panglima melangkan semakin dekat.
" kau pikir aku hanya mnggertak?'
" Satu...dua...saat aku menangkapmu kau bisa menekannya!"
"tig....."
Bersambung....
Author...
__ADS_1
Aduh Panglima kenapa nekat sekali?