
" Aaapaaaaa....??" Yesa benar - benar terkejut dia bahkan ingin mencabik-cabik wanita yang akan dinikahi Zero, namun dia tidak akan berani karena itu adalah pernikahan yang telah di perintahkan oleh Panglima.
"Tuan Dokter kenapa anda banyak tahu, aku malah tidak tahu itu!"
" Yesa, Zero sangat baik bukan??, dia tidak memberitahu Nisa jika kaulah yang menghabisi keluarganya, tapi itulah Zero dia slalu menanam bom waktu untuk dirinya sendiri, Nisa saat ini masih sangat polos, jika Zero benar-benar melatihnya sendiri dengan serius ,makan Nisa akan menemukanmu dengan mudah, itu akan menjadi masalah untuk Zero karena menyembunyikan kebenarannya!"
" Aku tidak akan membiarkan Zero menanggungnya, jika dia ingin membalas, maka hadapi aku secara langsung!"
" Aih... baiklah, untuk sementara sisihkan itu, ayo kembali...aku juga mau bersiap untuk kembali ke kota, ah...kenapa aku juga harus ikut, aku kira aku akan bebas tugas!" keluh Doney.
" Lalu bagaimana denganku??"
" Zero ikut loe...!" pancing Doney.
" Kalau begitu aku akan ikut ke kota!"
" Hais...tapi Panglima tidak mengajakmu!"
" Aku akan memaksa!"
" Kau berani??"
Yesa terdiam, tapi di pikir lagi dia akan tetap ikut walaupun harus menyelinap dalam rombongan.
" Aku akan masuk dalam rombongan!"
" Kau kira mata Panglima tidak jeli, walaupun kau ada di dalam 1000 pasukan Panglima akan mengenalimu!"
" sebegitu sehatkah mata Panglima??, aku tidak percaya!"
" Kau jangan mengujinya, aku sungguh mengatakan hal benar, sekarang kau bujuk saja istrinya, biar istrinya yang membujuk Panglima!"
" Benar Tuan Dokter aku menemui nyonya sekarang!"
Doney hanya menggeleng kepala, tapi memang sebenarnya di banding Nisa, Yesa lebih baik menurut Doney, Yesa sangat tangguh, sedangkan Nisa mungkin hanya akan membebani Zero saja, tapi juga tidak menutup kemungkinan Nisa juga akan lebih hebat dari Yesa.
" Nyonya...saya mau ke kota!" ujar Yesa tanpa basa-basi.
" Tapi kau tidak di ajak!"
" Tapi Yesa ingin ikut Nyonya...!"
" Nanti aku bicarakan pada Panglima dulu ya!"
" Ya nyonya terimakasih!"
Tantan pun segera menemui suaminya.
" Sayang apa yang kau lakukan di sini??, apa kau ingin ikut?, tidak!"
__ADS_1
"Tidak bukan aku loe, tapi Yesa!"
" Yesa ??"
" Bawalah, Yesa....!"
" Tidak akan, aku lebih baik membawa Mikel!"
" Ha,Mikel di ajak??"
" Iyalah, Mikel itu senjataku menggertak Jimmie, Jimmie itu sulit di atur, aku tidak memerlukan Yesa!"
" Tapi Dia ngotot mau ikut!"
"Tidak, ini bukan misi berurusan dengan orang lemah, Yesa itu hanya cepat dalam membunuh, dan yang dia bunuh hanya orang lemah saja, aku belum melihat kemampuannya secara langsung, karena dia yang membawa Zero, untuk menjagamu!"
" Baiklah aku akan memberi pengertian padanya, tapi Panglima dia itu sangat keras kepala!"
Panglima terdiam, mengerti yang dimaksud kerasa kepala, adalah walaupun dia tidak di ajak, dia pasti akan menyusup.
" Kalau begitu dia masuk regu B sajalah...!"
" Jadi boleh ikut??"
" Semua yang ku bawa adalah pria, ku harap dia bisa menyesuaikan diri dalam berperan!"
" ehm....!"
Panglima tidak ada pilihan lain, karena jika sampai menyusup dia akan merusak rencananya.
Di Pav Zero.
" Nisa, sekarang kita sudah tidak sendiri lagi, kau dan Grey memiliki aku, dan aku memiliki kalian berdua, aku akan menjadi suami dan ayah yang terbaik untuk kalian!" Zero memeluk Nisa yang sedang menggendong Grey di pangkuannya.
" terimakasih kakak!" Nisa meneteskan Air matanya.
" Kenapa menangis??"
" Nisa tidak menyangka jika kakak sangat peduli pada kami!"
" tentu saja, kalian adalah harta berharga yang aku miliki sekarang!"
Zero mengecup kening Nisa dan Grey,bergantian terlihat Grey sudah terlelap dengan nyaman dipelukan Nisa.
" Tidurkan Grey Nisa...!" pinta Zero, Nisa dengan hati - hati menidurkan Grey, di box bayi.
" Ayo, duduklah... sekarang berikan waktumu untukku sebelum aku berangkat!"
Nisa segera duduk, di samping Zero dengan baik, sebelum janji suci dilaksanakan, Tantan sudah memberikan wejangan pada Nisa, bagaimana harus menjadi istri yang baik, bagaimana harus memenuhi kewajibannya menjadi seorang istri.
__ADS_1
Zero memegang tangan lentik itu, dan mencium tangan Nisa dengan penuh kelembutan, Zero memandang manik hitam, bermata kecil itu penuh dengan kasih sayang, Zero menarik Nisa mendekat keduanya bertatap penuh dengan Cinta, Zero perlahan menarik tengkuk Nisa dan mencium bibir mungil itu dengan lembut, keduanya masih belum mengerti bagaimana berciuman dengan baik, memakai naluri saja, getaran hebat melanda tubuh keduanya, rasanya benar - benar mendebarkan, ada rasa haru, bahagia yang tak dapat diungkapkan oleh keduanya, air mata nisa mengalir dan mata Zero berkaca-kaca, ciuman itu semakin dalam rasanya tubuh mereka terasa terbakar, terbakar oleh nafsu cinta yang sudah halal.
Begini rasanya bisa bercengkraman dengan seseorang yang kita cintai dan bisa kita miliki seutuhnya.
dalam hati Zero.
" Kenapa menangis??" tanya Zero dengan suara seraknya.
" Kak, Nisa sangat bahagia...menjadi istri kakak, kakak bisa menerima kekurangan Nisa!"
" Apa Nisa sudah siap??, melayaniku??"
" Sudah, ...tolong hapus jejak kelam Nisa dengan cintamu kak!" pinta Nisa dengan suara bergetar.
sebenarnya itu adalah kata yang diajarkan oleh Tantan pada Nisa.
(Tantan kau sangat meresahkan)
Jiwa lelaki mana yang tidak terguncang dengan permintaan wanita diinginkannya.
" Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu??"
tapi Zero sangat mengerti Nisa, Nisa masih sangat polos tidak akan mengatakan hal seperti itu dengan inisiatifnya sendiri.
" ah??, itu...itu...nyonya yang mengajariku!"
" Kau mau??, apa kau tahu itu artinya kau harus apa??"
" Mau, karena aku sudah menjadi istri kakak!"
" Nisa aku tidak akan terburu-buru, aku takut kau masih trauma...aku masih bisa menunggu!"
" Kakak, ...aku mencintaimu!"
Nisa segera memeluk tubuh Zero.
" Aku juga Sayang...!" Zero mendekap erat tubuh mungil itu sebenarnya tubuh Nisa itu tergolong bongsor diusianya 16 tahun, hanya saja Zero lebih tinggi dan kekar, jadi tubuh Nisa tenggelam saat dipeluk oleh Zero.
" Tapi sungguh aku sudah siap kakak!" ujar Nisa lirih.
mendengar kata yang keluar dari bibir mungil itu Zero melepaskan pelukan, memegang dagu Nisa .
" Kalau begitu, kau tidak bisa mundur lagi jika aku sudah memulainya!"
Nisa mengangguk patuh, Zero segera menjatuhkan tubuh Nisa di ranjang, tangan keduanya saling bercengkraman dengan sangat kuat, kenangan buruk itu masih terlintas diingatan Nisa, namun seketika menghilang saat Zero mulai mencumbunya dengan penuh kelembutan.
" Kau tidak bisa menghindar lagi sayang!" Zero sudah dipenuhi dengan gairah yang membara,apalagi saat mulut kecil itu mengeluarkan suara yang sangat sexy saat mendesah.
keduanya sudah kalut dalam nafsu cinta, pada akhirnya mereka pun menyatu dengan sempurna, mereka sudah saling memiliki seutuhnya, betapa bahagianya keduanya karena bisa menerima kekurangan masing-masing.
__ADS_1