
" Ibu, istirahat lah bersama suzy...!"
" Tania, apa kau menyimpan barang-barang milik ibumu?"
" iya ibu ada di kamar belakang, kapan - kapan Tantan ajak untuk lihat ke sana!"
" Ah, sungguh?"
" Iya ibu... sekarang ibu dan Suzy beristirahat dulu ya!"
" ibu akan bantu bibi Chu, ...!"
" Ahz jangan ibu, biar Tantan saja!"
" Tidak, ibu tidak apa - apa, kau dan Suzy sedang mengandung kalian istirahat saja !"
" Tapi, bu...!"
" Ibu sudah menganggap ini seperti rumah inu sendiri, jadi tenanglah dan bersantailah!"
" ah, baiklah ibu...!"
Maya pun segera menuju ke dapur untuk membantu bibi Chu memasak.
" Suzy, apa kau sangat ketakutan?"
"Ya ,aku benar-benar takut saat itu Tantan!, aku takut aku tidak bisa menjaga anak Jendral dengan baik, aku tidak takut mati, hanya saja aku sangat takut dengan anakku yang akan terluka!"
" Aku mengerti perasaan mu Suzy, jangan takut lagi, di sini sangat aman, kau tidak akan terluka lagi dengan anakmu!"
" Tantan, apa kau tidak takut??"
" Aku tidak takut, kau juga harus sepertiku, kau memiliki anakmu sebagai kekuatanmu!"
" Benar, ...!"
" Ya, jangan takut lagi, itu sangat mempengaruhi perkembangan bayimu!"
" terimakasih Tantan, ...aku sekarang tidak takut lagi!"
" Ya, kau sekarang sudah bisa tidur dengan nyenyak, oke??"
" Hmmm... aku tidur dulu ya, aku sangat lelah!"
" okey, aku akan menjagamu!" menyelimuti Suzy kemudian mengatur suhu ruangan yang nyaman untu Suzy.
Kasihan, sekali Suzy pasti sangat ketakutan,
mereka itu harus di beri pelajaran beraninya, menargetkan Suzy untuk menjebakkku!
Tantan sangat marah.
...----------------...
Tok tok tok..
" Ka, jim....loe??, kak Jimmie?" Ria mencari ke semua ruangan namun tidak menemukan Jimmie.
kemudian Ria berlari kebagian administrasi .
" Sus, apa pasien di ruangan mawar sudah pulang?"
" Ah??, sepertinya belum dok!"
" Loh??, kemana ya? kok tidak ada di ruangannya?"
" mungkin sedang jalan-jalan dokter!"
" Ah, mungkin juga sih...!" Ria kembali ke ruangan mawar, dia meletakkan taperwer yang berisi jatah makan Jimmie dari ibunya.
Ria duduk menunggu, di ruangan sambil memainkan ponselnya.
Ria pun mulai tidak tenang karna sudah satu jam lebih dia menunggu namun Jimmie belum kembali.
" Sebenarnya kakak ini kemana?, bukankah masih harus istirahat cukup?"
" Ah, kenapa aku tidak menelphone nya dari tadi astaga!" Ria segera mengambil ponselnya dan menghubungi nomer Jimmie.
__ADS_1
tuttttttttttt tuttttttttttt
" Ya, Ria ada apa?"
" Kakak, kakak di mana sih??"
" oh tumben mencariku Ria, oh aku lupa belum membayar rumah sakitnya, ya coba kau beritahu aku berapa total biayanya aku akan mentransfernya sekarang!"
" Apa kepala kakak hanya memikirkan uang, kakak bukanya belum sebuh benar?, sekarang kakak di mana??"
" Oh, maaf Ria, ini sangat mendadak!"
" Semendadak apa itu, apa kau tidak menyayangi tubuhmu lagi?"
" Aku sudah membaik, jangan khawatir Ria, terimakasih atas perawatanmu selama ini, dan sampaikan terimakasih ku untuk ibumu, jika urusanku sudah selesai aku akan menemui ibumu untuk berterima kasih!"
" Kakak, aku ini juga membawa makanan dari ibu ,untukmu dan aku hanya boleh pulang jika makanan ini benar -benar habis di makan olehmu!"
" Wah, ibumu sama kenjamnya denganmu rupanya, baiklah aku akan menemuimu sekarang!"
" Dimana?"
" Di rumah sakitlah, sekalian bayar biaya rumah sakitnya!"
" kakak jangan pikirkan biaya rumah sakit!"
" Jangan menjatuhkan harga diriku Ria, aku akan. membayarnya sendiri!"
" Ahz iya iya baiklah!"
panggilan mereka pun berakhir.
"Paman, maafkan saya ...saya ada perlu keluar sebentar, karena ada Jeck dan Dex maka semua akan aman!"
" Ya, nak Jimmie terimakasih!"
" bukan apa-apa paman, jika begitu saya pamit dulu!"
" Iya nak, hati - hati di jalan!"
Sesampai di rumah sakit.
Jimmie segera kembali keruanganya, saat membuka pintu.
" Aih, dia sampai tertidur seperti itu!" Jimiie memandang Ria yang tertidur dengan posisi duduk dan tangan dilipat di dadanya.
Jimmie duduk di samping Ria, kemudian menarik Ria ke pundaknya, untuk bersandar.
Jimmie sangat bahagia, meskipun hanya dia di sini yang sangat bahagia.
Jimiie mengambil ponselnya dan segera mengambil gambar mereka berdua,
Jimmie senyum - senyum sendiri melihat kembali beberapa foto dirinya bersama Ria.
" meski hanya sepihak, ini sudah cukup!" gumam Jimmie tersenyum dan gambar itu di jadikan wallpaper di ponsel Jimmie.
Jimmie berhitung sambil menunggu Ria terbangun.
" Oh, astaga...aku tertidur!" Ria segera menegakkan duduknya.
" ah ... dokter sangat kelelahan!" ujar Jimmie
" Ha??? kakak, sejak kapan kakak di sini??"
" satu setengah jam yang lalu!"
" kenapa tidak membangunkan Ria??"
" Kau sangat lelah, aku tidak tega!"
" Seharusnya kakak, membangunkan ku, apa kakak sudah memakannya??"
" Belum, aku tidak bisa bergerak karena kau sangat nyenyak tidur dipundakku!"
" Ah, lagian tidak kau bangunkan!"
" Heheheh...!" Jimmie hanya tertawa
__ADS_1
Ria mengambil bekal makanannya,
" Ah, ini pasti sudah dingin, tak masalahkan??"
" Tak masalah!"
" Kalau begitu makanlah!" Memberikan pada Jimmie
" Ahhhh, tapi pundakku sangat sakit heheh kau ternyata cukup berat!" berpura-pura lemah.
"astaga ,sudah tahu kakak masih tahap pemulihan kenapa sudah pergi begitu saja??"
Sambil membuka bekal,
" maaf...!"
" Ya sudah, cepat aaggg, aku akan menyuapimu!"
" aaagggghhh!"
Ria pun menyuapi Jimmie perlahan sampai habis.
" Kakak, apa itu urusan mendesaknya??, jika bisa ditunda sebaiknya ditunda sampai kakak benar- benar sembuh!"
" ini masalah keselamatan istri Panglima dan Jendral!"
" oh, apa yang terjadi pada mereka??"
" Kau tidak dengar??"
" aku mendengar istri Jenderal terluka ringan saja !"
" Ah, kau pasti sibuk ya..., istri Jenderal di sekap, oleh anak buah Jendral sendiri!"
" wah, sepertinya, ketelibatan orang dalam semaki meraja lela!, lalu bagaimana dengan kakak ipar?"
" Aku meminta Tantan, Suzy dan bibimu untuk sementara tinggal di kediaman Tantan dulu!"
" Apa itu aman kakak?, wah mereka mengincar saat panglima dan Jendral bertugas!"
" Untuk sementara aman, aku justru lebih khawatir ke Panglima dan Jendral...aku belum bisa menebak rencana pihak lawan!"
" Kakak, pelan - pelanlah...untuk Panglima dan Jendral mereka pasti akan baik - baik saja!"
" Ya, mereka jika menargetkan istri Panglima sangat salah ,namun masalahnya adalah, kakak iparmu sedang hamil, begitu juga istri Jenderal Petter!"
" Ah aku jadi ikut mencemaskan mereka!"
" ah...kau bisa mengunjungi mereka di rumah Tantan, kau juga bisa membantu merawatnya kan?"
" Bisa, bisa...aku bisa...!"
" Untuk saat ini, belum dulu, tunggu satu minggu kita lihat dulu pergerakan musuh!"
" Kakak, tinggal suapan terakhir!"
" Aagmmmmm....!"
" Ahz aku bisa pulang akhirnya, ...!"
" Maaf ya, menyusahkan mu!"
" Tidak apa-apa,tenang saja kakak!"
" oh ya katakan pada bibi, tidak perlu memasak untukku lagi katakan aku sudah membaik dan ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, jika semua sudah beres aku akan menengok ayah dan ibumu ke rumah apa boleh??"
" mainlah, jika semua sudah membaik..., kabari Ria jika Ria sudah bisa ke tempat kakak ipar!"
" Tentu, tunggu kabar dariku ya!"
" Baiklah, aku akan menunggu!"
" Hmmm, kalau begitu kakak harus segera kembali, bye Ria!" Jimmie pun segera pergi meninggalkan ruangan itu dan Ria.
Kenapa aku merasa sedih??
dalam Hati Ria.
__ADS_1