DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
201 Tempat Eksekusi


__ADS_3

" Tapi Tantan, mungkin saja mereka masih bisa membalikkan lagi keadaannya!"


" Tidak papa, karena mereka buru-buru untuk mati, ya kita akan bantu mewujudkan keinginan mereka!"


" Oh ya??, apa kau punya cara cadangan??"


" Tidak ada, aku hanya ingin memanaskan suasana agar ikan-ikan besar ini keluar dari persembunyiannya, dan segera menyeret Panglima, Jenderal dan ayahku, ke dalam tempat eksekusi, maka saat itu Daftar orang -orang ini akan menjadi penutup cerita ketamakan mereka!"


" Dan???"


" Dan kita hadirkan pasukan Panglima dan Jendral sebagai penghantar kematian para penjahat ini, agar mereka tahu bahwa mereka sedang dalam scary life adventure!!"


Lihat saja jika aku tidak melihat kalian mati mengenaskan maka aku tidak akan damai melanjutkan hidup.dalam hati Tantan mendendam.


" Nyonya tenang ya...!" Yesa justru panik sendiri , karena tugas utamanya menjaga keselamatan Tantan dan anak panglima.


" Semua sudah di kerahkan Tantan...apa yang akan kau rencanakan selanjutnya??"


" Sudah biarkan mereka menunggu, ketika abang sudah mendapat pengajuan banding, pasti mereka akan kocar-kacir kan, tangkap mereka, cari bukti-bukti, hancurkan tempat itu tak tersisa dengan pasukan milik bosmu, jangan sampai kita memberi celah satu mili untuk mereka bernafas!"


" Kita menghancurkan pulai di sini??"


" Kenapa? pemerintah sangat tidak bisa di andalkan, hanya beberapa pulau , lebih baik kita kehilangan beberapa pulau ini, dari pada kita kehilangan genarasi di masa depan!"


" Tapi benar juga, jika mereka merajalela justru dari sabang sampai Merauke akan habis tak tersisa!"


" Dan setelah semua kita tumpas tuntas, kita akan lakukan kudeta untuk pemerintah, bagaimana bisa mereka tutup mata seakan tidak terjadi hal besar!"


" Baik yang terpenting adalah, keselamatan 3 orang ini Tantan...!"


" Ya benar...kita tunggu dulu saja... semoga ada kabar baik dari abang Jack!"


...----------------...


Tempat eksekusi.


" Hahahahha lihatlah tampang angkuh yang biasa berdiri tegak dengan pasukan tak terkalahkannya, hari ini dia hanya memiliki 2 orang setia yang akan ikut ke alam baka!"


" Hahahah benar, keluarganya juga meninggalkan mereka terbirit-birit hahahahahaha!"


" Muka gagah perkasa yang dulu mana??, kenapa kalian menjadi pecundang sekarang??"


Panglima hanya tersenyum kecut melihat Tom dan rekan - rekannya dengan bangga


mengumandangkan kemenangannya.


" Lihat dia masih angkuh Tom!"


" Ya dia adalah Panglima besar, jika tidak angkuh. bukan. dia namanya!"


" Sudah mau mati saja belagu!"


" Booookkkkk!"

__ADS_1


Rekan Tom memukul Panglima dengan sangat keras.


" Annnnjiiiiiing kalian, berani memukul saat tangan dan kaki kami terikat di tiang!" teriak Jenderal Petter.


"Blokkkkkkkkkkk!" Rekan satunya lagi memukul Petter dengan cukup keras juga.


" Sudah - sudah kalian jangan menyakiti calon mayat, kasihanlah sedikit...nyawanya sudah akan melayang dalam hitungan menit!" Ujar Tom menenangkan kawan-kawannya.


"Kalian siapkan kamera saja sana!, kita akan mengabadikan moment-moment indah saat ini, akan kita hadiahkan pada keluarga mereka semua ,sebelum kita menghantarkan keluarga mereka ikut ke alam baka!" ujar Tom penuh dengan kepercayaan dirinya.


" Kalian tidak akan bisa menemukan keluarga ku!"


" Hahahaha, aku memberikan chip pelacak pada Yesa...kami sudah menemukan titik akuratnya!"


" Apa??" Panglima, Jenderal dan Ayah Tantan sangat terkejut.


" Hahahahahah....hahahahaha...hahahaha... lihatlah muka panik mereka, mereka Kira mereka sudah akan selamat!"


" Panglima, tidak tahukah kau dengan pepatah, sepandai - pandainnya tupai melompat maka akan terjatuh jua!"


" Bajiiiingan!!!" Jendral Petter tidak bisa menahan amarahnya.


" Habis sudah....!" Ujar Hatta Latif


Panglima hanya terdiam, ...


" Panglima mana wajah angkuhmu tadi??, Seharusnya kau sudah puas bukan menjabat sebagai Panglima yang sangat ditakuti, hidup bergelimang harta, dan kau memiliki istri yang sangat muda dan begitu cantik jelita, hidupmu itu sungguh membuat iri orang lain, sangat sempurna, hahaha... seharusnya kau itu mau mengalah sedikit mencoba menutup mata dengan apa yang sebenarnya kau tahu, kau tidak akan mengalami hal seperti ini..


!"ujar Tom sambil tertawa


" Kenapa Panglima sangat keras kepala ??, pemimpin yang kau lindungi yang kau hormati nyatanya menutup sebelah mata saat kau yang sudah bekerja begitu keras ini terseret dalam kasus penghianatan!"


" Sayang beribu sayang, kebaikanmu di lupakan begitu saja, pengabdianmu hanya dianggap angin lalu, pemerintah yang kau lindungi mati-matian malah sekarang menginginkan kalian mati begitu saja tanpa ada satu pun yang membela!"


" Sekarang kau baru tahu menyesal bukan??"


Panglima kembali menampakkan senyum sinisnya....


"Lihat Tom dia masih begitu sombong!"


" Maaf aku dari tadi berusaha menyimak anjiing menggonggong dengan bahasa manusia , namun aku malah tidak bisa mengerti, kenapa gonggongan anjingku lebih bisa ku mengerti ya, dari bahasa anjing berwujud manusia!"


ujar Panglima dengan wajah meremehkan.


" Bajiiiiiingan dia mengatakan kita anjiiing???"


" Coba Tom mendekat padaku, bicaralah dengan keras, apa yang kau ucapkan tadi!' pinta Panglima


Tom pun mendekat, ke arah telinga Panglima...


" Hahah sepertinya dia kehilangan pendengaranya setelah di pukul!, dengarkan aku!"


Panglima menekan tombol kecil di cincinnya...

__ADS_1


" Keluarga mu dalam bahaya, aku meletakkan Chip pelacak pada Yesa...!, jadi kau tidak perlu khawatir akan berpisah dengan keluargamu , karena setelah kalian mati, kami akan mencari dan mengirim keluarga kalian untuk segera menyusul, hahahahahaha apa kau masih tuli???"


" Hahahahahahahahaa...!"


" Lihat wajahnya pucat Tom!"


" Panglima.... bagaimana ini??" Jenderal Petter mulai tidak tenang.


" Hahahaha lihatlah mereka panik...hahahahaha!"


" Cepat - cepat kita eksekusi...setelah itu kita lanjut mengirim keluarga mereka semua!"


" Hahahah, bodohnya anak buahmu itu kenapa memakan umpanku!" Ujar Tom sangat puas menertawakan 3 abdi negara itu.


Hatta Latif dan Jendral Petter sudah putus asa, mereka tidak mengerti lagi selain berpasrah pada Sang penciptanya.


Semua team khusus penembak jitu dari petugas mahkamah agung pun segera di siapkan, mereka berdiri di tempatnya masing-masing , dan sudah di siapkan beberapa dokter untuk memeriksa kematiannya.


" Hahahah maaf Panglima hari akhirmu sungguh mengenaskan, biasanya orang yang akan dieksekusi mendapatkan perawatan baik pakaian baik, dan juga diberikan 3 permintaan sebelum dieksekusi, namun bagaimana pun penghianat akan berakhir tidak baik, oh kalian bertiga sungguh sangat malang!"


" Benar kasihan sekali biasanya pidana mati akan mendapatkan perawatan baiki, biasanya Tiga kali 24 jam sebelum eksekusi, jaksa memberitahukan terpidana tentang rencana hukuman mati.


Apabila terpidana hamil, maka pelaksanaan pidana mati dapat dilaksanakan 40 hari setelah anaknya dilahirkan, tapi sayangnya kalian laki-laki hahaha yang hamilkan istri kalian tapi tenanglah, mereka akans segera menyusul!"


" Tom dan Bordin jangan banyak mengulur waktu, cepat habisi dia, aku akan merekamnya!"


"Sabar dong...!"


" Aku benar-benar ingin segera mereka mati!"


" Kau pikir aku tidak??"


" Baiklah... Sekarang kalian bisa melakukan tugas kalian para penegak hukum!" tegas Tom .


regu tembak yang terdiri dari seorang bintara, 12 orang tamtama, di bawah pimpinan seorang perwira.


Sudah siap di tempat, mereka menunggu komandan pengawal menutup mata terpidana dengan sehelai kain.


Panglima, Ayah Tantan dan Jendral pun di beri pilihan, mereka dapat menjalani pidana dengan berdiri, duduk, atau berlutut.


Jarak antara titik terpidana berada dengan regu penembak tidak lebih dari 10 meter dan tidak kurang dari lima meter.


mereka menunggu sang Komandan regu penembak dengan menggunakan pedang untuk memberikan isyarat dan memerintahkan anggotanya membidik jantung terpidana.


Dokter pun sudah siap sedia di tempat untuk memantau jalannya eksekusi sampai akhir


Apabila terpidana masih memperlihatkan tanda kehidupan, maka regu penembak melepaskan tembakan terakhir dengan menekankan ujung laras senjata pada kepala terpidana tepat di atas telinga.


Sang komandan regu pun sudah hampir mengangkat pedangnya


Dan.....


Bersambung dulu bestie...

__ADS_1


Like dan giftnya biar tambah semangat.


terimakasih...


__ADS_2