
mendapatkan laporan kematian Yesa Leon sangat terkejut.
berita itu pun juga di sampaikan pada kakak ipar dan keponakannya,dan panglima pun segera mengadakan upacara pemakaman untuk Yesa dengan penghormatan layaknya seorang pahlawan yang gugur di medan perang .
mau bagaimana lagi, Panglima tidak bisa menyalahkan Zero karena itu adalah tindakan ceroboh dari Yesa sendiri , namun malah Zero yang sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Yesa.
semua menjadi sedikit kacau balau, saat itu untungnya efek dari senjata biologi itu sudah bereaksi dan membuat Leon sedikit ada waktu untuk memperbaiki tatanan yang sudah rusak itu.
Leon membuat rencana baru lagi dengan perubahan rencana yang berbanding terbalik dari sebelumnya.
karena 2 negara itu sedang di usik oleh penyakit gatal-gatal yang cukup menyakitkan dan penularannya sangat cepat, dampaknya sangat besar untuk 2 negara itu, dari mulai perekonomian, pendidikan, dan sosial pada masyarakat, guncangan dari penyakit itu menyebar sangat cepat, kepenjuru dunia, para tenaga medis pun kualahan dalam memberikan pertolongan pada penderita,mereka merasa aneh karena penyakit itu hanya menyerang manusia di usia 16tahun sampai 30 an saja.
karna negara mereka sedang tidak stabil, terlihat di negara tetangga menarik semua senjata dan pasukannya mundur, mereka sekarang di sibukan dengan pencegahan agar virus itu tidak masuk ke negaranya.
untuk sementara peperangan besar masih bisa dihindari, Panglima meminta Jimmie untuk membuat peraturan baru, yang berada di luar negeri tidak diijinkan pulang, dan yang ada di dalam negeri tidak di ijinkan ke luar negeri,dan menghentikan penerbangan internasional.
Dan masyarakat wajib cek kesehatan di rumah sakit terdekat secara Free.
" Panglima, apa masyarakat sudah bisa melakukan aktivitas seperti biasa??"
" Jangan dulu , tunggu satu bulan...!"
" semua import dan Ekspor terhenti apakah itu tidak berdampak buruk bagi kita??"
" Itu tugas Jimmie untuk mengatur semua agar semua tidak berdampak buruk pada masyarakat!'
" Wah, tugasnya sangat berat sekali Jimmie, lalu bagaimana dengan kasus Zero ini??"
" Ah, aku sudah menghubungi Yulius, dia akan memberi informasi pada kita setelah membantu menyelidiki tentang siapa mereka yang menyerang Zero dan orangnya saat itu .
" Panglima kau masih berhubungan dengan Yulius??"
" Ya, ... karena dia Zero selamat dan Doney begitu juga anak buah yang lain, di sayangkan Yesa malah tidak selamat...!"
" Benar lalu bagaimana anda akan menata para prajurit??"
" Mereka yang sudah berlatih dengan baik, bisa kembali melanjutkan aktivitasnya, dan untuk urusan sosial, perekonomian, serahkan saja pada Jimmie...!"
"Lalu Josh??"
" Dia masih berguna,..."
" Aku akan kembali dulu ke bascamp Zero, keadaan Zero dan Doney juga sangat buruk, ayo kita bawa mereka kembali,aku juga ingin melihat Putraku dan juga Co leaderku alias istriku.
" Ya kau harus melihat putramu, aku juga akan begitu...tapi Yess sangat dekat dengan istrimu bagaimana kau memberitahunya??"
" Hem...nanti kita lihat situasi dulu, aku tidak tega memberitahunya!"
dan setelah pemakaman Yessa, mereka berencana untuk kembali ke basecamp Zero,
namun tetap standby dalam siaga dalam amanan berlapis.
Zero dan Doney cukup terpukul, dengan kematian Yesa , apalagi Yesa tertembak di depan mata mereka.
Panglima dan yang lain pun akhirnya tiba di bascamp Zero, rupanya istrinya sangat cekatan, karena semua perbaikan begitu cepat, namun anehnya semua orang terlihat murung, apalagi di gedung rumah sakit , semua pasukan cadangan berdiri di depan gedung dengan wajah yang sedih seakan telah terjadi duka besar.
" Ada apa dengan para pasukan cadanganmu panglima??, bukankah tugasnya sudah selesai...kenapa tidak kembali ke markas mereka??"
" Tidak tahu juga ...Zero, Doney kau istirahat saja lebih dulu ...!"
pinta Panglima.
" Ya Panglima terimakasih...!"Zero segera kembali ke paviliunnya.
__ADS_1
sementara Doney mengikuti Panglima memasuki gedung rumah sakit, semua memberi hormat pada Panglima dan Jendral.
" Dimana komandan kalian??"
" siap, panglima... komandan di depan ruangan nyonya!"
" oh baik terimakasih!"
" siap!"
Panglima dan Jendral diikuti oleh Doney pun segera memasuki gedung rumah sakit , wajah Panglima sangat sumringah karena dia akan melihat putranya dan juga istri hebatnya.
namun sepanjang berjalan di lorong semua yang berpapasan sangat terkejut dan terlihat takut.
" ada apa dengan mereka??" gumam Doney.
" Tidak tahulah, Panglima dimana Sansan di rawat??" tanya Petter.
" tidak tahu juga, coba don, kau cari tahu!"
Doney segera menghadang perawat yang kebetulan berpapasan.
" Sus, di mana nyonya Panglima ??"
" Nyonya...nyo...nyon...nya...."
" hei jangan takut tenanglah..." Ujar Doney.
" tuan anda lurus nanti belok kanan di sana, saya permisi!' Suster itu segera kabur begitu saja.
Doney merasa keheranan
"Pasti mereka sangat takut dengan Panglim dan Jendral!"
tegas Leon.
" Itu komandan pasukanmu....!"
" Hei kau!"
betapa terkejutnya komandan itu melihat Panglima sudah berdiri dihadapannya.
" Apa kau melihat setan???" ujar Leon.
" hormat Panglima!"
" Ya, di mana putra dan istriku??" tanya Leon tak sabaran.
" Nyonyonya di sini dan putra anda di ruangan sebelah Panglima!"
Leon bingung harus masuk ke dalam kamar mana dulu.
" Aku ingin melihat istriku terlebih dahulu...!" tegas Leon, bermaksud ingin memberikan support dan terimakasihnya karena sudah melahirkan putranya.
" Tatatapi..."
"cekleeeeek..."
" Kaaaaakkaaaak.." Rya sangat terkejut dengan kedatangan Leon yang sangat mendadak.
" Hei Rya apa kakak iparmu tidur??"
" apa??, ehmmm aaaaaa....eeemmmm..."
__ADS_1
Rya Bingung mau menjawab bagaimana
" Panglima, masuklah dan lihat sendiri keadaan istrimu!" Dokter yang menangani Tantan juga keluar setelah Rya.
" Oh baiklah dokter, ..." dengan wajah yang sangat riang senyum lebar Leon memasuki ruangan istriya.
" Selamat is...." seketika raut riang itu menjadi murung dan sangat dingin, melihat istrinya terbaring tak berdaya dengan beberapa peralatan medis di tubuh istrinya.
" apa yang terjadi????'
" Kakak...setelah melahirkan seacar kakak ipar tidak sadarkan diri...dia mengalami pendarahan hebat, ...tapi Manggala dia baik - baik saja!"
" Kenapa kalian menutupi semua dariku???"
" Kakak itu permintaan Kakak ipar....!"
Panglima mendekati istrinya menggenggam tangan lemah dan menciuminya segenap hati, siapa yang tidak terluka melihat setengah nyawanya terbaring tak berdaya seperti itu.
" Sayang, terimakasih...kau sudah berjuang dengan keras, maafkan aku...!'
" Doney, tugasmu membuat istriku segera bangun!!!, jika sampai Istriku tidak cepat bangun, aku akan memenggal kepala kalian semua!" tegas Leon suasana hatinya sangat kacau.
" Kakak, jangan seperti itu... semua orang di sini sudah berjuang setengah mati, tanpa mereka kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada kakak, Untunglah mereka mau mendonorkan darahel mereka pada kakak ipar!'
" Leon aku akan berusaha...aku akan menjaganya!" ujar Doney yang sebenarnya juga terkejut dengan keadaan Tantan, namun dia sangat mengerti situasinya.
" Leon..." Jendral Petter memegang pundak Panglima
" Biarkan Doney yang mengurus, sekarang Putramu membutuhkan mu.."
Leon baru teringat oleh Manggala Dickson
" aku ingin melihatnya!" Rya pun mengawal Leon masuk ke ruangan Manggala.
semua terkejut melihat kedatangan Panglima, termasuk kedua orang tua Leon.
" Leon...??"
Maya segera menghampiri dan memeluk putranya itu.
" Sayang jangan menangis, jangan membuat putramu sedih!" Ujar Huan mengingatkan istrinya.
Maya pun segera berhenti menangis.
" Leon...dia prematur tapi semakin hari semakin baik, itu berkat Istri Jendral...!'
Panglima melihat Putranya yang tertidur box bayi, sangat mengharukan dia melihat buah hatinya cukup tampan.
" keponakanku sangat kuat, lihat tubuhnya juga sangat besar, ..."
" Dia sangat mirip Tantan Panglima, tapi mata dan bibirnya mirip denganmu!"
ujar Petter yang melihat.
" Aku mau menggendongnya...!"
" Panglima sebaiknya ganti dulu... dan cuci tangan...!" pinta Rya
" pakai pakaian Ayah Leon..." memberikan baju bersih pada Putranya.
Panglima segera masuk ke kamar mandi dan berganti dengan pakaian bersihnya.
Dia sangat down karena istrinya masih tidak sadarkan diri, tapi di juga sangat bahagia atas kelahiran putranya yang sangat dinantikannya.
__ADS_1
Panglima terduduk di atas closed cukup lama, satu tangannya menutupi kedua matanya, air matanya mengalir cukup sangat deras, rasanya sangat menyesakkan dadanya seakan-akan dia kehilangan oksigen untuk bernafas.