DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
274. Membantu bicara


__ADS_3

Panglima dan Petter merasa sedih melihat istrinya masuk begitu mereka masuk.


" Kalian mandilah, aku akan memintakan baju ganti pada kakak ipar, setelah itu aku akan mengobati, dan kalian makan, setelah itu kalian bisa membujuk , istri-istri kalian agar tidak marah..."


keduanya menuruti perkataan Ria, mereka segera mandi berganti pakaian lalu Ria mengobati keduanya, setelah itu mereka makan.


Petter masih tidak terima jika dia ikut kena getahnya padahal Petter tidak tahu apa-apa sama sekali.


" Hah, kau ini memang teman Panglima, slalu mengajak suka duka bersama, meskipun aku tidak tahu apa-apa..."


" ya terimakasih kau adalah temanku, dari pada si kampret di ruang tamu itu, aku akan mencari cara untuk membalasnya..."


" Sudahlah kita semua ini teman, kenapa kalian ini slalu seperti itu, dari dulu pasti begitu...."


" dia itu membuat masalah!"


" Leon, masalahnya ada padamu...itu kau pasti yang memulainya, Jimmie akan tetap kalah darimu, tapi dia itu slalu punya cara untuk membalasmu, jika dulu bibi adalah orang yang bisa dia kompori, sekarang ada Tantan..."


" sudah begini, kenapa kalau memang aku masalahnya??"


" Ya... sudahlah tidak ada gunanya aku menyalahkan..." Petter segera merebahkan tubuhnya ke ranjang.


" orang yang mampu membunuh kita tanpa senjata adalah istri kita...!" Gumam Petter.


" Benar, kita mengalami kerasnya Medan perang, hujan badai, panas kekeringan tapi rasanya tak begitu melelahkan, baru sehari di hajar dan di guyur air oleh istriku rasanya dunia sudah bubar!"


" setuju...aku akan mencoba membujuk istriku!" Petter segera bangun dan segera keluar kamar.


Leon tidak gegabah, karena istrinya sangat sulit jika sudah marah, tidak seperti istri Petter.


" Bibi, di mana kamar istriku??"


" itu, paling kanan..."


" terimakasih bibi..." Petter pun mengetuk pintu kamar sang istri .


tok tok tok...


ceklek...


" Sayang ..."


" Jenderal...."

__ADS_1


" Sayang maafkan aku, tapi sungguh aku tidak tahu apapun, aku hanya menjalankan perintah dari Panglima, tolong jangan marah padaku lebih lama lagi, aku tidak tahan..."


" Aku dan Putramu hampir terbunuh, jika Tantan tidak menyadari itu dan buru-buru datang ke rumah...."


" jika aku tahu itu akan berbahaya, aku juga tidak akan menempatkan kalian dalam bahaya..."


" Suamiku apakah kau tidak berbohong??"


" tidak, kau bisa tanyakan itu pada Panglima jika kau tak percaya padaku..."


" Aku, ..."


" Suzy, ini kesalahanku sepenuhnya... Petter hanya menjalankan perintah dariku...kau bisa mencari perhitungan padaku!" tiba-tiba Panglima sudah berada di belakang Petter membantu sahabatnya berbicara.


" Panglima..."


" Andaikan kalian tahu bagaimana situasinya,mungkin kalian tidak akan marah pada kami..." ujar Leon.


Suzy masih terdiam, berpikir sejenak...


" Bara pasti sangat merindukan ayahnya... Petter maaf sudah membawamu dalam masalah bersama istrimu..."


" Tidak Panglima...santai saja..."


Panglima pun segera memasuki kamarnya.


" masuklah Jendral..." Suzy mempersilahkan suaminya masuk ke kamar dan menutup pintu.


" Sayang, kau sudah memaafkan ku??"


" Ya, maafkan aku karena tidak memahami situasinya...kau boleh menggendong putramu Jenderal..."


" aku harus memeluk ibunya terlebih dahulu..."


Petter segera menarik Suzy dalam pelukannya.


" maafkan aku sayang, maafkan aku.... sekarang kita sudah bisa tenang"


" Ya..."


" Ayah ibumu sedang dalam perjalanan kembali, kau dan Bara akan segera bertemu dengan mereka..."


" Sungguh???"

__ADS_1


" Ehmmm, tentu saja..."


" Terimakasih, aku sangat merindukan kedua orang tuaku..."


" Ya, itu pasti..."


" Jendral, aku sangat rindu padamu juga...aku dan bara sangat merindukanmu..."


" Aku juga sayang... istriku sangat cantik ya..."


" jangan mengolokku Jenderal, aku tidak ada waktu untuk merawat diri, dalam situasi siaga perang, huh...kau menyebalkan..."


" hahahah... Sayang...apa kau bisa membantu membujuk Tantan, agar Tantan mau memaafkan Panglima???"


Petter berjalan menghampiri Putranya dan menggendong putranya karena sudah sangat rindu.


" Dia tumbuh dengan baik, terimakasih sayang karena sudah merawat putra kita dengan baik di tengah kesulitan yang melanda..."


" Itu adalah tugas seorang ibu..., untuk masalah Panglima,nanti aku akan mencoba berbicara pada Tantan ...tapi tolong cerita versi sederhananya agar aku bisa memberikan penjelasan saat membujuk Tantan nanti..."


Petter pun menceritakan semua urutan kejadiannya pada sang istri dengan bahasa yang mampu di tangkap oleh istrinya agar tidak salah paham nantinya.


" Suzy mengerti Jenderal...Suzy akan mencoba membujuk Tantan sekarang..."


" hei...tidak terburu-buru...saat ini aku sedang ingin bersamamu ..."


Petter mencium Bara dan meletakkan Bara di box bayi, lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya.


" Istriku, bukankah kau harus menyenangkan suamimu??"


" Jenderal, lihatlah tubuhmu, penuh luka, aku tidak tega... sebaiknya Jenderal istirahat dulu, jika sudah membaik, aku akan menyenangkan Jenderal dengan sepenuh hatiku..."


" Apa kau menganggapku lemah ??, ini tidak sakit sama sekali..."


Petter menjatuhkan istrinya di ranjang,


"kau tahu seorang pria itu sangat sulit menahannya, tapi aku ini sudah menahannya berbulan-bulan, apa kau masih mau membuatku menahannya lagi??"


" Jenderal tolong lembutlah..." pinta Suzy pada sang suami.


" aku tidak berjanji..."


Petter langsung mengeksekusi istrinya di tempat.

__ADS_1


__ADS_2