DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
238. Pria Lemah


__ADS_3

baru di tinggal mengambil alat, Grey sudah kejang, Ria segera memposisikan anak itu tidur menyamping untuk mencegahnya tersedak saat kejang.


kemudian Ria melonggarkan pakaiannya, terutama pada bagian leher Grey.


Ria tidak memaksa untuk menahan gerakan tubuh Grey,


Cukup menjaga agar posisi tubuh Grey tetap aman.


Ria memanggil nama anak itu dan mengucapkan kata-kata yang menenangkan agar Grey merasa lebih nyaman.


" Grey, anak baik hebat, kuat,...!"


Ria menghitung berapa lama Grey mengalami kejang.


terus mengamati kondisinya saat kejang, untuk memastikan anak itu kesulitan bernapas atau tidak , dan saat melihat wajah Grey menjadi pucat dan kebiruan , menandakan bahwa ia kekurangan oksigen, perawat segera mengambil selang oksigen, dan memasangkan pada Grey.


setelah mendapat penanganan medis yang tepat wajah Grey pun sudah mulai normal kembali, kejang sudah terhenti,


Ria mengusap kepala Grey dengan lembut,


" Apa kau juga merasakan kepedihan mama kecilmu??" gumamnya tak tega.


" Sus, jika keadaannya stabil, segera pindah kamar, agar dia nyaman...!"


" Baik Dokter!"


Ria segera masuk ke ruangannya dan mengistirahatkan tubuhnya yang sempat di buat panik oleh Grey.


...----------------...


" Zero seharusnya di sini!" Gumam Jimmie fokus pada titik koordinat.


panglima menghela nafa berat, dan memejamkan matanya.


" Di sana...!" menunjuk sebuah batu besar yang terdapat banyak rumput liar dan tinggi memenuhi sekitar batu besar itu.


Panglima dan Jimmie pun segera mendekati batu itu,


Jimmie melemparkan pisau belatinya ke arah rumput yang bergoyang di hadapannya itu.


Seketika Zero melompat keluar menghindari dan sudah siap akan menyerang balik, namun matanya dikejutkan dengan sesosok badan tegap di hadapannya.


Zero, Terkejut dengan kedatangan Panglima dan Jimmie.


Zero menjatuhkan senjatanya dan jatuh berlutut dengan penuh ketidak berdayanya.


" orang lemah sepertimu membuatku malu!" ujar Leon Zang dengan wajah yang tidak bersahabat kepada bawahannya.


" Panglima..." Jimmie menepuk bahu panglima untuk tidak terlalu keras dalam mengurus Zero.

__ADS_1


" Kenapa kau semakin tidak berguna?, kau tidak mengaggapku lagi?, kau sudah merasa sangat hebat dan, bisa melakukan segalanya sendiri??"


tak ada jawaban dari bibir Zero, Zero hanya menunduk, seluruh tubuhnya gemetaran, antara takut pada Panglima dan dendamnya yang masih begitu menggebu.


" Patahkan kakimu sendiri Zero, bukankah itu konsekuensinya jika kau gagal??, kenapa??? kau tidak mau bertanggung jawab atas kegagalanmu??!, kau tidak bisa menjaga keamanan teammu aku kecewa padamu!"


" Panglima, ..." Dengan mulut bergetar hebat, Zero berusaha berbicara, peluhnya berjatuhan hebat, Panglima hanya berdiri dan melotot di hadapannya saja dia sudah kehilangan seluruh tenaganya, nyalinya langsung menciut seperti kerupuk yang tersiram air.


" Apa???"


Jimmie mendekati Zero dan berjongkok,


" Tenanglah, aku juga gagal...kita akan mendapati hukuman bersama nanti, tapi kau memang salah, karena tidak kembali melaporkan kegagalan misimu, kau tidak menghargai Panglima sebagai atasanmu, ini adalah misi, gagal atau berhasil sebagai ketua kau yang harusnya menghadap melapor,bukan bawahanmu, dan lagi kau tidak bisa mencampur adukan masalah pribadimu dengan tugas Panglima meskipun itu saling bersangkutan, kan sudah ku bilang jangan mainkan perasaanmu saat sedang bertugas, apa kau ini tidak mengerti??" ujar Jimmie menasehati Zero.


" Tapi,..."


" Zero, ini misi penting...kau tidak bisa meletakkan kepentingan pribadimu di atas kepentingan negara yang sedang sangat tidak baik-baik saja!"


" Aku akan mencari Pria itu, sepertinya itu yang bernama Lux's aku akan membunuhnya!"


" Zero, kau ini tidak tertolong!" tegas Panglima sangat kesal dengan Zero.


" Zero, jika kau membunuh Lux's kau sama saja menghancurkan rencana panglima, Lux's hanya kaki tangan saja, di belakangnya masih ada lapisan besar, yang harus Panglima brantas tuntas ...tugasmu hanya menyelamatkan keluarga Josh,tidak ada yang lain!"


" Tapi aku sangat ingin membunuhnya, dia menyetubuhi Nisa dihadapanku, benar aku sangat tidak tertolong!" Zero menarik keras rambutnya dia sangat frustasi.


Panglima dan Jimmie terbelalak mendengar ucapan Zero.


" Apa??, bukan hanya itu Lux's memberikan Nisa untuk digilir oleh 5 orang asing, tapi aku tidak bisa menolongnya, aku diikat dengan rantai kuat, aku ,aku sangat lemah!" masih menarik-narik rambutnya dengan sangat keras.


Panglima dan Jimmie saling memandang, itu jelas naluri sebagai seorang yang juga memiliki tambatan hati, mereka berdua pasti juga akan sama hancurnya dengan Zero.


Panglima memegangi keningnya, karena cukup pusing dengan banyaknya tragedi di luar rencana.


" Kau tidak bisa terburu-buru Zero..." Kini suara Panglima terlihat sangat lembut.


" Benar itu, kau tidak akan bisa melawan monters biadap itu hanya dengan tanganmu sendiri!"


" Kau adalah orang yang bertanggung jawab dalam teammu, sekarang kembali ke basecamp, Nisa adalah tanggung jawabmu sekarang, misimu selesai, hukumanmu adalah mengurus Nisa sampai dia sembuh!"


" Tapi, Panglima...!"


" Urusan dendam itu ??"


Zero mengagguk...


" Aku akan membawa Lux's hidup-hidup, bukan hanya Nisa korbannya juga banyak, kalian bisa merajamnya sampai mati, tapi tidak sekarang, aku harus fokus pada mertuaku dulu agar bisa segera mengambil alih kursi pemimpin itu!"


" Panglima, apakah aku juga mendapatkan hukuman yang sama??, aku akan bertanggung jawab pada Ria!"

__ADS_1


" Tentu saja!"


" Oh Panglima kau memang paling bijaksana!"


" Aku belum selesai bicara, tentu saja kau masih harus lanjut denganku, kau tidak bisa kembali ke markas sekarang!"


" Bukankah aku di beri waktu istirahat??, ish menyebalkan!"


" Kau sudah membaik, waktu istirahat habis!"


" Leon, aku bukan anak buahmu, aku tidak mau patuh padamu!"


" Tak masalah, aku bisa membuat Ria membencimu!"


" Cih, kau ternyata pria lemah, yang hanya bisa mengancam, banci!"


" Aku tidak butuh pendapatmu, Zero kumpulkan semua bukti yang kau dapatkan, kirimkan semua ke email Jimmi, kau cepat kembali ke bascamp!"


" Baik!"


Zero segera pergi meninggalkan Jimmie dan Panglima.


" Aku malas tidak mau membantumu!"


" Kita kembali ke tempat Istriku!"


" Ciiiihhhh, kau membuatku jauh dari calon istriku, dan kau seenaknya mendatangi istrimu, tidak adil!" menggerutu kesal .


" Ini hukumanmu karena gagal !"


" lebih baik kau mematahkan tanganku itu lebih baik!"


" Nanti itu pasti akan ku lakukan, di malam pertama pernikahanmu!"


" Leon ,kau ini keterlaluan!"


" Sudah di beri keringanan tapi kau malah tidak menghargainya, apa mau ku patahkan Joni mu agar kau tidak bisa memiliki Jimmie Junior??"


" Ck...kau ini menyebalkan, kenapa Tantan mau dengan orang menyebalkan sepertimu!"


berjalan mengikuti langkah cepat Panglima. mereka segera masuk mobil dan pergi.


" Jimmie, biarkan Ria tetap di Basecamp Zero, di sana sangat aman!"


" Aku tahu, seharusnya kau juga membiarkan aku juga tetap di sana!"


" sekarang katakan tentang ajudan itu!"


" Nanti saja, aku masih kesal padamu...!'

__ADS_1


Panglima pun mengangguk, dan fokus pada perjalanannya, karena hal itu bisa dibicarakan nanti saat sudah sampai.


__ADS_2