DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
275. Mengejutkan


__ADS_3

Sementara itu Panglima masih meratapi nasibnya di dalam kamar,menunggu adanya keajaiban dunia yang mencerahkan hati Singa betinanya.


tok tok tok...


" Panglima aku Jimmie..."


" Pergilah, aku tidak ingin melihatmu..."


larangan adalah kata perintah untuk seorang Jimmie, Jimmie pun segera masuk ke dalam kamar.


" apa kau itu tuli???"


" tidak!,...kau tahu, aku hanya tidak pahaman saja..."


" Berengsekkk!!, jika kau ingin menertawakanku, tertawa saja..."


" hei Leon...aku sudah puas menertawakanmu , karena aku tahu hal seperti pasti akan datang...aku hanya ingin membicarakan hal serius denganmu..."


" hmmm" Panglima masih membelakangi Jimmie.


" Ayo kita bicarakan langkah selanjutnya...aku tidak bisa menjadi bayangan Paman Hatta selalu, aku ingin meminta kebebasanku Leon..."


" Kalau begitu, perbaiki kabinet - kabinet yang ada, dan carilah seseorang yang mau menggantikan posisi ayah mertua dan perbaiki citra kepolisian dengan aturan baru, begini jadinya jika uang yang menentukan kelayakan seseorang masuk"


"Aku akan membersihkan semua dan menggantinya dengan yang lebih baik, perihal sogok menyogok, suap menyuap, dan juga korupsi sebaikanya di hukum mati...tidak ada kesempatan kedua bagi orang serakah!"


" Hem,.. setelah itu kau bisa mengambil kebebasanmu ..."


" Ya, jika bukan karena kau temanku, aku juga tidak mau tahu, mau negara ini menjadi lautan darah aku tidak perduli, aku tahu kau dan Petter sudah bekerja keras untuk menjaga negara ini, maka aku tidak bisa mengaku sebagai teman kalian jika aku hanya menutup mataku..."


"Saat otakmu waras kau terlihat, seperti orang normal Jimmie..."


" Brengsekkk, memangnya aku tidak normal apa??, sialan kau!!"


" Kau istirahatlah Leon, aku akan mencoba berbicara pada istrimu..."


" Ya... terimakasih!"


Jimmie pun segera keluar dari kamar Leon dan segera mencari Tantan untuk di ajak berbicara...


" Adikku..."

__ADS_1


" Oh abang Jim...di mana Ria??"


" Ria sedang berbicara dengan Bibi...besok orang tuanya akan datang, oya...Bibi chu juga akan dibawa kembali ke sini..."


" Sungguh???" Tantan terlihat sangat gembira.


" Ehmmm dia kan membantu Paman Anton bukan membuat roti di perbatasan "


" Ya aku dengar begitu..."


" hemm kalian bisa bersama lagi sekarang.."


" Ya,aku sangat senang..."


" Yo... tapi apa kau masih mau menghukum suamimu??"


" apa kau di sini berniat mambantunya berbicara??"


" Ya, dia tidak ada pilihan lain membuat kau dan anakmu menjadi target, karena musuh sangat tahu kau kelemahan Leon , tapi jika kau tidak di tempatkan di distrik militer, Aku ,Zero dan juga Petter tidak akan bisa menyelesaikan misi kita, dan kita tidak akan bisa memegang kembali kedamaian "


" jadi kami adalah alatnya untuk mencapai kesuksesan misi kalian??"


Tantan masih diam,


" oiii Gala ...ayahmu sangat merindukanmu...bujuklah ibumu untuk berdamai dengan Ayahmu...kau juga merindukan Panglima bukan nak??" ujar Jimmie menoel - noel pipi Manggala dengan lembut.


" Dia sudah mendapatkan hukumannya dengan baik, seharusnya kau tak begitu keras hati Tantan..."


" Ya aku mengerti..."


" ehmm baiklah kalau sudah mengerti, aku akan kembali pulang, karena masih banyak yang harus kami siapkan..."


" oh ya bang, semoga berjalan lancar, oh ya bang... memangnya Yesa kemana??, apa tidak ikut dengan Panglima lagi??"


" apa Panglima belum memberitahumu??"


" memberitahu apa??"


Jimmie terdiam,


" Aku akan memberitahumu sekarang Tantan..."

__ADS_1


" Apa dia kembali hidup bersama keluarganya??"


Jimmie menggeleng kepala,


" Yesa gugur "


" Apa??, jangan bercanda itu tidak lucu sama sekali abang..."


" aku tidak tahu kenapa Leon belum memberitahumu, tapi mungkin dia tidak ingin membuatmu bersedih..."


" Apa itu benar??, abang kau tidak sedang menggodaku kan??"


" aku tidak berani membawa kematian untuk bahan candaan Tantan..."


" Kau bisa bertanya pada suamimu, bagaimana dia bisa gugur..."


Air mata Tantan mengalir begitu deras, Tantan segera mengambil Manggala, lalu menyerahkan pada Maya.


" Ibu, tolong titip Manggala sebentar... Tantan ingin berbicara hal penting pada Panglima ibu..."


" Oh okey, baiklah sayang .." Maya segera menggendong Manggala, dan Tantan pun segera menuju kamar Panglima dengan tergesa-gesa dan berlinang air mata


Jimmie melihat ke arah Tantan yang terlihat sangat terpukul, dengan kabar yang di dengarnya, tapi itu memang cara Jimmie untuk membuat keduanya, memiliki waktu berbicara berdua dengan serius, barang kali dengan itu keduanya bisa berbaikan.


Ceklek...


" Apa lagi Jim...Sayang...kenapa kau menangis??" Panglima sangat terkejut karena tiba - tiba istrinya masuk dengan air mata yang berlinang.


Panglima berjalan mendekati Tantan karena sangat khawatir, apa yang membuat istrinya yang sedang mengajak perang itu tiba-tiba datang dan menangis.


" Apa aku menyakitimu??" tanya Panglima dengan lembut.


" Kenapa???...kenapa??, hiks hiks..."


" Apa sayang??, katakan apa yang mengganggu mu??"


" Kenapa kau menyembunyikan kenyataan bahwa Yessa sudah tiada???"


Jedyeeeeeeer....


pertanyaan Tantan membuat Panglima merasa di pukul, karena Panglima belum siap untuk memberitahu hal itu, bagaimana istrinya bisa tahu?

__ADS_1


__ADS_2