DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
214. Upaya seorang Istri


__ADS_3

" Lihat itu Tom dan rekannya mengakui semuanya, mereka akan di eksekusi...!" Ujar Tantan.


"wah akhirnya dia menemui akhir hidupnya!" sahut Yesa.


" Keluarganya sudah ditangan kita!"


" Oh ya??, apa Panglima akan membantai keluarga Tom??"


" Tidak, sebenarnya aku menyelamatkan keluarga Tom, aku ingin memakai keluarga Tom untuk membuat Tom membuka sendiri kebusukan dalam pemerintahan kita!"


" Wah, padahal itu rencana tom pada kita sekarang dia ada posisi yang dia rancang untuk kita!"


" Ehmmmm... yang menanam pasti akan menuai...!"


" Tapi itu terlalu mudah mereka mati, aku ingin melihat mereka menderita!"


" Hukuman Tuhan itu lebih pahit sayang, kau sedang hamil jangan mengikuti dendammu, dia juga akan mendapatkan siksaan sebelum di eksekusi nanti...!"


" Wooo sungguhankah??"


" Itu nanti dulu, yang terpenting kita ikuti skenario seseorang dulu...agar aku , ayahmu dan Jendral lepas dulu!"


" Okeoke...!"


...----------------...


beberapa Minggu kemudian tersiar berita, bahwa para polisi itu berhasil menyelamatkan Wapres dan menangkap ajudan dan beberapa orang yang terlibat,


Ajudan itu di jebloskan kepenjara .


namun tidak tersiar kabar di sana tentang keluarga Panglima, padahal keluarga Panglima ada di sana juga.


" Hahahahahahaha...pembodohan macam apa iini, mereka pikir mereka sedang main Film??" Panglima tertawa melihat hal seperti itu tersiar.


namun saat itu juga mereka menyatakan bahwa Panglima, perwira dan Jendral akan segera di bebaskan.


" Oh oh, oh sial aku harus kembali ke rumah sakit...!"


" ayo Panglima saya antar....!"


" Oke, setelah ini kau jemput mertuaku dan Je ndral, dampingi mereka.


" Baik,...!"


" Sayang aku kembali dulu !", panglima mencium kening Tantan segera pergi.


" Akhirnya kita hampir menang!"


ujar Yesa.


" Kau kira sudah, belum lah, setelah ini mereka akan mengancam ayahku, panglima, Jendral untuk mengikuti mereka, untuk bergabung dengan mereka, dengan menggunakan keluarga Panglima!"


" Wah liciknya,...!"


" Mereka merasa berjasa karena sudah membersihkan nama ayahku, jendral dan suamiku, mereka meminta imbalan untuk ikut bersandiwara dan menutup!"


" Wah sungguh mereka merasa berkuasa dan bisa melakukan segalanya!"


" Mmmmmm benar!"


...----------------...


di depan Rutan


" Pak kita sudah setiap hari menunggu di sini, namun tidak ada seseorang yang kau maksud datang, apa anda mencoba membodohi saya??"


" Tentu saja tidak, ada beberapa orang yang slalu membesok Jendral dan perwira !"


" tapi ini sudah 2 minggu pak!"


" Tenanglah bu...bersabar...!"

__ADS_1


Tak lama turunlah Jack dari mobilnya,


" Itu...itu dia orangnya, cepat temui dia dan ajaklah berbicara!"


istri Ajudan itu segera berlari menuju pada Jack,


" Tuan tuan...tolong berhenti....haahhh hahhh!" Nafas ibu itu terngah - engah.


" Ada apa bu??"


" Tuan saya ingin berbicara dengan anda sebentar!"


" Katakan bu, saya tidak banyak waktu!"


" Tuan saya adalah istri Ajudan Pras...!"


" Ya, lalu??"


" Tuan apa anda bisa menghubungkan saya dengan keluarga Panglima atau pada panglima sendiri??"


" katakan pada saya, saya akan sampaikan, terakhir sebelum kejadian itu terjadi suami saya pulang dan meminta saya untuk mencaro keluarga Panglima jika sampai terjadi apa-apa padanya, ...!"


" Memangnya apa yang anda inginkan jika bertemu keluarga Panglima??"


" Saya tahu saat ini keluarga Panglima tidak akan keluar dan sedang bersembunyi, dan mungkin lebih baik saya bertemu langsung dengan Panglima apakah boleh??"


" Panglima berada di rumah sakit, anda tidak bisa menemuinya, beliau sedang di rawat karena tembakan!"


"Jadi tidak bisa, tapi bagaimana bisa saya mempercayai orang lain...?,saya tidak bisa percaya dengan mudah pada orang lain, kata suami saya begitu!"


" Begitu juga dengan kami bu, kami sedang dalam proses pembersihan nama baik...!"


" Tuan, kenapa panglima dan yang lain bisa dibersihkan namanya, sedangkan suami saya tidak , saya yakin.... suami saya hanya menjadi kambing hitam saja...mungkin dia mendapatkan ancaman...sehingga mengharuskannya menerima, dia mengatakan perintah atasannya tidak bisa ditolak...!"


" Memangnya ibu dan anak inu sekarang berada di mana??"


" Saya di sembunyikan oleh beberapa polisi, kebetulan salah satunya masih memiliki hati nurani, sehingga dia membantu saya untuk mencari seseorang yang berhubungan dengan keluarga Panglima...saat dia yang menjaga kami, dia akan membantu saya menyamar, dan datang dan menunggu di sini...!"


" Lalu di mana anda menemui saya?"


" Tenang saja ibu, mudah mencari anda di manapun anda sembunyi, ingat untuk membawa ini di mana pun anda berada!"


" Oh baik...!" Istri Ajudan itu sangat paham.


" Saya masih ada urusan permisi ibu!"


" Baik...!" ibu itu pun segera kembali


" Apakah berhasil meyakinkannya nyonya??"


" Tidak tahu, mereka akan mencariku, jika percaya padaku...aku yakin panglima dan yang lain ini juga korban, sampai mereka tidak percaya dengan siapapun!"


" Syukurlah setidaknya masih ada secerca harapan!"


" Pak kita kembali...!"


" Baik...!"


Sementara Jack masih mendampingi Jendral dan ayah Tantan dari proses pembebasan.


" Jack kau tidak perlu menunggu kami, kami tetap akan di penjara, ini hanya formalitas, kami hanya di pindah tempat saja setelah tersiar kami di bebaskan!" Ujar Ayah Tantan.


" ya benar Jack sekarang kau lihat Panglima!"


" Panglima meminta saya mendampingi kalian!"


" benar katakan saja kau sudah melakukan tugasmu sekarang kau kembali padanya dulu!"


" Baiklah, ...!" Jack pun segera menuju ketempat Panglima dirawat.


di luar rumah sakit ternyata di penuhi wartawan, Jack pun lewat pintu lain.

__ADS_1


" Mnegerikan sekali wartawan ini, takutnya mereka cosplay menjadi dokter dan menyelinap masuk untuk mencari informasi!"


Jack melompat dari dinding paling terabaikan di rumah sakit.


saat sampai di ruangan Panglima, terlihat Doney berdebat dengan beberapa Dokter di depan pintu.


" Apa - apaan ini??"


Jack pun segera berbalik dan masuk lewat jalan jendela.


" Haaaahhh, apa - apaan kau ini mengaggetkan saja!" Ujar Panglima.


" Hehehe... Panglima apa yang mereka ributkan diluar??"


" Entahlah, sepertinya ingin mengambil alih untuk menanganiku!"


" Lalu apa yang kau lakukan??"


" Aku sulit memasang perban, Doney sedang mengulur waktu untukku, cepat bantu pasang alatnya, aku akan memberikan kejutan untuk mereka!" Panglima segera membaringkan tubuhnya Jack membantu Panglima memasang semua alatnya dengan benar Jack juga menguasai ilmu kedokteran .


" Panglima kenapa anda tidak menjadi aktor saja??"


" Cepat jangan bawel...aku sudah tidak sabar melihat muka kecewa mereka!"


" Sudah, selesai....!" Jack segera bersembunyi di langit -langit untuk menonton.


" Tidak biarkan panglima itu dibawah penangananku, kami tidak percaya dengan dokter yang dikirim oleh pemerintah!"


ujar Doney,


Penjaga yang menjaga pun siap mengahalangi pintu masuk


" ini sudah sesuai prosedur rumah sakit sudah mengijinkan!" menunjukkan surat ijin


Aku sudah menahan mereka cukup lama, apakah Panglima sudah selesai memasang perban dan alatnya,.jika sudah dengan surat ijin aku juga tidak bisa menghalangi lagi


dalam hati Doney.


" Dokter Doney menyerahlah, seharusnya anda berdiri di pihak yang kuat...!"


Doney pun meemberi isyarat pada penjaga untuk tidak menghalangi lagi.


Beberapa Dokter itu masuk dengan senyum kemenangan.


Doney segera melihat ke dalam,


Oh rupanya Panglima sudah pro dalam alat-alat medis


Doney merasa lega.


" sepertinya operasinya sangat sukses, semua normal kenapa dia tidak bangun, seharusnya dia sudah sadar buka??"


" Seharusnya, namun tidak tahu kenapa Panglima masih tidak sadar...!"


" Oh baiklah untuk berjaga-jaga saja, ...!" Dokternya itu menyiapkan beberapa suntikan untuk Panglima.


" Itu, apa??, Panglima tidak perlu mendapatkan suntikan apapun!"


" Tenanglah ini hanya akan menghilangkan akal sehatnya saja...jika dia mati ya tidak masalah, namun jika dia masih berumur panjang maka dia akan lupa dengan dirinya sendiri!"


" Jangan!" Doney berusaha merampas namun beberapa orang bawaan itu memegangi Doney dengan sangat kuat.


" Lepaskan!"


" Lepaskan!"


" Dokter....ikuti saja aturan, bahwa menjadi dokter itu tidak harus slalu berhati nurani!"


Dokter itu sudah hampir memyuntikkan pada Panglima .


" Dokter... sungguh sial orang tuamu yang sudah membesarkanmu!"

__ADS_1


" Aaaappaaaaaaa??" Dokter itu terkejut melihat Panglima berbicara.


__ADS_2