
" tunggu , pistol semalam! " Tania teringat akan pistol di dalam lemari Leon.
Tania segera berlari ke kamar Leon Zang dan membuka lemari mencari pistol yang dia lihat kemarin.
" ah, ini seperti pistol ayah yang aku curi saat itu!, ada kode 27 jika itu punya ayah!" Tania melihat dengan teliti pistol yang di pegangnya.
Dan terlihat jelas kode 27 seperti pistol milik ayahnya 5 tahun yang dia curi.
" apa?, jadi, jadi orang yang selama ini aku cari adalah Panglima?, tunggu!"
Tania mengingat pembicaraannya dengan panglima semalam.
Jadi yang dikatakan semalan itu benar dia?, jadi selama ini aku tidak menyadarinya?, pistol ini masih belum membuktikan jika dia orang yang aku ajak menikah, jika itu dia ,dia pasti memiliki kalung yang aku berikan...
jika itu benar dia jadi selama ini aku dipermainkannya?
dalam hati Tania yang tak karuan antara kesal, penasaran, sedikit lega, juga ingin marah campur menjadi satu.
" aku harus mencari Panglima! " Tania bergegas keluar dengan membawa pistolnya mencari Panglima.
" Tantan, kau mau kemana membawa pistol?, kau mau menembak siapa?" tanya Suzy terkejut.
" Panglima!" dengan wajah kesal dan tergesa-gesa.
" apa panglima? apa kau gila?" Suzy salah paham dengan perkataan Tania.
Dan mengekor Tania mencari Panglima.
" apa kau melihat Panglima? " Tania bertanya pada senior yang ditemuinya
" Dilapangan tembak!"
" Terimakasih! "
Tania segera menuju lapangan tembak untuk mencari Leon Zang.
" Itu wanitamu!" ujar Jendral Petter memberitahu.
" ah, dia sudah menemukannya!"
DOOOOORRRRRRR
Leon masih fokus menembak.
" Jendral tolong hentikan Tania, dia ingin menembak panglima! " Teriak Suzy dari kejauhan.
Melihat Tania membawa pistol Jendral patter segera menghadang Tania dan membekuknya dengan sigap.
" Ach, Sakit!" Tania merintih kesakitan.
" Lepaskan pistolmu, apa kau cari mati?" tegas Jendral Petter.
" Tidak!!!"
Jendral Petter menekan lebih keras.
" Achhhhh, ssssst!"
" Petter lepaskan!" perintah panglima.
" tapi dia akan menembakmu!"
"apa kau tidak mendengar dia kesakitan?, Lepaskan!!"
" Tidak Panglima! "
bbbbbbbuoooooookkkkk
Panglima memukul Jendral Petter hingga terjatuh.
" Astaga, tidak jangan bertengkar! " teriak Suzy ketakutan.
Leon Zang membantu Tania untuk berdiri,
" Apa kau baik-baik saja?"
tanya Leon Zang lembut.
__ADS_1
" Panglima,..." ujar Tania yang berusaha menenangkan dirinya.
" Pelan - Pelan katakan!"
" aku tidak bermaksud menembakmu, aku hanya ingin bertanya, dari mana panglima mendapatkan pistol ini?"
" apa?" Jendral Petter terkejut.
" Aku dihadiahi oleh seseorang! "
" ah?, siapa panglima? "
" Gadis kecil yang ku selamatkan 5 tahun yang lalu"
" Jadi, jadi itu adalah Panglima?, kenapa Panglima tidak mengatakannya padaku?, apa panglima sedang mempermainkanku?"
" kau seharusnya tahu jawabanya!"
"Apa?, jadi kau kira aku apa kau permainkan seenaknya???" Tania mulai marah.
" itu hukuman untuk anak nakal sepertimu, bagaimana bisa kau melupakan nama orang yang kau ajak menikah? jika kau lupa parasku aku maafkan, jika kau melupakan namaku itu tidak termaafkan!!"
" tokkkk!" Leon menyetil kening Tania keras.
" aauuuuhhhh!"
" apa? jadi Tantan tidak bermaksud menembak panglima? " ujar Suzy sambil melirik ke arah Jendral Petter .
" Makanya kau harus menjaga mulutmu!, Maafkan aku tania sudah menyakitimu!" sambil berlalu pergi.
" eh ini aku akan canggung jika di sini, Jendral tunggu! " Suzy mengikuti Jendral Petter.
sekarang hanya tinggal mereka berdua, yang saling berdiam tanpa sepatah kata.
Leon mengangkat senjatanya dan kembali menembakan senjatanya untuk memecah keheningan.
" apa kau menyesal jika itu aku?" tanya Leon sambil fokus ke papan target.
" Baiklah, memang salahku jika aku melupakan namamu, tapi kau juga keterlaluan mempermainkanku seperti ini!"
" aku tidak mempermainkanmu, aku sedang menghukumu dan ingin tahu seberapa tekad anak nakal yang menjajikanku sebuah pernikahan?"
Panglima meletakkan senjatanya dan menarik Tania kepelukannya.
" Hei apa yang kau lakukan panglima?"
" aku ingin memberikan salam pertemuan pada calon istriku! "
" siapa calon istrimu?, aku belum percaya jika itu kau!"
" tenang saja, aku masih menyimpannya dengan aman, hanya saja jika aku memberikan bukti, selain itu bisa membuatmu percaya, apa lagi yang akan kau berikan untukku?"
" apa?"
" apa saja, bukankah kita sudah berjanji akan menikah?, apa kau akan ingkar janji?"
" memang kau mau apa?" tanya Tania kesal.
" tentu saja dirimu!" melepaskan pelukan dan mencubit pipi Tania gemas.
"Tiiiidaaaak!" Tania menyilangkan tanganya ke dada.
"tooook!!!" Leon menyetil kening Tania dengan keras.
" Auuuuuuuhhhhhhh, sakit kau kasar sekali! "
" otakmu sangat kotor, perlu di berisihkan!" ujar Leon Zang berlalu pergi.
" apa siapa yang kotor, kau ,kau itu yang kotor, menyebalkan!" Tania segera mengikuti Leon yang melangkah kan kakinya kembali ke paviliun.
" mana bukti nya?" Tania menagih dengan tidak sabaran.
Leon duduk diruang tamu dengan santai.
Tania mendekati Leon, dan menggoyakan tubuhnya,
" mana bukti lainnya!"
__ADS_1
" Mikel,...! " Leon memanggil Mikel,
Mikel pun mendekati Leon, Leon mengambil kalung yang melingkar di leher Mikel, dan membuka kotak kecil yang harus di buka dengan Sandi, tak lama kotak itu pun terbuka.
Leon mengeluarkan kalung yang ada di dalamnya,
" apa ini membuatmu percaya?" tanya Leon.
" oh , itu benar-benar kau panglima?" Tania seakan Tak percaya
Leon menarik Tania kepangkuannya, dan membuat Tania terkejut.
" Aku sudah menunggumu selama ini, akhirnya kau datang!" Ujar Panglima sambil mengalungkan kalung tersebut ke leher Tania
" Terimakasih sudah menyimpanya, pantas saja Mikel tidak menyerangku, karna dia pasti sudah mengenal bauku lewat kalung ini! "dengan wajah girang sambil memegangi kalungnya.
" Ya, Terimakasih juga karna sudah datang!" Leon merangkul pinggang Tania dan menyandarkan dagunya di pundak Tania.
" Tantan, ahhhhh maaf aku masih ada urusan!" Suzy segera putar balik keluar.
astaga, aku tidak melihat apa-apa?
dalam hati Suzy yang ikut bahagia.
" sahabatmu cukup pengertian!" ujar Leon Zang.
" apa yang kau pikirkan? "
" mmmm, tidak ada, hanya saja kau tumbuh dengan baik dan terlalu cantik sekarang, aku dulu selalu berpikir kenapa aku mau menunggumu?"
" lalu apa alasanmu mau menungguku?"
" Dulu aku menerima janjimu karna aku sangat penasaran denganmu saat besar, karna kau saat kecil sangat cantik dan juga pemberani, aku tidak memungkiri kau sangat cantik sekarang tapi aku tidak menyangka kau ini sangat bodoh!"
" astaga, kau menyebalkan sekali Panglima! "
Tania memukul lengan Leon keras.
" ahhhh, kau memukul lukaku!" teriak leon.
" maaf ,maaf, maaf darahnya menembus pakaianmu, lukamu pasti terbuka!" Tania segera berlari mengambil kotak p3k.
" Lepaskan bajumu!"
Tania membantu membuka kacing baju Leon karna merasa panik, Leon menahan tawa melihat ekspresinl Tania.
" Permisi, Tantan aku minta maaf karna sudah,ohhhhh aku lupa jika ada perlu, aku akan meminta maaf lain kali! " Jendral Petter segera pergi dengan kilat.
Astaga, mereka sangat tidak sabaran, kenapa tidak mengunci pintunya?
dalam hati Jendral Petter menggeleng kepala.
" Jendral sepertinya salah paham?" ujar Tania serba salah.
" biarkan saja!, jadi mengobati atau tidak!"
" oh baiklah! " Tania lanjut untuk mengobati luka yang terbuka yang disebabkan olehnya.
" Maafkan aku , Panglima aku tidak sengaja! "
" mmmm aku tahu!"
sambil membalut luka dengan perlahan, Leon mengamati Tantan lebih dekat.
Leon membelai rambut indah Tantan yang terurai yang mebuat jantungnya berdetak kencang karna terpesona akan kecantikan Tania.
" Aku rasa aku memang sudah jatuh cinta padamu saat itu, saat kau mengajakku menikah!" ujar Leon lirih.
jantung Tania pun bergup sangat kencang, mendengar kata-kata Leon Zang, Leon mendekatkan wajahnya perlahan pada Tania.
Bersambung...
Author
Like dan komen jangan lupa guys
__ADS_1
terimakasih.