DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
195. Tervonis


__ADS_3

Dan yang dikhawatirkan oleh Tantan pun benar,


Panglima terbukti menjadi penghianat yang sebenarnya bersama Sang Jendral.


Kabar itu tersebar luas, bahwa Panglima dan Jendral beserta keluarganya adalah Penghianat yang sebenarnya, semua keluarga panglima pun menjadi buronan negara, wajah keluarga panglima dan Jendral pun terpampang di setiap media .


" Bagaimana ini Tom, sudah berhasil merekayasa bukti untuk menjatuhi hukuman eksekusi pada Panglima dan Jendral!"


ujar Tom.


" Bagaimana dengan Ayah Tantan? apa Dex sudah mengurusnya?"


"Karna lokasinya ku lewati, aku ambil alih,Beliau hanya memberikan lembaran ini, beliau mengatakan, tidak akan bersembunyi beliau akan menghadapinya bersama Panglima dan Jendral!" ujar Zero memberikan lembaran pada Jimmie


" Zero, apa semua sudah aman??"


" Sudah kata Jack dan Dex semua sudah aman termasuk mertua Jendral di negara X!"


" Hemmm syukurlah, kenapa Perwira mengembalikan bukti asli ini?"


" Tidak tahu Jimmie!"


" Coba ceritakan kronologinya selama kau menjalankan tugasnya!"


Zero menceritakan semua dengan detail dan jelas


" Jadi misi terakhir kalian melakukannya sesuai arahan Jack dan Dex?, tidak meminta pertimbangan Tantan?"


" Nyonya sedang kurang enak badan, jadi semua ditangani oleh Jack dan Dex...!"


" Untuk hal semacam itu kedua anak itu memang ahlinya, tapi kelemahan mereka tidak bisa menebak alur yang akan di mainkan musuh, jadi sebenarnya itu Tom sudah tahu identitas kalian, Tom sangat pintar dia tidak langsung membunuh kalian, tapi berpura - pura percaya pada kalian, kepercayaan itu adalah senjatanya untuk menyerang Panglima, karena mereka tahu kalian akan melaporkan pada Panglima, mereka mengambil bukti kalian membunuh orang dan menunggu kalian melapor pada Panglima!"


" Ah, benar kata Panglima kita sudah menggigit umpan dan meminta mengamankan keluarganya, lalu bagaimana ini??"


" kau kembali saja ke bascamp dan berikan lembaran ini pada Tantan, katakan kita hanya memiliki waktu 20 hari untuk menyelamatkan Panglima dan Jendral setelah divonis!"


" Apa sungguh akan dieksekusi Panglima dan Jendral?"


" Ya, ... barang kali Tantan bisa memberi ku petunjuk di mana aku harus menemukan akarnya !'


" Baiklah...apa mau menitip pesan pada sang pujaan hati?"


" kau masih ada waktu bercanda Zero?"


" Mana ada bercanda??"


"Sudah kau cepatlah ke bascamp, kabari aku secepatnya!"


" Hem...!"


Mereka pun segera berpisah menuju tempat tujuannya masing-masing.


...----------------...


Tahanan militer


" Panglima, apa keluarga ku sudah aman??" tanya Jenderal pada panglima.


karena posisi Sel Mereka berhadapan.


" Aman...sangat aman...!"


" Baiklah...aku bisa pergi dengan tenang!" Ujar Jenderal Petter.


" Jika kita mati, anak kita akan menjadi Yatim!"


" Haaaaaaah....!" Jendral Petter meneteskan air matanya.


" Manangis juga bukan sebuah solusi Jendral...!"


" Bukan karena aku takut anak kita akan menjadi Yatim karena kita mati!"


" Lalu??"


" Mereka akan menanggung gelar anak seorang penghianat seumur hidupnya, bagaimana bisa mereka akan hidup?, dia akan membenciku nantinya!"

__ADS_1


" Jenderal, kenapa kau berputus asa??, Tuhan memberikan wanita hebat untuk kita, jika pun kita mati, maka negeri ini tidak akan mungkin damai!, kita memiliki kekuatan sendiri di balik pemerintah, mereka tidak akan diam dengan semua ini!"


" tapi...itu akan menunjukkan jika kita benar-benar penghianat bukan?"


" Mana bisa begitu, aku percaya Tuhan memberikan aku wanita yang hebat, aku akan percayakan pada istriku dengan kehendak Tuhan!"


" Tania sangat ceroboh panglima, bagaimana bisa dia mengatasi permasalahan besar ini!"


" Aku tidak butuh kritikmu terhadap istriku, dia wanitaku, kita memang sangat dekat tapi aku yang paling tahu tentang istriku!"


" Sehebat apa pun dia tetap wanita Panglima, ada kalanya dia juga lemah!"


" Jika kau tidak menyukai istriku, diamlah Jenderal!, sejauh ini jika istrimu tidak berada di samping istriku, apa yang terjadi kau yang tahu sendiri!"


" Panglima, itu karena penjagaan dari anak buah Jimmie bukan sepenuhnya istri mu!"


" Jenderal, kenapa kau tidak menerima tawaran semua orang yang menawarkan kerja sama padamu, maka kau bebas dan keluarga mu aman!, aku sudah memintamu untuk menggigit upannya...bukan?, sekarang terlambat sudah untukmu menyesal!"


" Panglima bukan begitu...mana mungkin aku menghianati pertemanan kita, maafkan aku, karena terlalu terbawa emosi!"


" Maka tenanglah Jendral, ku harap kau tidak akan menyesali keputusanmu!"


" Lebih baik aku mati bersamamu sebagai penghianat, dari pada aku hidup karena menghianatimu!"


" Hem...aku maafkan hal tadi tapi tidak lain kali Jenderal!"


" Jika masih ada kesempatan lain kali, lebih aku mengulanginya Panglima!"


" Hahahah ingin ku pukul tapi jauh...hem...jika ada kesempatan hidup, maka aku tidak akan membuat Tantan dan keluargaku kesusahan lagi, sepertinya aku terlalu lunak sehingga mereka menginjak semua apa yang sudah aku korbankan untuk negeri ini, aku harus lebih kejam lagi untuk menyelamatkan keluargaku dan keturunan ku nanti agar hidup damai di tanah air!"


" kita sudah dijatuhi hukuman mati bukan?"


" Ya, Tom sangat tidak sabar untuk membunuh kita!"


" Jalan cepatnya adalah menemukan kekuatan di belakang Tom!"


" apa sangat cukup waktunya??"


" Justru saat ini mereka akan mulai menampakan dirinya bukan??"


" Nah, kau cukup cepat memahami situasinya, untuk masalah membuat keributan istriku ahlinya Jenderal!"


" Istriku juga sangat ahli panglima, apalagi jika bersatu dengan ibumu , istrimu dan juga Ayahku!"


" Heeeeeeeh...!" Panglima tersenyum lebar


" Jika sampai aku keluar dari penjara lihat saja aku akan menebas kepala mereka dengan tanganku sendiri!"


" Kalem Jenderal ,kita masih di dalam penjara, jika kau seperti itu apa bedanya dengan mereka!"


" Benar, benar kalau begitu tidak jadi!"


" Hahahahahahaha!" Panglima tertawa puas.


" Apa yang kau tertawakan Panglima?"


" Tidak, istri kita hamil kita tidak boleh membunuh orang, hahahahah!"


" Kau percaya dengan hal - hal semacam itu??"


" Tidak tahu aku harus percaya atau tidak, tapi orang tua dulu kenapa suka sekali menyambung - nyambungkan dengan hal aneh?"


" Ya mungkin agar kita tidak membunuh makanya begitu!"


" Hahahah kenapa kita malah membicarakan hal aneh seperti ini??"


" Iyaya, setelah diVonis umur kita tinggal beberapa hari lagi !"


" Lihatlah dengan jelas setelah kita di vonis akan ada orang yang datang mengunjungi kita!"


" Dan ambillah ini untuk kau pasang di tubuh orang yang mengunjungi kita nanti...!"


Panglima melempar benda kecil ke arah Jendral.


" Baik di mengerti! Panglima kenapa kau bisa membawa barang-barang seperti ini, apa tidak ketahuan?"

__ADS_1


" Oh ya ada tempat aman, untuk membawanya!"


" Ya baiklah,kau pantas dengan gelar Panglima mu!"


" Sudahlah...aku mau tidur!"


" Panglima kau bisa tidur??, tapi kan kita sudah divonis kenapa belum ada yang datang?"


" Hohoho...inikah penghianat negeri kita, oh rupanya tampang patriot namun hati bagai rubah!"


" Hahahaha... benar benar tampang mereka ini menyebalkan!"


" Siapa kalian??"


ujar Jenderal kesal.


Baru juga bertanya mereka langsung datang, panglima sudah memprediksi hal ini sepertinya.


dalam hati Jenderal Petter.


" Siapa ya??, oh selamat atas vonis kalian, tenang saja aku akan membuat pemakaman yang meriah untuk Panglima dan Jendral!"


Jenderal Petter melirik ke arah panglima , panglima memberikan kode pada Jendral Petter.


" apa aku tidak bisa mendengar apa yang kau bicarakan!" ujar Jenderal Petter


Dan orang itu mendekat pada Jendral,


" Kau akan segera menemui ajalmu, tapi kau masih sangat Angkuh!" jelas pria itu dekat di telinga Jenderal Petter.


Jendral Petter menarik krah baju pria itu,


sampai pria itu tercekik


"Coba katakan sekali lagi!"


" Oggggg,,aaaaaaggghhh...!" Pria itu tak bisa berkata lagi.


" Lepaskan!!!" Pria yang satu lagi mendorong Jenderal Petter.


Jendral Petter pun melepaskan pria itu dan mundur.


" Sebaiknya kau tidak berulah, agar jasadmu utuh!, ayo kita pergi!" kedua pria itu pun pergi.


Panglima dan Jendral pun tersenyum puas.


" Kau melakukannya dengan baik Jenderal!" ujar Panglima memuji.


" Bagaimana selanjutnya Panglima?"


Panglima menggigit telunjuknya sampai berdarah,


" Panglima apa yang kau lakukan?"


tanya Jenderal terkejut.


Panglima diam saja, panglima berjongkok dan menulis sesuatu dengan darahnya dilantai


" Lck, Cd. 20061"


( Lacak code 20061)


Lalu Panglima memutar cincin di jarinya dan di arahkan pada tulisan di lantai itu.


Panglima segera mengusap tulisan itu dengan bajunya.


" Panglima darahmu terus mengalir!"


ujar Jenderal yang melihat jari Panglima masih menetes.


Panglima segera menghisap jarinya.


Aku harap semua tepat dengan prediksiku


dalam hati Panglima.

__ADS_1


__ADS_2