DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
164. Dugaan


__ADS_3

" kakak, kau sudah siuman?"


" Dari semalam!"


" Apa??" Ria segera memeriksa Jimiie


" Apa masih sangat nyeri di dada??"


" Ya apalagi dibagian paling dalam,.rasanya sakit sekali!"


" Oh, kalau begitu kita lakukan pemeriksaan dalam!"


" Tidak, hatiku yang sakit!"


" apa???, kau ,kau sudah seperti ini masih becanda?"


" Tidak, itu sungguhan!, kenapa kau menangis di depanku?, mengganggu tidur nyenyakku saja!"


" aku mengganggu?"


" ya, aku jadi terbangun padahal aku sedang bermimpi indah!"


" Rupanya kau sudah sangat baik, jika begitu istirahat saja aku masih banyak pekerjaan lain!"


Ria pergi begitu saja.


" Oh, anak itu masih sangat keras kepala sekali!' gumam Jimmie.


" Nak Jimmie, ...!'


" Oh, Bibi!"


" Tidak tidak jangan bangun dulu, kau masih terluka!"


" Ah, baik bibi....bibi ada perlu apa ?"


" Kau ini aku yang menjagamu setiap hari masih saja bertanya seperti itu pantas saja kau sulit mendapatkan putriku!"


" Ah,maafkan Jimmie bibi terimakasih karna sudah menjaga jimmie selama ini!"


" Tidak, itu tidak ada apa - apanya dari kau menyelamatkan putri kami!"


" Bibi jangan seperti itu!"


" Tidak, aduh aku akan pulang untuk memasakan makanan sehat untukmu, bibi tidak tahu jika kau sudah siuman, bibi akan kembali lagi!"


" Bibi jangan merepotkan!"


" Kau tunggu saja dengan tenang, bibi akan segera kembali!'


" Kalau begitu harus merepotkan bibi, terimakasih bibi!"


" Yaya...!" Ibu Ria pun segera pulang untuk memasakan makanan enak dan sehat untuk Jimmie, tak lupa ibu Ria bertanya pada putrinya terlebih dahulu sebelum memasak, pantangan apa saja yang tidak boleh di makan Jimmie.


...----------------...


Di paviliun Panglima.


" Kepalamu seperti baja ya??, bagaimana bisa kau membenturkan kepalamu itu pada musuhmu!" ujar Hatta Latif yang datang menjenguk putrinya itu.


" Hehehe, bagaimana lagi hanya kepala yang tidak terikat ayah!"


" Kepalamu sangat penting, bagaimana jika cidera parah!"


" tenanglah ayah, kan dokter mengatakan semua baik - baik saja!"


" Ah, sudahlah kau pasti seperti ini, tapi semua juga berkatmu, kita bisa mengetahui rencana musuh!"


" Lalu bagaimana kelanjutannya ayah?"


" Kami memutuskan hubungan apapun dengan negara Yulius, warga mereka yang di sini ,dipulangkan paksa dan tidak menerima wisatawan atau produk apa pun dari negara Yulius!"

__ADS_1


"bagaimana jika terjadi perang besar ayah?"


" Perang itu juga melihat sisi lain, mereka tidak akan berani menyerang langsung negara kita nak, kita memiliki hubungan baik dengan negara - negara besar dan maju, mereka juga tidak akan tinggal diam, itu kenapa mereka hanya berani menyerang dengan meminjam kekuatan orang - oarang kita!"


" Hmmm, begitu rupanya!, lalu bagaimana dengan para oknumnya?"


" beberapa orang sudah di tangkap, dan sebagian berhasil melarikan diri, termasuk devance!"


" Apa mereka bisa bersembunyi selamanya?"


" tentu saja tidak,...kami sudah bekerjasama dengan negara lain!"


" Bagaimana jika mereka bersembunyi di negara kak Yulius?"


" Ya biar saja, sesuatu yang tidak berguna itu akan segera terbuang ke dalam sampah!"


" Oh ya, mereka sudah memberi banyak modal namun gagal, aku rasa dia tidak akan lari ke negara itu!"


" Hmmm, negara kita itu terjajah karna kebodohan orang-orang tamak!"


" Wah, berarti negara kak Yulius kehilangan banyak sumber dari negara kita dong?"


" Ehmmm, begitulah...tapi kami tetap siaga, mungkin suamimu juga harus siaga dengan pasukannya!"


" Oh ya?, ehmmmm...!"


" Jangan berpikir untuk ikut, kau kira selama ini ayah tidak tahu jika kau ikut berperang untuk tugas panglima kemarin?"


" Oh ayah tahu ya?"


" kau kira aku ini siapamu?, meski tidak tersebar di warga sipil, tapi tidak di warga kemiliteran!"


" oh ...jadi malu aku ayah!" Menutupi wajahnya.


" Sialnya orang yang menculikmu itu !"


" Ah, jadi aku di culik pun menjadi pembawa sial untuk penculiknya ya ayah??"


" Hahahah, saya juga merasa begitu besan!" ujar Hatta Latif.


" tapi ngomong-ngomong ibu kemana ayah??"


" Oh,ibu dan Panglima sedang berbelanja bahan makanan yang banyak, ibumu akan tinggal di sini sampai kau benar-benar pulih!"


" Wah, itu akan menyenangkan...lalu bagaimana dengan ayah?"


" Hehe, ayah harus pulang...karna sekolah Seon lebih dekat dari rumah utara nak, tapi ayah dan seon akan sering mengunjungimu!"


" ah, begitu baiklah!"


" Maafkan ayahmu ini karena tidak bisa menemani putrinya selama masa pemulihan!" Hatta Latif merasa sangat sedih.


" Besan, jangan bicara seperti itu!, Tantan sangat mengerti pekerjaan ayahnya, tanggung jawab ayahnya sangat besar, dan besan juga tidak perlu khawatir, kami adalah ayah ibunya juga sekarang kan!"


" Benar ayah, ayah sudah datang jauh-jauh kesini Tantan sudah sangat senang,oh ya ayah biarkan bibi Chu bersamaku ya ayah!"


" Iya nanti ayah akan minta seseorang menjemur bibi chu untukmu!, dia juga kasihan menjaga rumah sendirian!"


" Terimakasih ayah!"


" Ya, kau apa ingin ayah membelikanmu sesuatu?"


" Ayah aku ingin makan rambut nenek ayah!"


" ?????"


Huan Zang dan Hatta Latif saling memandang kebingungan, mereka mengharap mendapatkan penjelasan dari satu sama lain.


" Ayah, kalian tidak tahu rambut nenek?"


kedua ayahnya menggeleng...

__ADS_1


" Sungguh kalian tidak bercanda??, heiii kalian kan hidup lebih lama dari aku?!" Tantan Syok.


" tidak tahu, apa itu rambut nenek - nenek nak?" tanya Hatta Latif dengan kebingungan.


" Atau itu semacam wig?" sambung Huan Zang.


" Bukan!" Tania segera mengambil ponselnya dan menunjukkan pada kedua ayahnya bentuk rambut nenek.


( kalau readers pasti tahu dong ya!)


" Lihat, ini dia rambut nenek!"


menunjukan gambar



kedua ayahnya melihat dengan serempak,


" Itu sungguhan rambut?"


tanya Huan Zang


" Itu apa sungguh bisa di makan??"


sambung Hatta Latif.


"Bisa, ini tuh dari gulali ayah, aku mau ini!"


" Yang jual di mana nak?" tanya Hatta Latif.


" ehmmm, itu dia jajanan ini jarang sekali orang menjualnya!"


" apa??" Hatta terkejut


" Besan, aku akan menelpon istriku barang kali dia tahu jajanan seperti ini!"


" Tidak mau, aku mau ayahku saja ayah!"


" Ha???" keduanya kebingungan.


Huan Zang menarik Hatta Latif kuar


" Ada apa Besan?"


" Ehnm,ini sepertinya adalah kabar baik, namun kita akan memastikannya setelah dia di pastikan istriku nanti!"


" Apa besan?"


"Saat istriku hamil, permintaannya sangat diluar akal, ini sepertinya tanda - tanda kita akan menimang cucu kita!" Ujar Huan Zang sambil senyum-senyum bahagia.


" Oh benarkah itu besan??"


ikut senang.


" Ya begitu, memangnya ibu Tantan tidak begitu besan?"


" Ah, kalau ibu Tantan, hanya sulit makan dan mual - mual saja!"


" Ah, begitu!, memang beda - beda ya bawaan orang hamil, jadi ku harap Besan bisa menuruti keinginan Tantan memakan rambut Nenek!"


" Ah, itu tidak masalah, saya akan cari sekarang!"


" Oh, baiklah...aku akan menjaganya dengan baik di sini besan!"


" Okey, saya pergi dulu ya besan, doakan saya mendapatkan rambut nenek!"


" Fighting, semangat besan demi cucu pertama kita!"


" Okey!" Hatta Latif pun pergi dengan sangat senang.


Huan Zang segera kembali menemani Tania, sambil senyum-senyum sendiri, dia tidak bisa menyembunyikan senyuman bahagianya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2