
" Tantan, kata panglima meskipun kau di sini kau harus waspada dengan orang sekitar...."
" Baik abang, kau bisa tenang aku mengerti... Sebaiknya abang Jack mendampingi ayah Huan...dan abang Dex biar di sini..."
" Baik aku akan ...menemani paman, Dex jaga adik dan keponakan kita dengan benar..."
Jack pun segera pergi...
" Tantan, apa aku boleh menggendong Manggala??" tanya Dex tak sabar ingin menggendong keponakannya.
" bawa kak, itu susunya di sebelah, aku mau jalan- jalan ke tempat latihan sebentar, menghilangkan penat..."
" bagaimana jika, menangis??"
" ya tolong di susui..."
Tantan pun segera berjalan ke area latihan, sepertinya semua prajurit masih standby di perbatasan, hanya tinggal beberapa kompi saja yang masih aktif berlatih di distrik.
" Nyonya Panglima, akhirnya anda keluar..." seorang prajurit datang menyapa Tantan.
Tantan melihat orang yang menyapanya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
" Saya adalah bawahan Panglima...saya di tugaskan untuk menjaga keamanan Distrik militer..."
Tantan masih terdiam, mengamati
" Saya adalah Aufe..."
Tantan memejamkan matanya mencoba mengingat sesuatu, dan tiba-tiba Tantan tersenyum tipis .
" apa yang membawamu datang Padaku Aufe, eh siapa au atau ao??"
" hah?? A-u-f-e nyonya..."
" oh...." Tantan manggut-manggut.
" Saya ingin memperlihatkan pada anda gudang senjata yang ada di sini, barangkali anda ada yang tertarik , anda bisa memilikinya untuk menjaga diri..."
"Apa panglima yang memerintakanmu??"
" Benar, ...."
" kenapa panglima tidak memberitahuku lebih awal ...??"
" mungkin, Panglima terburu-buru..."
" apa sekarang aku harus mengikutimu??"
" Bagaimana jika nanti malam??.."
" tidak sekarang saja, aku tidak bisa keluar malam-malam" ujar Tantan santai.
" baiklah, mari lewat sini nyonya...."
Tantan pun mengikuti Aufe dari belakang, Tantan dengan tenang melangkah mengikuti sampai ke gudang senjata yang jauh dari Paviliun Panglima.
Tempat itu tampak sepi dan cukup menyeramkan.
Aufe berhenti di depan pintu,
Hehehehe, kenapa sangat mudah sekali istri Panglima ini masuk perangkap, aku akan menghabisinya dengan segera.
dalam hati ****prajurit yang**** bernama Aufe itu.
" kenapa tidak dibuka pintunya,??, apa kau lupa membawa kuncinya?? Aufe??"
Aufe segera berbalik dengan ekspresi menyeramkan.
__ADS_1
" Hahah, aku tidak punya kuncinya..."
" Oh lalu bagaimana???"
" hahaha Bagaimana??, tentu saja aku membawa mu ke sini untuk membunuhmu, kau rupanya sangat bodoh..."
" ih tidak, aku terjebak, siapa kau sebenarnya??"
" Hahahhaz aku akan memberitahumu saat kau sudah mati..."
" ha??, jangan ampuni aku tuan, aku masih memiliki anak bayi, apa kau tidak bisa mengampuni nyawaku??"
" hahahahaha, enak saja aku sudah. sampai di sini lalu menyerah??, tidak mungkin!!?"
" Aku berjanji tidak akan melibatkanmu..."
" hahahahahhaha, kau kira aku mudah dibujuk, jika aku melepaskanmu sama saja aku menggali kuburanku sendiri!," Aufe menodongkan pistol kecilnya
" Semoga damai harimu " Aufe itu segera menekan pelatuknya.
" Dooooooorrrrrr...."
" Sreeeeeet....srrreeerret...."
" hakkk???," Aufe sangat terkejut.
boooooookkkkkkkkkk....
" Kau kira aku juga sangat bodoh??, kau harus berkaca sebelum menghadapi seseorang dengan satu senjata, ..."
Aufe terjatuh di bawah kaki Tantan,
Dengan gerakan cepat Tantan menyerang lebih cepat dari pada gerak jari Aufe dan menyayat leher Aufe dengan belati kecil yang slalu dia bawa pada lengan bajunya.
Tantan menginjak leher Aufe yang bersimbah darah.
" Kau seharusnya lebih teliti dalam Melafalkan nama, setahuku..
orang kepercayaan Panglima itu Aofe, bukan Aufe ..kenapa kau bodoh sekali, membuatku harus sibuk mengurus serangga kecil, cuiiih..."
kreekkkkkkk...
Tantan menginjak Leher Aufe itu hingga patah mengenaskan.
Tantan segera kembali berjalan menuju Paviliun, padahal seluruh tubuhnya bersimbah darah, namun Tantan tetap berjalan santai.
Semua anak buah yang berlatih tekejut,
" Nyonya... apa anda terluka??' salah satu dari mereka menghampiri dengan sangat panik.
" Tidak lanjutkan latihan" Tantan segera mempercepat langkahnya menuju Paviliun.
" Abang..."
" Ya Ta...astaga ada apa denganmu??" Dex sangat terkejut dengan keadaan Tantan.
" Abang, seseorang pasti menyembunyikan Aofe di tempat ini, aku baru saja bertemu dengan Aufe yang palsu dan membunuhnya, ada di bangunan terbengkalai"
" ok aku akan mengurusnya..."
Dex meletakkan Manggala pada Box bayi, dan segera pergi...
Tantan pun segera membersihkan tubuhnya yang penuh dengan lumuran darah.
setelah selesai Tantan segera menggendong putranya dan membawanya ke kamar ibu mertuanya.
ternyata ibu mertuanya masih tidur, karena semalam membantu Tantan bergadang menemani Manggala.
__ADS_1
" Ibu...bangun..."
Tantan dengan lirih membangunkan ibunya.
" Sayang ada apa?, apa Manggala rewel??"
" ibu, Tantan harus memastikan sesuatu...ibu tolong jaga Manggala, dan tetap kunci kamar dari dalam dan Jendela dengan sangat rapat..."
" apa??, kenapa??"
" Ibu, percaya padaku..."
" Baik!" Maya pun percaya dia tahu menantunya itu pasti memiliki rencana.
Tantan mengambil guling bayi milik Manggala dan membalutnya dengan selimut bayi,
lalu Tasya menggendong seperti bayi dan berjalan keluar, Maya segera menguncin semua pintu dan Jendela dengan rapat, Maya menenangkan dirinya agar Manggala pun tidak terbangun dan menangis.
Saat Tantan memasuki ruang tamu, berberapa orang masuk menyerbu ke arah Tantan.
Aku tahu Aufe adalah jebakan untukku agar aku mengirim abang keluar dari Paviliun,
dalam Hati Tantan.
" Hahahah, menakjubkan memang pantas di sebut istri Panglima...tapi sayang, kau dan putramu akan segera mati, bagaimana reaksi Panglima melihat anak dan istrinya mati mengenaskan..."
" Jangan mimpi!" tegas Tantan sambil memeluk selimut dalam gendongan nya dengan erat seakan dia tidak ingin melepaskan anaknya dalam bahaya.
" Hahahah, cepat bunuh ibu dan anak itu!"
Mereka segera menyerang Tantan merebut anak dalam gendongannya.
" tidak....."
" apa?? guling??" mereka sangat tak hanis pikir .
" bagus kau sudah tahu jika kau masuk dalam jebakan...tapi tak apa, setelah kau mati aku akan. mengirimkan putramu!"
" Hahahaha, jika kau mampu..." ujar Tantan sangat tenang seakan dia seorang wanita bisa mengalahkan 10 assassin di depannya..
" mau mati saja belagu....bunuh"
Tantan segera meniup peluit yang tergantung dilehernya..
oooggggg ogghhh ogghhh ogggggg...
betapa sangat terkejut mereka , karena di kepung oleh Anjiing militer yang cukup garang...
" Hahahaha, hanya anjingggg, bunuh...."
" Micel...komando pasukanmu untuk menyerang..." teriak Tantan
" oooooooogggggggghhhhh..."
" Jangan biarkan jasadnya utuh!!!" teriak Tantan lagi.
Tanta segera melompat keluar Jendela, dan berlari menuju Paviliun Jendral.
" Distrik ini sudah di sabotase..." gumam Tantan.
Sebelum Tantan kembali ke paviliun,Tantan menuju ke tempat pelatihan anjing militer, untuk mengatur Micel mengarahkan para Anjing itu lewat jalan memutar menuju Paviliun Panglima.
Tantan memanjat pagar belakang Paviliun Jenderal dan segera menerobos masuk ke balkon, memasuki rumah Jendral dengan hati - hati, karena pasti tidak hanya dirinya saja yang ditargetkan pasti juga sahabatnya juga masuk dalam incaran.
" sejak abang Jack mengatakan hal seperti itu,aku sudah menduganya...sial Panglima ini, sudah tahu istrinya baru pulih sudah di suruh membereskan kekacauan di distriknya, omongan pria memang tidak bisa dipercaya , katanya akan melindungi ku dengan aaman dan tidak akan membiarkan aku menderita, sialan pria berngsek...inj aku akan menghajarnya saat pulang..." Tantan sudah sangat kesal pada suaminya.
" Aggggggggggggghhhhh"
__ADS_1