DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
276. Apapun di lakukan


__ADS_3

" Bagaimana bisa kau tahu??"


" Berarti itu semua benar??, dan hanya aku yang tidak tahu hal itu sendirian??"


" ehmmm ya..."


" Panglima, kenapa???"


" Kau baru bangun dari koma, apa aku harus memberitahumu...?"


" tapi kau juga tidak perlu menyembunyikan semua begitu lama!!!"


" Sayang aku harus bagaimana, kau baru membaik ...aku tidak tega melihatmu bersedih sayang ...."


" tapi apa aku harus tahu dari orang lain??"


" Siapa yang memberitahumu??"


" Tidak penting!!!, aku malas berbicara denganmu...kau sangat menyebalkan!!!"


Tantan segera berbalik untuk pergi, tapi Panglima menahannya, Panglima menarik tangan Tantan,dan memberikan sebuah pistol kecil, pistol itu adalah pistol yang pernah di berikan oleh Tantan saat menjadi sandraan dulu.


" Bunuh saja aku dengan pistol ini...!!!" Panglima berlutut dihadapan Tantan dan mengarahkan tangan Tantan yang memegang pistol ke arah kepala Panglima.


" Aku sangat kacau, jika orang yang aku cintai memusuhiku, aku tidak pandai mengatur strategi untuk melumpuhkan kerasnya hatimu saat marah, aku tidak bisa menebak isi hatimu, aku tidak bisa menerka apa yang ada di pikiranmu, jangan menyiksa batinku, aku lebih baik di siksa oleh 1000 pedang pada tubuhku ...dari pada aku tersiksa dengan ketidak pedulianmu, aku seorang ayah, bagaimana bisa aku jauh dari putraku, kau dan Manggala sangat penting dalam hidupku, jika kalian menjauhiku, lalu sia-sia aku mati-matian mendamaikan negara ini, aku ingin kau dan Manggala dan juga yang lainnya, bisa hidup dalam kedamaian tanpa takut adanya ancaman... Sekarang tekan pelatuknya, bunuh aku, aku tidak akan menyesal mati di tanganmu!"


mata Panglima sudah memerah, dia sudah jatuh di keputus asaan.


Tantan melempar pistol itu ke samping, lalu


plakkkkkkkk...


tamparan yang sangat keras mendarat di wajah Panglima.

__ADS_1


" Aku sangat kesal...aku kesal...padamu....tapi..."


Tantan tak bisa berkata -kata lagi ...Tantan melihat wajah putus asa suaminya yang sangat menyedihkan, benar dia salah tapi memang semua itu ada alasannya.


Tantan langsung memeluk Panglima yang masih berlutut,


" Di mana wibawamu sebagai Panglima???, kenapa kau sangat mudah berlutut di hadapan seorang wanita, kau adalah Panglima!" Air mata Tantan mengalir deras, sangat deras.


" Hiks hiks hiks... jangan menjatuhkan harga dirimu seperti ini, kau tidak pantas melakukannya...!"


Panglima memeluk pinggang istrinya yang menangis di pundaknya.


" Semuanya pantas jika itu seorang Tania, ibu dari Manggala Dickson...semua pantas... kau adalah satu-satunya yang pantas...!"


Panglima mengeratkan pelukannya menghirup aroma tubuh istrinya yang sudah sangat ia rindukan.


" bagaimana bisa kau memintaku membunuhmu??, apa kau ingin Manggala menjadi anak Yatim?? apa kau tega meninggalkan dia tumbuh tanpamu, apa kau mau dia memanggil orang lain sebagai ayahnya???!!!"


" apa ?? Doney???"


" Sudahlah sayang, jangan mengatakan itu otakku sangat kacau saat kau memusuhiku, jangan lakukan lagi ku mohon... tolong maafkan aku...!"


" Apa maaf itu cukup??"


" apapun itu akan ku lakukan selagi kau memaafkanku dan membiarkan aku menggendong dan memeluk Manggala..."


" Panglima, bawa aku ke tempat di mana Yesa di istirahatkan..."


" aku akan membawamu ke sana, tapi kau harus memaafkanku lebih dulu..."


" iya aku sudah memaafkanmu Panglima..."


" Syukurlah, jangan marah lagi ya, jangan pisahkan aku dengan Manggala juga,..."

__ADS_1


"Iya kau boleh memeluk dan menggendong Manggala sekarang!"


Panglima pun dengan semangat berdiri dan membantu istrinya untuk berdiri.


" Ini ini ini...anakmu Leon...lihat dia sudah begitu mirip denganmu waktu bayi , semakin kesini semakin terlihat seperti mu...aku harap dia tidak keras kepala sepertimu..."


" Oh Putra Ayah sangat tampan, kau harus menjadi lebih hebat dari ayah suatu hari nanti..."


" hah...biarkan dia menjadi apapun yang dia mau, ..." ujar Tantan, yang merasa hidupnya tak bisa menjadi apa yang dia mau karena ayahnya terlalu keras padanya,dan melarangnya menjadi seorang abdi negara.


" Benar, karena dia laki-laki, dia harus bisa mengambil keputusan, tapi jika dia perempuan beda lagi ceritanya, aku akan mengarahkannya,sebenarnya ayah mertua itu benar, dia mengarahkanmu sayang, wanita itu harus di arahkan agar ketika menikah dia menurut pada suaminya...."


" Jadi apa kau mau mengatakan aku ini tidak menurut dengan suamiku???"


" eh, bukan??, istriku sangat penurut, patuh sekali, tidak ada yang bisa menandingi ketaatannya pada suami, pokoknya istriku yang paling baik... iyakan ibu??" Leon meminta bantuan sang ibu.


" Hah,sudah tahu istrinya baik, malah dibuat umpan pasa musuh, aku sangat salah mendidikmu rupanya, hampir saja aku kehilangan cucu dan menantu yang katamu paling baik...!"


Ibu, bagaimana bisa kau malah mengungkit permasalahan itu lagi, bahkan kau juga hampir kehilangan nyawa anak laki-lakimu satu-satunya, karena meminta damai pada menantumu tersayang...


dalam hati Panglima.


" Bu kenapa kau tidak membela anakmu satu-satunya ini??" ujar Panglima.


" Ibu aku pulang...." Seon yang baru saja pulang dari sekolah.


" Oh Putra ibu,yang sangat lembut hati sudah pulang..." Maya menyambut putra angkatnya itu dengan sangat bahagia.


Sialan aku melupakan Seon...


pantas saja aku sudah tidak ada artinya untuk ibuku..


dalam hati Leon.

__ADS_1


__ADS_2