DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
261. Keributan


__ADS_3

Doney sudah berusaha menggunakan metode yang biasa dia lakukan pada Tantan sebelumnya , namun Tantan masih belum ada kemajuan.


" Doney bagaimana??" tanya Panglima.


Doney menunduk menggeleng kepala, seakan sudah tidak tahu lagi harus bagaimana.


" Aku tidak mau tahu, kau harus membangunkan istriku dengan segera!!!"


" Leon, kau tak bisa seperti itu nak...semua sudah berusaha semampu mereka, jalan terakhir juga kita hanya bisa berdoa saja...!"


" Ayah, aku tidak bisa tanpa Tantan, aku ingin dia segera bangun...!"


"Nak, tenangkan dirimu, yakinkan semua akan baik-baik saja, semua orang juga ingin istrimu segera bangun...tidak hanya kau, dia juga berarti dihati kami ..."


" Leon, jika aku bisa berganti posisi dengan Tantan, aku juga mau...tapi aku sudah berusaha sekeras mungkin...aku akan memikirkan caranya lagi..."


ujar Doney berlalu pergi, dia juga sangat sedih dengan keadaan Tantan, meskipun dia tidak bisa memilikinya tapi, dia masih sangat mencintai Tantan.


" Jika aku bisa seperti Yesa, aku akan melakukannya untukmu Tantan, aku akan merelakan diriku, agar kau bisa bahagia dengan baik, berkumpul dengan orang yang kau cintai... apa yang harus aku lakukan???"


Doney berpikir secara keras,


" baiklah, aku harus mencobanya...!"


Doney segera pergi ke ruangan Manggala,


" Panglima, bagaimana jika anda dan Manggala, satu ruangan dengan Tantan, biarkan Tantan mendengarkan Manggala saat menangis..."


" Maksudmu aku harus membuat Manggala menangis??"


" bukan, biarkan mereka merasakan ikatan batin satu sama lain..."


" apa bisa??"


" Panglima, kita harus mencobanya..."


Panglima pun mendengarkan saran Doney, Manggala setiap malam di tidurkan di samping Tantan, saat Manggala menangis, akan di biarkan sedikit lebih lama, setelah itu baru di susui oleh Suzy.


hal itu dilakukan terus hampir satu minggu.


"sepertinya tidak bisa dengan seperti ini..." ujar Panglima hampir putus asa.


" kita coba lagi Panglima jangan menyerah!"


" aku tidak bisa melihat putraku menangis terlalu lama..."


" tapi...!"


" kau tidak tahu perasaan seorang ayah, mendengar bayinya menangis, itu tidak baik untuknya Doney, Tantan juga tidak akan setuju dengan metode konyolmu, aku sangat tersiksa melihatnya walaupun hanya sebentar saja menangis!!" Panglima sudah berkaca-kaca, dia menahan air matanya agar tidak tumpah.


" Panglima, dengarkan aku..."


" tidak Don, tidak...dia hanya bayi kecil yang tidak tahu apa-apa, dia tidak perlu seperti ini untuk membuat ibunya terbangun, aku akan mencoba menerimanya, jika istriku masih ingin tidur panjang biarkan saja, dia mungkin sangat lelah dengan apa yang terjadi selama ini, bagaimana pun dia hanya seorang wanita muda, yang berusaha mengimbangi suaminya agar tidak membebani semua orang, dia menjaga kandunganya sendirian, dan dia sudah menjaga putraku sampai lahir dengan selamat, mungkin dia sangat lelah, dia sangat lelah Doney,...dia lelah ...." air mata Panglima tak terbendung lagi, seorang pria dengan kesan dingin dan kejam itu, akhirnya menumpahkan kesedihan batinnya.


semua yang melihat pun ikut menangis,

__ADS_1


oeeeeeekkk oeeeeeeeekkk oeeeeeeek...


Manggala pun menangis begitu keras, Suzy segera mengambil Manggala dan mencoba menenangkannya, tapi tidak mau, Suzy membawa ke ruangan samping untuk di susui tapi Manggala tidak mau tangisnya semakin kencang , tak berhenti - berhenti.


" Dia kenapa Done, apa sakit??" ujar Panglima segera menghapus air matanya.


Doney hanya mengambil alih Manggala dan membawanya ke ruangan Tantan lagi.


" Doney apa yang kau lakukan??, dia sepertinya kesakitan, kenapa kau melakukannya lagi??"


Doney tidak menggubris perkataan Panglima, Doney menempelkan Manggala yang menangis kencang ke wajah Tantan.


Panglima berusaha menarik Doney mundur dengan menarik kerah belakang Doney, namun Doney sekuat tenaga, bertahan agar Manggala tetap menempel pada Tantan.


" Berikan Manggala...!"


" Tidak!"


" Doney...!"


" kakak, kak Doney tolong jangan ribut, kalian ini bagaimana bisa seperti ini"


Ria ingin meraih Manggala, tapi Doney maju mundur karena di tarik oleh Panglima,


" Oh tidak kalian akan melukai cucuku!" teriak Maya histeris.


keributan itu sungguh tak bisa dikendalikan,dan tak bisa di redakan semua yang ada bermaksud melerai, tapi semakin dilerai semakin menjadi, ruangan itu seketika menjadi seperti pasar.


" Apa ini????, ini ??"


" bagaimana bisa mereka ribut di depan pas....pas ...." Komandan itu mengusap matanya beberapa kali.


Dia melihat Tantan membuka mata,


" Berhenti!!" teriak komandan itu dengan lantang sehingga membuat semua diruang terdiam melihat ke arahnya.


" Siapa kau berani berteriak??!" tegas Panglima.


" nyo..nyo...nyo..nya...." menunjuk ke arah Tantan yang terlihat sedang mengerjab - ngerjabkan matanya.


semua segera melihat ke arah Tantan,


" OMG,....menantuku siuaman!"


" kakak, kakak ipar... akhirnya..."


" istriku....kau akhirnya bangun..."


" syukurlah, Ria tolong tenangkan Manggala aku akan memeriksa Tantan!" ujar Doney


Ria pun segera membawa Manggala pada Suzy.


" Kakak......kakak...tolong tenangkan Manggala, tolong...."


pinta Ria antara senang dan khawatir, karena hampir setengah jam Manggala menangis karena itu tidak baik untuk perkembangan otaknya.

__ADS_1


" Kenapa sangat ribut Ria, Barata sampai ikut menangis...!"


" apa yang mereka ributkan??" tanya Jendral


" Itu nanti saja di jelaskan, tapi kakak ipar sudah siuman!"


" mereka ribut begitu, bagaimana dia tidak terbangun, tapi syukurlah... sayang bawa Barata ke sini, dan tenangkan Manggala..."


Suzy menyerahkan Batara,pada ayahnya dan segera meraih Manggala, dan segera menyusuinya, Ria pun segera memeriksa keadaan Manggala.


" Mereka ini sangat tidak masuk akal sekali, untung Manggala anak yang kuat...!" Ria merasa sangat lega .


" Dia tentu saja kuat, hahahaha karna dia menangis dan membuat semua ribut, berkat dia ibunya terbangun..."


" orang mati saja juga akan terbangun, jika mereka ribut keroyokan begitu ...!"


sahut Jenderal Petter.


" astaga konyol sekali" Guman Suzy.


" Kak, suz...aku titip Manggala, aku ingi melihat Kakak Ipar...."


" Ya, nanti jika sudah kenyang aku akan membawanya ke sana!"


" Ya kak, terimakasih..."


Suzy pun segera, kembali menuju ruangan Tantan.


" Loe kok semua di luar kenapa??"


" Ya, kami di suruh keluar oleh Doney dan juga Panglima...Doney bilang untuk memberikan ketenangan pada Tantan sekalian melakukan observasi, jika memang tidak ada masalah bisa di pindahkan ke ruang perawatan...!"


Ria pun ikut menunggu, setelah 2 jam, akhirnya Tantan di pindahkan ke ruang perawatan.


Semua sangat senang karena Tantan akhirnya siuman, semua prajurit bersorak gembira mendengar istri Panglima sudah sadar.


" Suamiku....suamiku...."


Nisa berlari terburu-buru,sambil menggendong Grey menghampiri Zero yang sedang mengasah belatinya.


" apa istriku??" Zero segera mengambil Grey dari gendongan Nisa.


" kalian akan terjatuh jika tidak hati-hati..."


" Nyonya..."


" Apa yang terjadi??" Zero sudah sangat tegang.


" sudah bangun..."


" Sungguh ayo kita ke sana!" Zero segera menarik tangan Nisa berlari dengan tergesa-gesa, hingga Nisa terpontang-panting kesana kemari.


Tadi siapa yang bilang akan terjatuh tidak hati-hati? sekarang malah berlari seperti kijang, aku sampai pusing terpontang-panting


dalam hati Nisa .

__ADS_1


__ADS_2