
" Oh suara itu??" ledekan itu terdengar sampai di telinga Maya ,Huan zang yang sudah di amankan bersama Dex dan para penjaga bayangan.
" Dex ,Ria ...!" Ujar Maya sangat khawatir.
" Bibi tenanglah Bos pasti menjaga Ria dengan baik!"
" Bagaimana bisa ledakan itu sangat besar!" ujar Huan Zang.
" Paman bibi, kalian cepat meninggalkan tempat ini, bersama beberapa penjaga!"
" Tidak...aku akan kembali bersama Ria!" Ujar Maya.
" Bibi ku mohon jangan keras kepala, aku tidak tahu dari mereka adakah yang berhasil melarikan diri dan melapor pada bosnya atau tidak, aku akan kembali ke sana untuk memastikan Ria dan Bos!"
" tidak aku mau Ria!"
" Sayang, ayolah...kita hanya akan memperkeruh keadaan, kita segera tinggalkan tempat ini!"
" Huhuhu, keponakanku sayang...huhuhu...!"
" Ayo tuan Nyonya, kita harus pergi...kami sudah menyiapkan armada!" seorang penjaga bayangan mengawal mereka berdua untuk ke kota bersama penjaga lain yang terluka.
Dex berupaya mengeluarkan peluru yang menancap di kakinya, dan segera mengikat kakinya dengan robekan bajunya.
" Ayo kita kembali...!"
Dex dengan sebagian penjaga kembali ke gubuk tadi, Dex sangat khawatir pada bosnya, karena suara bom itu sangat dahsyat, pikiran Dex sudah tak karuan, sampai rasa sakitnya tak terasa karena sangat khawatirnya.
" Tuan Dex...nona dokter pingsan di sini!" Ujar salah seorang penjaga .
" Apa dia terluka parah??"
" Lumayan parah, mungkin nona dokter terpental dan membentur sesuatu!"
" Cepat, bawa ke kota!, bawa penjaga yang tahu medis untuk berjaga-jaga!"
" Baik!"
Dex masih terus mencari Bos nya di puing - puing bekas ledakan itu.
" Bos...jangan bercanda...!" Ujar Dex gemetaran dia tidak akan terima jika sesuatu terjadi pada Jimmie.
" Kalian cepat cariii lebih cepat!" tegas Dex memerintah.
Dex sudah berderai air mata, banyak potongan tangan dan kaki, tapi dia berharap itu bukan salah satu anggota tubuh bosnya, karena banyak mayat penjaga yang tergeletak sebelum dia meninggalkan tempat itu.
" Bos...Bos...jangan bercanda...di mana dirimu??!" teriak Dex
Dex mengorek - orek tumpukan puing - puing, berharap Bosnya ada di balik runtuhan puing yang menumpuk.
" agggghhhh...."
Terdengar suara rintihan
" Hei kalian dengar suara??" ujar Dex.
Semua mencoba diam untuk mendengarkan lebih jelas.
" Aghhhmmm...!"
" Di sana cepat bongkar!!" teriak Dex memberi perintah.
setelah berhasil menyingkirkan puing-puing,
" Tidak ada apa pun tuan...!"
" Masak??, coba di korek lagi...!"
" Tuan Dex , di sana ada lubang...!" Ujar salah seorang menunjuk sebuah lubang yang berjarak 7 meter dari mereka.
" Coba kalian lihat, di dalam lubang itu!"
" Baik....!".
__ADS_1
mereka menyorot senter ke bagian dalam lubang.
" Lubangnya cukup dalam tuan...!"
" Bos....bosssssssss!" Dex berteriak di dalam lubang itu berharap Bosnya ada di bawah sana.
" Bosssss.....Bossssssss...!"
" Saya akan turun dengan tali Tuan...!"
" Ya cepat, kalian bantu...!"
mereka segera bergerak cepat, beberapa orang memegang tali dengan kuat karena pepohonan di sana juga sudah hancur, dan satu orang mengikat tubuhnya dengan tali dan perlahan memasuki lubang selebar setengah meter yang dalamnya belum tahu berapa meter.
Dex berpikir kemungkinan besar Jimmie memilih memasuki lubang itu setelah melepaskan bom tangannya, paling tidak 5 detik bom itu meledak, setelah di lepaskan.
setelah menunggu lama, dari dalam lubang itu memberi isyarat dengan menarik talinya agar segera di tarik ke atas .
" Cepat tarik ayo!"
mereka menarik sekuat tenaga,
" Apakah semakin berat??" tanya Dex
" Ya tuan...!"
Dex tersenyum, berarti tebakannya benar jika bosnya yang pasti ada di dalam.
" Ayo cepat, lebih cepat!" Dex sangat tidak sabar
setelah menunggu akhirnya sampailah ke permukaan.
Dex sangat senang karena benar sesuai dugaannya.
" Boss...!" Dex segera menghampiri Jimmie yang tidak sadarkan diri , Dex mengecek seluruh tubuh Jimmie, melihat dadanya masih kembang kempis Dex merasa lega.
" Cepat tandu... ayo kita harus cepat pergi!"
Kaki Dex mengeluarkan darah yang cukup banyak.
" Ah...!" Dex baru merasa sakit
" Cepat - cepat angkat bos Jimmie dan tuan Dex!"
Mereka dengan cekatan segera mengangkat Dex dan Jimmie.
" Apa ayah ibu Panglima sudah keluar dari sini??'
" Sudah, tuan...!"
karena semua sudah di rasa aman, Dex pun kehilangan kesadarannya.
...----------------...
Rumah Dinas Bi
" Apa??"
" Ya, orang Panglima berhasil menemukan keluarga Panglima, semua yang ditugaskan berjaga, mati semua pak!"
" Brensekkk...tidak bisa di andalkan!" Bi sangat marah semua tidak sesuai rencananya.
" Bagaimana ini pak...!"
" Tidak apa-apa kita masih punya Hatta Latif dan Petter....kita masih aman!" ujar Bi.
" Bagaimana kelanjutan pencarian Josh??"
"Para time Sar, menemukan robekan baju yang di duga itu milik Josh, ...pak!'
" Apa mobil itu meledak??"
" mobilnya utuh pak, hanya saja di sungai itu terdapat banyak predator kemungkinan selamat itu tidak mungkin!"
__ADS_1
" Hahahahahahahahhaah...bagus bagus...!"
" Kami sudah menyisir semua tempat tidak terlewatkan satu inci pun, dan tidak menemukam Josh!"
" Tunggu hari ke 14 jika tidak muncul apapun, beritakan saja kematian Josh yang naas !"
" Baik pak!"
" Ehmmm bagus, bagaimana dengan Panglima??"
" Menurut orang dalam di sana, panglima masih belum sadarkan diri!"
" Hahahahhahah...bagus...!"
...----------------...
" Bagaimana??"
" Nyonya dan. Tuan besar dalam perjalanan kemari Panglima!" ujar Jack yang menerima laporan dari para penjaga.
" apa mereka terluka???"
" Bibi paman terluka sedikit, sedangkan ...Ria cukup parah!"
" apa??, lalu Dex dan Jimmie?"
" Keduanya memiliki luka parah dan di larikan di rumah sakit di basecamp anda pelatihan oleh Zero!"
" Ria juga di bawa ke sana??"
" Ya...!"
" Baiklah, setelah ibu dan ayah sampai di sini aku akan kembali ke rumah sakit...dan atur beberapa media, saat aku keluar dari rumah sakit...!"
" Sayang apa kau akan mengekspos dirimu??"
" Tentu sayang, kita akan lihat jika aku muncul Bi pasti akan mengancamku dengan Jenderal Petter dan Ayah.
" Lalu apa yang harus aku lakukan Panglima?"
" Bukankah kau lelah??, istirahatlah istriku.... serahkan sisanya pada suamimu!"
" Tapi kau belum benar-benar pulih!"
" Jangan khawatir, aku akan lebih berhati-hati lagi, aku tidak akan membiarkanmu menjanda...!"
" Jangan sampai anak kita tidak memilik ayah, oke ...berjanji untuk baik-baik saja!"
" Aku janji....!"
" Panglima, lalu bagaimana dengan Tom dan rekannya??"
" Dia akan di eksekusi kan?, Jaga keluarga Tom dan Rekannya mereka tidak bersalah...!"
" Tapi bagaimana dengan Josh??"
" Jaga dia dengan baik, sampai di sadarkan diri, Josh adalah kartu As kita!"
orang -orang Zero, ternyata sudah menemukan Josh lebih dulu dan membuat seakan-akan Josh telah di makan predator di sungai itu, Josh di sembunyikan oleh Panglima karena Josh adalah kunci dari semua permasalahan ini.
Dan tersiarlah kabar duka dari negeri Konoha oh salah +62 maksudnya , negeri itu berduka atas kematian hokage ke 7 ,salah lagi presiden, orang nomor satu di +62.
Namun masyarakat kita tidak berduka soal kepergian Josh, para warga konoha, justru meributkan kekosongan kursi presiden, karena itu akan sangat mengancam, kekacauan pun merajalela, para mahadewa, Mahabarata, dan mahanetizen yang paling benar pun berunjuk rasa menuntut kesejahteraan untuk pemilihan presiden baru.
Bi pun membuka konferensi pers ...
" Para masyarakat yang budiman, saya juga tidak akan menduduki kursi tanpa izin dari kalian, namun jika bukan saya lalu siapa yang pentas untuk menduduki kursi kepemimpinan saat ini?? "
Bi pun melontarkan pertanyaan yang cukup membuat para sang maha maha, bingung untuk menjawab.
karena mereka juga tidak bisa memilih dengan terburu-buru, pilihan mereka menentukan masa depan generasi mereka.
Bi pun menenangkan mereka dengan janji manis, jika dia hanya sementara dalam menduduki kursi itu. Dan meminta para partai untuk menunjuk kandidat baru untuk pemilihan sebagai pemimpin baru.
__ADS_1