DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
255. Bertaruh Nyawa


__ADS_3

" Tembak!"


" Dorrrr!!"


" Tembak!!!"


" Doooor....!"


" Nyonya...ii ni sedi...kit menakutkan!"


" rileks jangan meleset menekan pelatuknya!"


Nisa pun pasrah dan memejamkan matanya.


" Sudah selesai Nisa, ...tugas kita sudah selesai "


Tantan melepaskan tangan Nisa, Nisa membuka mata perlahan, melihat sekeliling tak ada yang tersisa, tak ada satu pun musuh yang hidup atau pun berhasil kabur.


" Nyonya...hebat, kita berhasil kita berhasil....!' Nisa menoleh ke arah Tantan.


oh betapa terkejutnya Nisa melihat Tantan yang terlihat sangat pucat, tapi mencoba tetap berdiri tegak dan tersenyum.


" Oh Tidak Nyonya, anda...pasti sangat kelelahan....tolong tolong...." teriak Nisa panik.


penjaga bayangan yang di perintahkan oleh panglima pun segera muncul dan menangkap Tantan yang sudah tak kuat menopang tubuhnya sendiri.


" nyonya, anda terlalu berlebihan dalam menggunakan tenaga dan pikiran anda"


ujar penjaga bayangan yang menangkap tubuh Tantan.


" Kau keluar tepat pada waktunya, kau orang Panglima bukan??"


" Ya...!"


" sampaikan padanya, aku...aku berhasil menyelesaikan misi ini...!"


" Baik,...!"


" dan jangan katakan padanya jika aku sangat kelelahan!'


penjaga bayangan itu terdiam


" Panglima sedang fokus pada negara, tolong katakan aku baik - baik saja, apa kau mengerti??' ujar Tantan lirih dia sudah sangat lemas tak berdaya.


penjaga itu mengangguk,


" Nyonyaz mohon izin membawa anda ke rumah sakit !"


"Ya...tolong utamakan keselamatan anakku!" ujar Tantan lirih sebelum pingsan.


" Nyonya,...." Nisa sangat khawatir dengan nyonyanya, air mata Nisa mengalir begitu deras.


" Nona, kau katakan pada pasukan cadangan panglima untuk tidak mengatakan masalah nyonya pada panglima!"


" Baik!" Nisa segera pergi memberitahu komandan regu tentang hal itu, setelah itu Nisa menyusul ke rumah sakit di basecamp itu.


" Nona, cepat ke ruangan dokter....!"


pinta penjaga bayangan itu.


Nisa dengan hati berdebar menuju ruangan dokter.


" Bagaimana dok??"


" Nona, keadaan bayinya melemah, kita harus segera melakukan operasi untuk menyelamatkan keduanya...!"


" Apa??, tapi dokter saya tidak berani memutuskan!"


air mata Nisa semakin berderai.


" Lalu saya harus bagaimana??, jika tidak ada yang mau memutuskannya...??"


" Tunggu dokter adik ipar nyonya ada di bunker, saya akan mencarinya...!"

__ADS_1


" Cepat nona, takutnya tidak sempat lagi!"


Nisa sudah seperti orang linglung, tidak tahu harus berbuat apa.


" Nona ada apa??"


" Nyonya harus melakukan operasi sekarang,tapi aku tidak bisa memutuskan, sepertinya hanya nona Rya yang bisa mrngambil tanggung jawab untuk keputusan ini tapi harus cepat!"


" Saya akan mencarinya, tetap temani nyonya!"


penjaga bayangan itu segera pergi mencari Ria.


" Nyonya, bertahanlah...jika tidak kita semua akan mati di tangan Panglima!"


Nisa mondar mandir di depan ruangan, dia sudah sangat cemas Air matanya tak berhenti mengalir, bibirnya komat Kamit mendoakan nyonyanya dan bayinya agar baik- baik saja.


" huhuhu...tidak nyonya kuat pasti nyonya dan bayinya akan baik-baik saja!"


" Hiks hiks...Nyonya tolong jangan menakutiku...!"


" Nona bagaimana??"


" Tunggu dok, ...."


" Tapi keadaannya sudah semakin tak baik!"


" hiks hiks hiks...dokter bagaimana??"


" Nisa apa apa ada apa??" Ria pun tiba dengan wajah paniknya


" Dokter Rya ayo masuk!" Dokter itu segera menarik Rya masuk.


" Oh kakak ipar!"


dokter menjelaskan dengan singkat dan jelas.


" Lalukan, ayo lakukan dokter ,ayo selamatkan keduanya!" Rya menangis sesenggukan.


" Anda harus tenang dulu...!"


Rya segera memakai baju operasi dan mencuci tangannya,


" Nona, darah nyonya Ab, kami tidak ada persediaan!, paling tidak kita harus menyiapkan 5 kantong...!"


" Golongan darahku B dok, bagaimana ini??"


Dokter itu segera keluar ruangan


" Cari tahu daris semua prajurit yang ada siapa pun yang memiliki darah Ab, cepat datang!" ujar dokter memerintah.


Penjaga bayangan itu segera pergi ,


" Saya, ab dok ambil semua darah saya!" ujar Nisa.


" Anda ke ruang sebelah dulu!"


pinta dokter itu.


penjaga bayangan pun mengumpulkan 10 orang tentara berdarah AB dengan sangat cepat.


setelah mendapatkan persediaan darah cukup Dokter pun baru melakukan operasi.


Nisa dan penjaga bayangan itu mondar mandir di depan ruang operasi.


dan Semua pasukan yang ada berjaga di depan gedung rumah sakit itu, mereka juga sangat khawatir pada Istri Panglima.


" Ndan... panglima mengirim pesan,...!" ujar bawahan dari penjaga bayangan itu.


"Bagaimana ini, aku tidak berani menghadap Panglima!"


" Apakah kita harus mengatakan yang sebenarnya??"


" Jangan, nyonya melarangnya...tapi jika aku yang melapor dia akan tahu jika aku berbohong!"

__ADS_1


" Kalau begitu kita kirim pesan sementara saja Ndan, dengan alasan belum bisa kembali!"


" Tolong kau atur, aku harus menjaga nyonya!"


" Siap!"


bawahan itu pun segera pergi,


Di dalam ruang operasi,


Bayi Itu pun keluar dengan selamat, dan segera mendapatkan perawatan khusus di ruangan khusus.


tidak ada tangis bayi karena bayi prematur kebanyakan tidak menangis karena paru-parunya belum terbentuk sempurna.


setelah bayi keluar, rahim tidak berkontraksi rahim teraba lembek,pembuluh darah terus terbuka dan menimbulkan perdarahan hebat, Rya terlihat sangat panik,


" Dokter, tenangkan dirimu dulu!"


" Hiks hiks ..kakak ipar....!"


" Bawa dokter Rya keluar!"


Rya pun di bawa keluar agar tidak menggangu penanganan Tantan yang sedang mengalami pendarahan hebat.


Rya keluar dengan sesenggukan seluruh pakaiannya berlumuran darah.


" Dokter...kenapa??, apa yang terjadi???"


" Hiks hiks....Nisa aku takut sekali....!"


" Dokter jangan membuat Nisa semakin takut!"


" Kakak pendarahan hebat, aku takut...dia memiliki banyak bekas operasi sebelumnya, hiks hiks ...!"


" lalu bagaimana dengan bayinya??"


" Bayinya selamat, hiks hiks hiks...."


" kenapa bisa begitu??" Nisa sangat terkejut.


" Aku tidak begitu tahu jelas, rahim berkontraksi kurang baik, Kakak pendarahan sangat hebat, hiks hiks hiks..."


keduanya pun menangis cukup keras.


" Nona, tolong tenangkan diri kalian dari pada menangis, sebaiknya berdoa!" ujar penjaga bayangan itu ikut panik.


" Nona anda ganti baju dulu sebaiknya,...hiks hiks" ujar Nisa pada Rya.


Rya mengangguk dia segera berganti pakaian bersih dan masuk ke ruangan khusus untuk penanganan bayi prematur.


Rya memandang bayi yang berada dalam inkubator itu, wajah bayi itu sangat tenang,


" Nak, ibumu pasti akan selamat bukan??, aku tidak berani menunggu di sana, aku akan menanti kabar baik tentang ibumu di sini bersamamu!"


Rya menangis sesenggukan di hadapan keponakannya yang mungil itu.


" Hiks hiks hiks...ibumu adalah wanita hebat, aku tahu dia tidak akan mudah menyerah, dia pasti bisa melewati semua ini!"


Rya menguatkan dirinya.


meskipun kakinya sudah terasa sangat lemas, apalagi mengingat wajah Tantan di ruang operasi .


" Iya, ibumu dulu juga pernah hampir kehilangan nyawanya bahkan tak bisa berjalan lagi, dia tidak menyerah, dia kembali membaik dan bisa berjalan lagi, aku yakin, ibumu juga akan melewati ini dengan baik kan nak??, apa sebenarnya yang salah pada ibumu nak??,mungkin bisa saja terjadi kelainan pembekuan darah. Selain itu jaringan parut pada rahim bekas operasi sebelumnya mungkin saja menghambat kontraksi rahim, jadi pendarahan...untung dokter itu tahu keadaan ibumu...hiks hiks hiks..."


tok tok tok...


Rya terkejut dengan ketukan pintu,


" Nona...dokter Lulu memanggil anda..."


" Apa??" Rya sangat terkejut, dia tidak ingin mendengar berita buruk kali ini, sungguh tidak mau, tapi dia juga harus tahu bagaimana dengan Tantan.


Rya segera menghapus air matanya menguatkan hatinya untuk kemungkinan terburuk yang terjadi.

__ADS_1


dia melangkah keluar dengan kaki gemetaran.


__ADS_2