DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
240. Ayo menikah


__ADS_3

"Jendral tugas kita sudah selesai, tinggal bagaimana ayah Tantan saja kan??"


" Ya benar...tapi kita tetap stay di sini Dex, sampai ada perintah dari Panglima!"


" Baik...!"


Drrrrrrt....drrrrtttt...


" Nah, Bos Jim telpon!"


" Angkat Dex!"


" Ya bos??"


" Datang ke tempat Tantan sekarang bersama Jenderal Dex!"


" Baik bos!"


panggilan pun berakhir...


...----------------...


" Dokter bagaimana cucu saya??" tanya Maya


" Syukurlah, cucu anda sangat sehat nyonya, lihatlah betapa aktifnya di dalam kandungan...!"


" Aku sudah tidak sabar lagi menimangnya!" Maya sangat bahagia.


" saya juga turut bahagia,...ini vitaminnya jangan lupa di minum, karena semuanya sudah saya permisi dulu!"


" Baik dokter terimakasih!"


" Ibu, hihihi Tantan sangat bahagia!" sambil mengusap perutnya.


" Ya sayang, kau harus terus bahagia...!"


Panglima yang sedari tadi berdiri bersandar di dinding berjalan menghampiri istrinya mencium kening istri tercintanya, dia sangat bahagia, karna akan menjadi seorang ayah.


" Terimakasih istriku...!"


saat dokter Dimas akan keluar , Panglima menghentikannya


" Dokter, bisa kita bicara sebentar di ruang sebelah!" pinta Panglima.


" Oh bisa!" mereka pun segera masuk ke ruang sebelah.


" Apa ada yang bisa saya bantu, Panglima??"


" Ya, saya minta bantuan anda untuk urusan. ibu-ibu... seperti sebelumnya, hanya saja saya ingin mereka memilih mertua saya menjadi pemimpin!"


Dimas manggut-manggut,


"saya akan membantu Panglima...!"


" Terimakasih Dokter!"


" Sama-sama!, jika tidak ada yang lain saya pamit panglima!"


" Oke, hati-hati Dokter!"


...----------------...


" Nona, bagaimana keadaan Grey??"


" Dia sudah membaik Kok, bawa dia pada Nisa!"


Zero segera menggendong Grey, dan segera membawanya ke ruangan Nisa.


terlihat Nisa baru selesai di periksa,


" Tuan, selamat pagi!" Dokter itu menyapa Zero saat keluar ruangan.


" Apa dia lebih baik dok???"


" Ya, gadis itu sudah sangat baik, dia memiliki semangat hidup yang tinggi!"


" Oh terimakasih dok!"


" Baik!"

__ADS_1


Zero pun segera masuk ke ruangan Nisa.


" Hai ibu kecil, ..." Ujar Zero membahasakan Grey pada Nisa.


" Aku bukan ibu kecilmu, panggil aku kakak Grey!"


Grey yang melihat Nisa pun kegirangan meminta gendong.


Nisa langsung menggendong dan memeluk Grey, dengan penuh kasih sayang.


Grey mengeratkan pelukannya pada Nisa dan mencium pipi Nisa.


" Oh genit sekali bayi ini" Zero mencubit Grey gemas.


" Kakak, apa Grey benar - benar sudah sehat??" tanya Nisa


" Nisa , sepertinya Grey memiliki ikatan batin yang kuat denganmu, saat kau sakit dia juga sakit, saat kau membaik dia ikut membaik, jadi kau harus segera sehat dan lebih bersemangat lagi, Grey bergantung padamu!"


" Oh, iyakah Grey kalau begitu kakak sudah sangat sehat, kau tidak boleh sakit lagi!"


Zero tersenyum melihat senyum merekah pada Nisa.


" Kasihan sekali kamu ya Grey, masih kecil sudah sebatang kara, kakak ternyata masih lebih beruntung dari padamu!" ujar Nisa.


itulah yang di sukai Zero dari gadis kecil di hadapannya, dia masih bisa slalu merasa beruntung dari orang lain, padahal Zero sudah sangat khawatir jika dia akan berakhir sama seperti keluarga Josh.


" Kita akan, memberikan keluarga yang utuh untuk Grey...!" pungkas Zero memandang ke arah Grey.


" ha??, maksudnya apa kakak??"


" Ayo menikah Nisa, dan jadikan Grey menjadi putra kita...!"


" Mememe...menikah??"


Menikah adalah kata yang tidak pernah terlintas di pikiran Nisa selama ini, karena dia hanya ingin kuat dan bisa balas dendam, dan lagi dia baru 16 tahun.


" Hemmm, menikahlah denganku!"


Nisa memandang ke arah Grey,


" Lihat Grey dia sangat menyayangimu, biarkan dia menganggapmu sebagai ibunya, dan aku akan menjadi ayah untuknya, meskipun aku belum tahu bagaimana menjadi seorang suami dan ayah, aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk keduanya!"


" Kakak, Bahkan Nisa tidak tahu pasti dari kata menikah itu apa??, Nisa belum mengerti bagaimana menjalankan perannya sebagai wanita yang sudah menikah!"


Zero menggaruk kepalanya yang tak gatal, Zero sendiri juga tidak mengerti, jadi Zero juga tidak bisa menjelaskannya pada Nisa.


" Maaf, aku juga tidak tahu Nisa...tapi jika boleh jujur aku menyukaimu, aku baru menyadarinya saat kita menjalankan misi bersama!"


" apa??"


Nisa seakan tak percaya, namun wajahnya tiba-tiba murung.


" Jangan, jangan Nisa kak...Nisa tidak pantas untuk kakak...!" ucapnya menunduk dan meneteskan air mata.


seketika Grey pun ikut menangis,


Zero kebingungan karena dua anak kecil di hadapannya menangis , siapa dulu yang harus Zero tenangkan.


" Ah, jangan menangis...Lihat Grey juga ikut sedih!" mengambil Grey menepuk punggung Grey perlahan namun tak kunjung tenang, Zero pun menepuk punggung Nisa perlahan dan memeluknya dengan tangan kiri karena tangan kanan menggedong Grey yang masih menangis.


Nisa pun mulai tenang, Grey juga berhenti menangis.


" Ah...kalian ini kenapa membuatku panik , Nisa lihat kau tidak boleh menangis, Grey ikut menangis tahu!"


" maaf kak!" menghapus air matanya lalu mengambil Grey dari gendongan Zero.


" Dia mengantuk, biar aku timang dulu!" Nisa menimang - nimang bayi yang sudah pintar mengoceh tak karuan itu sambil bernyanyi -nyanyi kecil.


tak lama Grey pun terlelap, Nisa menidurkan Grey di ranjang pasiennya yang cukup besar.


" kau sudah cocok menjadi ibu...jadi bagaimana dengan tawaran ku Nisa???"


" tawaran apa kak??"


" Itu loe, menikah dan memberikan Grey keluarga yang utuh...!"


" Tapi Nisa masih 16 tahun kak...!"


" Tak masalah, umur bukan hal yang perlu di perdebatkan, aku tidak butuh pendamping yang berpendidikan tinggi, yang terpenting dia seperti ibuku, baik hati, penuh semangat dan tidak mudah menyerah!"

__ADS_1


"Tapi...."


" Nisa, aku akan memberimu waktu 3 hari pikirkan baik-baik!"


" Nisa sudah tidak suci lagi kak!"


tegas Nisa.


" Aku tidak mempermasalahkan itu, aku tetap menyukaimu adanya!"


Nisa terdiam, dia tidak tahu harus bicara apa lagi.


" Aku pergi dulu Nisa, aku akan datang 3 hari lagi untuk meminta jawabanmu!" Zero pun segera pergi dari ruangan Nisa.


Nisa memeluk tubuhnya sendiri, dia masih teringat tangan-tangan kotor yang merabanya, rasa sakit itu masih sangat terasa di sekujur tubuhnya.


tok tok tok...


Nisa pun tersadar dari lamunannya,


" Nisa, ada apa??" tanya Ria yang melihat Nisa terlihat tidak baik.


" Dokter Ria...!"


" Aku mau mengambil Grey, aku takut kau akan kelelahan, kenapa dengan Zero dan kau?, apa yang terjadi??"


" Ah, tidak ada apa-apa kak!"


" Cerita saja pada kakak Nisa...!"


memegang tangan Nisa dengan lembut.


" Apa??, coba ceritakan padaku!" pinta Ria sedikit memaksa.


" Kak, Zero mengajakku menikah kak!"


" Apa??" terkejut bukan main.


" Dia mengatakan ingin memberikan keluarga yang utuh untuk Grey!"


" OMG, kau serius??" Ria tak habis pikir jika Zero main dasdes.


" Apa kau menyukainya??, jika kau tidak menyukainya, tolak saja!"


" Kan Nisa masih 16tahun kak!"


" Memang kenapa??, jika kau siap menikah saja!"


" Bukankah, harus 17tahun dulu baru menikah??"


" Itu di kota, di tempat terpencil seperti ini tidak berlaku Nisa!"


" Tapi, Nisa bukan wanita baik-baik kak!"


" Katakan padaku, bagaimana perasaanmu pada Zero??"


" Nisa slalu nyaman berada di dekat kak Zero!"


" Apa kau rela dia menyukai wanita lain??"


" sebenarnya tidak apa-apa, hanya saja rasanya sedikit sesak di dada jika itu terjadi!"


Ria tersenyum mengembang,


" Kalau begitu, terima saja dia, dia pria yang baik Nisa, dia memang tidak romantis, tapi dia cukup bertanggung jawab, kau akan bahagia jika bersama Zero!"


" tapi Nisa tidak pantas!"


" Aku tahu, kau masih trauma, tapi nyatanya Zero merasa kau pantas dengannya, terima dia, kau, Zero, dan juga Grey, sama - sama sebatang kara, kalian tahu apa yang harus di lakukan satu sama lain, melengkapi semua kekurangan pada masing-masing, meski dia terlihat dingin, dia akan menunjukkan sisi hangatnya pada orang yang penting dihatinya, dia juga orang yang sabar, jika kau belum siap menjalankan tugasmu sebagai istri,aku yakin dia akan bersabar sampai kau siap Nisa!"


" Kaka dekat dengannya?"


" Dekat dulu saat magang di sini, dia lebih muda 3 tahun dariku!"


Nisa terdiam untuk mengambil keputusannya.


" Jangan buru-buru, pikirkan dengan Matang, aku ambil Grey ya, kau cepat membaik, aku pergi dulu!"


Ria pun segera menggendong Grey dan membawanya kembali ke kamar anak.

__ADS_1


__ADS_2