DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
175. Hal berharga


__ADS_3

" Sudah aku mau tidur!"


Tantan segera bangkit membawa ponselnya masuk .


Wah benar kata orang - orang anak itu pembuka pintu rejeki, dia akan membawa rejeki berlimpah, aduh nak sehat - sehat ya...


mengelus perutnya dengan senang hati.


" Tantan, apa kau sudah menyelesaikan teka tekinya??"


tanya Suzy yang ternyata masih terjaga.


" Teka - teki itu tidak penting lagi, hehehe aku mendapatkan hadiah besar lain!"


sambil memutar rekaman pembicaraannya dengan Jimmie tadi yang diam - diam dia rekam tanpa sepengetahuan Jimmie.


" Oh, Suara Jimmie?"


" Ya, ...!" Tania mematikan ponselnya.


" Kenapa dengan suara Jimmie, apa itu bisa mendapatkan banyak uang? hehehe!"


" Tentu!"


" Oh ya??"


" Hemmm dia memintaku meyakinkan Ria, aku hanya akan memutar ini saja pada Ria, aku yakin dia juga tidak akan ragu lagi pada Jimmie, jika aku meyakinkan Ria sendiri, itu tidak mungkin 100% berpengaruh!"


" Wah, Tantan, kau sejak dulu sangat hebat, aku bangga padamu!"


" Aduh aduh...kepalaku berasa berat, heheheh!"


" Kalian kenapa belum tidur??" Maya yang terbangun karena suara cekikikan Tantan Dan Suzy.


" Maaf ibu, ibu jadi terbangun!" Ujar Tantan


" Tidak apa, ayo kalian harus tidur jangan begadang!"


" Baik ibu!" keduanya pun bergegas untuk tidur, Maya membantu menyelimuti keduanya


" Tidur yang Nyeyak anak - anakku, jangan lupa berdoa!"


" Baik ibu!" merek berdua merasa nyaman dan aman karena Maya mempelakukan keduanya seperti anak kandung mereka sendiri.


setelah mereka terlelap, Maya pun keluar dari kamar untuk mengambil air minum.


" Jimmie sedang apa kau??"


" Aku harus menyusul Panglima Bibi!"


" Kau menyiapkan banyak hal rupanya!"


" Ya, ini hanya beberapa saja Tante!"


" Lalu bagaimana dengan anak dan suamiku di sana?"


" Jack akan menjaganya!"


" Lalu bagaimana dengan Anton dan Meimei?"


" ada Dex yang 24jam mantau juga!"


" Lalu kedua orang tua Suzy?"


" Aku mengirim tiga orang untuk menjaga mereka diam - diam!"

__ADS_1


" Oh, syukurlah...lalu apakah kedua menantuku di sini sangat aman?"


" Jika aman, iya untuk sangat aman tidak bibi!"


" Lalu apa yang harus kita lakukan Jimmie?, jika itu tertimpa padaku, aku tidak masalah bagaimana jika dengan kedua menantuku ini?"


" Jika terjadi sesuatu percaya pada Tantan saja Bibi!"


" Jangan bercanda nak Jimmie!"


" Tidak bercanda bibi, Panglima sudah melatih menantumu dengan sangat baik!"


" Tidak bisa, dia sedang hamil...!"


" Dia slalu menggunakan isi kepalanya untuk menjaga dirinya, percayalah kau akan bangga dengan menantumu jika melihat hal itu terjadi!"


" Apa kita sungguh tidak di beri penjagaan??"


" Ada tentara bayangan Panglima, yang aku sendiri Sulit mendeteksi keberadaannya!"


" Oh sungguh ada??"


" Mungkin bibi, Panglima slalu berpikir jangka panjang!"


" Syukurlah jika kebenarannya begitu, bibi tenang...!"


" kuncinya memang harus selalu tenang bibi, ...!"


" Ya...jika begitu kau segera istirahat agar besok tidak mengantuk saat berangkat!"


" Ya bibi Sebentar lagi!"


" Baiklah, bibi kembali ke kamar...!" Maya segera kembali ke kamarnya.


...----------------...


Jimmie sudah berangkat menyusul Panglima di pagi buta.


Maya yang terbiasa bangun awal, segera menyiapkan sarapan, yang di bantu oleh bibi Chu.


setelah selesai Maya, bersantai di halaman depan, sambil menikmati secangkir teh manis.


Hmmm, kapan kekacauan ini akan berakhir, ...


sebenarnya aku rindu dengan kesibukanku sebelumnya, namun bagaimana lagi, setidaknya aku tidak kesepian di saat tidak ada pekerjaan yang harusnya aku lakukan, eh tapi tunggu, aku akan menjadi nenek kan, hihihi...aku akan mendesign baju-baju bayi, wah itu terlihat sangat menyenangkan...benar sebaiknya aku harus menenangkan pikiran ku agar tidak khawatir yang berlebihan dan tidak menjadi beban untuk anak - anakku, aku akan sibuk lagi dengan hobbyku...hehehe...


" Bibi,...!"


" Ada apa nyonya?"


" Apa di sini ada toko alat jahit?, lalu toko alat tulis??"


" Nyonya membutuhkan apa memangnya?"


" Aku ingin membeli mesin jahit dan perlengkapannya bi...!"


" Ada tapi, dekat di pusat perbelanjaan nyonya!"


" Oh jauh ya??"


" ya sangat jauh nyonya!"


" Kalau begitu terpaksa pesan online saja, tapi itu pasti tidak sesuai ekspektasi,hemmm aku tidak bisa melihat dengan jelas barang - barang yang ingin aku beli!"


" Nyonya, sebenarnya di rumah ini juga ada mesin jahit, tapi sudah sangat lama nyonya milik mendiang nyonya Sara!"

__ADS_1


" Oh ya???, benarkah bi?"


" Ya meski mesin lama namun itu mesin yang terbaik!"


" Di mana Bi?? bisa lihat?"


" Itu ada di gudang penyimpanan , kuncinya ada pada Tuan dan nyonya Tantan.


" Aku baru tahu jika sahabatku itu juga bisa menjahit, dulu dia memasukan benang ke lubang jarum saja sangat sulit loe biii...ahahah!"


" hehehee, iya kah nyonya??,namun saya menemui nyonya saya dari awal masuk kediaman Latif beliau sudah bisa menjahit, dan saat hamil beliau slalu mendesign baju- baju untuk nyonya Tantan!"


" Ah, rupanya dia sungguh melakukan apa yang dia ucapkan, dia tidak akan kalah dariku suatu saat nanti, aduhh...aku sangat rindu padanya!"


Maya mengusap pipinya yang basah.


" Jika rindu pandang dan peluk saja nyonya ku Tantan, dia sangat mirip dengan mendiang ibunya!"


" Ahmm...benar bi...dia sangat mirip dengan ibunya, Semua nya tingkah laku, senyum, tertawa,berjalan, saat tidur pun sama, tak ku sangka kami bertemu dan bersatu menjadi keluarga sekarang, aku sangat bahagia bi!"


" Saya juga turut amat sangat bahagia karena nyonyaku mendapatkan keluarga yang sangat baik, suami yang sangat luar biasa!"


" Hehehe, jika bukan Tantanku itu Leon ku tidak akan bisa luluh bibi... karena Tantan terlalu bersinar, hahahah...!"


" Hahahahhah, ...!" Bibi chu juga ikut tertawa.


" Selamat pagi..wah bibi dan ibu sedang membicarakan apa??, sangat seruu sekali?"


Tantan yang baru bangun dan mendengar tawa mereka.


" Heheheh, ada deh nyonya!" Ujar Bibi Chu menggoda.


" Yah bibi, gitu amat sih??"


" hehehehe...tidak ada yang di bicarakan, apa Suzy juga sudah bangun?"


" Sudah, ibu... dia baru cuci muka dan gosok gigi!"


" Oh, bagus...kalau begitu kita siap - siap untuk sarapan yuk!" ajak Maya.


" Biar saya siapkan nyonya!"


" Baik bibi!"


setelah mereka sarapan, Maya mulai menanyakan tentang barang - barang penginggalan ibunya.


" Tantan, apakah kau bisa melihatkan barang peninggalan ibumu, pada ibu sekarang?"


" Oh ya, Tantan hampir lupa, ayo Tantan bawa lihat ibu!"


Maya segera beranjak dadi duduknya, dia sangat kegirangan dan tidak sabar.


" Aku ambil kuncinya dulu ibu!"


Tantan berlari ke ruang baca ayahnya dan mengambil kunci yang di simpannya di sana.


" Ayo ibu, ...!" Ajak Tantan girang.


" Bukankah, kau juga membawa kuncinya?, kenapa harus mengambilnya di ruang baca ayahmu, apakah boleh di buka ruangan itu?"


" Iya ibu boleh, aku menjadikannya liontin di kalung, dan aku pakaikan pada Panglima, hehehe!"


" Astaga, jika itu barang penting kenapa kau memberikannya pada Panglima sayang?, bagaimana jika hilang?"


" Ya karena aku memintanya berjanji untuk pulang dengan selamat membawa benda berharga ku!, aku tahu Panglima akan menjaganya dan membawanya pulang dengan selamat!" Ujar Tantan sambil tersenyum.

__ADS_1


Oh astaga anak ini, kenapa manis sekali,...


dalam hati Maya.


__ADS_2