DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
162. Bertepuk sebelah Tangan


__ADS_3

" Tapi bagaimana lagi kita tidak boleh mencolok dengan banyak orang!"


" Jika istri Panglima keluar tembak langsung!"


perintah anak buah Devance pada rekanya.


" kalian berdua cepat bawa bos ke rumah sakit!"


Dua orang yang berjaga diluar pun segera masuk, dan membawa Devance pergi ke rumah sakit.


Ternyata Tania masih bersembunyi, di kamar dimana Tania Tadi disekap.


Karna Tania tahu hanya di ruangan dia di sekap yang tidak terpantau Cctv.


Setelah, mendengar Devance dibawa pergi dan sudah di rasa aman, Tania keluar dari kamar, Tan kembali masuk ke dalam ruangan dengan hati - hati.


jadi design apartemen itu, pintu masuk sisi kanan kamar tamu, baru masuk ruang tamu atau keluarga, jadi Tania cuma buka pintu langsung masuk kamar tamu, biar musuhnya mikir udah kabur keluar gitu.


( yang design apartemen emang pro bgt sama Tania ya! 😂)


Tania lihat sikon dari Tv, musuhnya ke mana Yulius kemana.


( kok malah jadi kang Pantau Cctv sih Tan?, lagi dalam bahaya loe ini nyawa kamu sama Yulius!)


" Huftt... baru sampek itu kakak!" Gumam Tantan, sambil meraba tubuh musuhmya yang sudah tak bernyawa.


" apa kau tidak punya senjata hebat!" gumam Tantan.


" Tania...!"


Yulius memeluk Tantan


" Kakak kau lambat sekali!"


" Maaf, ...apa yang kau lakukan ayo kita pergi!"


" sebentar, barangkali dia punya senjata bagus!"


" astaga, ayo cepat!" Yulius mengambil pistol yang tergeletak dilantai.


" Ayo Tania!"


" Sebantar, kakak lihatlah di layar Tv itu di mana musuh kita!"


" jadi kau sedari tadi melihatku mencari di setiap apartemen dan tidak segera keluar!"


" Di sini tempat yang paling aman!"


" Mereka tidak banyak, hanya beberapa orang saja ayo keluar!"


melihat semua sudah aman, Tania pun menuruti Yulius .


sampailah mereka keluar dari gedung apartemen itu.


" Abang, kakak ipar!"


Ria sudah sampai dengan anak buah Yulius


" Wah Ria kau juga pergi, aduh semua gara - gara aku, acara pernikahan mu rusak!" Tania merasa bersalah.


" Yang terpenting kakak ipar selamat!"


" Ya sudah cepat kita kembali!"


" Iya kakak ipar kepalamu berdarah!"


" Masak???" Tania memegang kepalanya, baru Tania merasa pusing.


" Oh...sakit juga rupanya!" Gumam Tantan dan pandangannya mulai kabur dan


" Tantan!" Yulius segera menangkap Tantan yang pingsan.


Di atas gedung,


" Kenapa dia baru pingsan?"


" Jadi kapan kita harus menembak mereka?"


" Istri Panglima pingsan , sulit ditargetkan, langsung saja tembak Yulius!, target utamanya!"


Saat Yulius panik menggendong Tania, Ria melihat ke sekeliling, dan melihat di atap gedung.


mata Ria terkejut,


" Tembak!!!"


" Tidakkkk!" Ria memeluk Yulius

__ADS_1


" Doooooooooooorrrrrrrrr!"


Mata Yulius terbelalak, karena terkejut...


" Ria kau tidak papa?"


" Tidak, aku tidak apa-apa!" Ria juga kebingungan.


" Bossss...!" Terlihat Jack dan Dex berlarian mendekat.


terlihat Jimmie sudah tergeletak dengan peluru menembus dadanya.


" Aggggggg kak Jimmie!"


" Cepat bawa bos ke rumah sakit, kami akan menangani mereka!" Teriak Dex.


" Oh tidak kakak ku mohon jangan menakutiku!"


Ria segera memberi pertolongan pada Jimmie.


Ria segera merobek bajunya, sehingga terlihat bahian perutnya, dan segera menekan pada luka Jimmie.


" Kakak jangan bergerak dulu, aku akan pikirkan cara agar kau bisa bertahan!"


Jimmie hanya tersenyum pada Ria.


" Ria, Tania juga terluka, kita harus segera membawanya ke rumah sakit!"


" abang, tolong telphone ambulance!!"


Yulius pun segera menelphone ambulance.


" Tania jangan menakuti kakak!" Yulius memeluk Tantan seakan benar-benar takut kehilangan.


" Abang, pergilah ke rumah sakit dulu dengan kakak ipar!" Ujar Ria sambil menekan luka Jimmie.


" Ya, ke rumah sakit sekarang!"


Yulius pun pergi ke rumah sakit tanpa berpikir panjang.


Ria, baru menyadari bahwa ternyata, pria yang baru di nikahinya memang tidak pernah mencintainya, Ria tidak bisa menahan air matanya.


" Jaaa ngan menangiss, Ria!"


" Huks huks...Kakak tetaplah diam, pura-puralah tidak melihatku, sebentar lagi ambulance datang!"


Jimmie segera menutup matanya,...


Wiawwiwaw wiawwwww


ambulance pun tiba, Jimmie segera di angkat ke dalam mobil ambulans, Ria pun ikut masuk.


Jimmie pun di larikan ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan penanganan.


Dan barulah tiba Panglima dan Jendral ke lokasi,


( panglima sama Jenderal, lama - lama kayak pak ladusing aja, datang terlambat!!")


" Sepertinya terjadi tembak - tembakan ada darah banyak itu!"


ujar Jendral menunjuk darah yang bercecer.


" Panglima, Jendral...!" Jack dan Dex berhasil meringkus anak buah Devance.


" Ini siapa yang yang terluka?"


" Bos dan Tantan!"


" apppaaa???" Jenderal dan Panglima terkejut.


" Mereka di bawa kemana??"


" Panglima telpon Ria coba, aku akan menyelesaikan orang ini dan menangkap yang lain!" Ujar Dex dan Jack memasukan 2 anak buah Devance ke dalam mobilnya dan pergi.


Panglima segera menelpon Ria...


Drrrrrtttt Drrrrrrttttt


" Ria, di mana istriku dibawa?" tanya Panglima yang sekarang mulai khawatir.


" Kakak, Ria tidak tahu karena Yulius yang membawa kakak ipar!"


" Loe??, mang kamu kemana?"


" Ria menunggu kak Jimmie operasi!"


" Apa??"

__ADS_1


" Kakak telphone Yulius saja!"


titt......


panggilan pun berakhir...


" Ini sebenarnya ada, apa? kenapa dia marah?" Panglima kebingungan.


" ini yang tertembak siapa sih??" Jenderal ikut bingung.


Panglima pun segera menghubungi Yulius.


" Hallo,...!"


" Di mana istriku bagaimana keadaannya?!"


" tidak apa - apa hanya luka ringan saja, kami ada dirumah sakit cempaka !"


Panglima segera melaju...menuju rumah Sakit bersama Jendral.


sampai lah kedua Ladusing eh Panglima dan Jendral di rumah sakit Cempaka.


" Istriku, ...!"


" Panglima...!" Tania malah terlihat biasa saja, sambil melambaikan tangannya panglima tanpa ada beban.


" Tantan, kau apa sudah tidak waras??" Jendral Petter yang khawatir sampai emosi.


" Jendral, ini rumah sakit, tolong tahanlah dulu!"


Panglima menenangkan Jenderal Petter.


" Wah apa Jendral sedang mengkhawatirkan aku??" Tania menggoda si Petter.


" ah?, mana ada?, kenapa aku harus khawatir dengan anak nakal seperti mu!"


" Kenapa marah?"


" Marahlah, jika kamu kenapa-kenapa pasti istriku akan sedih, aku hanya tidak mau melihat dia sedih saja, jangan GR!"


" Pffffffffftttttttt....!" Panglima dan Tania menertawakan sikap gengsinya Jendral.


" Sayang, kau istirahat saja dulu ya, aku ingin berbicara dengan Yulius dulu di luar!"


" ehmmm!"


Tania mengangguk.


...----------------...


" Yulius jelaskan maksud dari semua ini!"


" hmmm, maaf Panglima...bukannya Saya mempermainkan perasaan Ria, namun menikah dengannya itu juga hal terbaik!"


" Terbaik kepalamu!"


" Benar, kau ini tidak ada otak Yulius!" jendral Petter ikut memaki.


" Kau mau apa sih???"


" Ku rasa Panglima dan Jendral juga sudah, tahu!, aku pikir jabatanku bisa mempengaruhi, ternyata mereka malah ingin menjadikanku korban!"


" memalukan!!, kau pikir kau sudah hebat!, kau hampir menyengsarakan banyak orang!"


" Ya jabatanmu sangat penting, maka dari itu mereka akan menjadikan alasan kematianmu untuk berperang!"


" im Sorry, aku tidak berniat buruk!"


" Yulius, aku menghormatimu sebagai orang terdekat istriku, aku tidak akan memukulmu untuk adikku, tapi jika kau tidak mencintainya ceraikan sekarang!"


"Panglima, mereka baru menikah kenapa sudah kau suruh cerai??" Jendral Petter terkejut.


" Saya akan mencoba mencintainya!"


" Lupakan percobaan itu, dua negera ini tidak akan berakhir baik jika kau menikah dengan orang kami!"


" Tapi Panglima!"


" Tidak ada, ceraikan Ria dan bawa kembali kelualgamu!"


" Panglima kau gila, setidaknya beri mereka waktu, kau tidak bisa ikut campur!"


" Diamlah, Jendral aku lebih baik menyerahkan adikku pada Jimmie dari pada dengan orang seperti dia!"


" Heiii, Panglima kau tidak salah berucap kan?"


" Jenderal, Jimmie memang terlihat berengsek, tapi dia tidak akan menyakiti Ria, dia tidak akan membohongi Ria dia berani mempertaruhkan nyawanya untuk Ria!, Jimmie memang Berengseek tapi dia bajjingann!!" sambil menunjuk Yulius.

__ADS_1


" Oh...ok!" Jendral tidak bisa melawan lagi.


Dan Yulius sudah tidak bisa membela dirinya lagi.


__ADS_2