
Pintu pun terbuka dengan sempurna,
" Sekarang!" Jack Mengulurkan tangannya, Hatta pun segera meraih dan melompat dengan sempurna.
Jendral segera mendorong kaki Jack melompat keluar.
Jenderal Petter mengambil langkah mudur lalu berlari ke depan lalu mamantulkan kakinya ke tembok dan melompat keluar.
Jack segera menghubungi Panglima untuk segera membuat Gardu Listrik PLN konslet.
" Panglima, sekarang!"
" Oke!"
" Jack pandu aku untuk membuka Gardu tempat kuncinya pipih, apa harus di congkel?"
" Tidak ambillah kawat kecil, lalu lipat jadi 2 segera masukan pada lubang kunci, jika sudah menekan sesuatu ambil obeng tipis masukan pada bibir kunci untuk membantu memutar!"
" oke!"
Panglima berusaha membobol pintu Gardu itu dengan arahan Jack,agar bisa memutus beberapa kabel agar listrik di wilayah itu padam.
Sementara di dalam kediaman kepresidenan.
Petter dan Hatta melindungi Jack yang sedang konsentrasi memandu Panglima untuk bertindak.
" Tangkap, jangan sampai mereka lolos...!" teriak para Penjaga.
" Bangggsatt ketahuan, Jack lewat mana?" Tanya Petter.
" Kiri !" jawab Jack mengarah kembali ke pintu samping yang dia lewati tadi.
" Jack, apa di sana aman??"
Tanya Panglima.
" Panglima apa kau belum bisa membuka??, Kami sudah di kejar pengawal cukup banyak!"
" Sudah terbuka...!"
" Cepat putus semuanya saja...!"
" Apa?"
Dooorrr
Doooorr dooooor...
Suara tembak menembak itu sangat jelas di telinga Panglima.
" Jack bertahalah!" Teriak Petter,
Bahu Jack tertebak oleh peluru panas 2 kali.
" Panglima cepat, kami tidak bisa lari lebih cepat, setelah itu cepat jemput kami di pintu yang sama ....aghhhh..." dengan tangan bergetar menahan sakit Jack msih berupaya memegangi ponselnya.
mendengar itu panglima segera memotong semua kabel yang ada.
Dooorrrrr dooooor doooooor
boooookkkkkk...
Hatta dan Jack terjatuh karena tertembak tepat di kaki mereka.
" Cepat tangkap!"
" Damn,,,!" Jendral membalas tembakan sementara Hatta dan Jack saling menopang dengan kaki yang tertembak berusaha untuk berdiri.
" Kalian cepat pergi duluan aku akan menahannya!" tegas Jenderal Petter.
Dengan sekuat tenaga Jack dan Hatta saling mengeratkan pegangan untuk bisa berdiri, mereka segera berlari dengan terpincang-pincang.
" Cepat, cepat...!"
Jenderal berjalan mundur untuk mengawasi gerak musuh yang semakin mendekat.
Saat musuh tinggal 3 langkah lagi akan menangkap Petter Listrik pun Padam.
__ADS_1
" Oh God Thank!" Petter segera menerobos ke tengah antara Jack dan Hatta menopang mereka yang tepat berada di belakangnya dan berlari lebih cepat.
" Sial gelap sekali, aku tidak bisa melihat apapun Jack!" ujar Petter
" Tetap lurus...!" tegas Jack
Dengan langkah cepat dan seirama mereka terus berjalan mengikuti arahan Jack.
" Kanan!"
" Lurus !"
" Booookkkkkkkkkk!"
" Sialan kau buta!" ujar Petter kesal karena mereka menabrak tembok dan jatuh bersama.
"kita semua buta dalam kegelapan Jendral!" ujar Jack meringis menahan sakit karna tertindih.
" Aih kemana kita pergi?"
" Maaf Jenderal tadi saya lewat jendela coba raba-raba...!"
mereka bertiga yang mendadak buta pun mulai meraba tembok di depannya.
" Mana??" mereka meraba ke segala arah.
" Hei siapa yang memegang kakiku...?, sakit!!!" teriak Jack.
" Maaf Jack paman tidak sengaja!" Ujar Ayah Tantan.
terdengar suara langkah kaki yang kian terdengar, dan pantulan sinar dari senter yang mereka bawa.
" Itu Jendelanya di seberang!"
" Sialan, Ayo cepat berdiri!, tangan - tangan!" mencoba mencari tangan Jack dan Hatta.
" Agggghhhh, Jendral kau meremas kakiku!" Teriak Jack semakin kesakitan.
" Oh maaf...cepatlah. Ayo kalian lompat dulu!"
mereka melompat secara bergantian, setelah berhasil melompat mereka memilih untuk berjalan merangkak agar lebih cepat,dan aman untuk Hatta dan Jack
" Itu sudah agak jelas pintunya, karena sudah di outdoor!" jelas Jack
"Itu mereka!"
" Damn..." Petter melempar beberapa pot pot kecil ke arah mereka sehingga mereka sibuk menghindar
" Panglima yang melihat mertua dan Jack merangkak segera turun dan memapah keduanya masuk ke mobil.
Panglima menarik Petter dan melemparkan geranat kecil ke arah lawan.
"
Petter mengambil Kursi kemudi Panglima segera melompat ke atap mobil
" Jalan!" perintah Panglima
Petter pun segera menginjak pedal gas cukup dalam.
Vroooooooooommmmm
Mobil itu melaju melesat dengan sangat cepat.
Panglima masih berpegang erat di sela- sela pintu - pintu agar tidak terjatuh .
Doooooooooooooooooouuuuuuuuuuuuammmmm.
ledakkan pun terdengar cukup keras.
Petter mengurangi kecepatannya dan membuka lebar jendela mobil, untuk membantu Panglima berpindah masuk melalui jendela di bangku depan.
" Happp!" Panglima pun duduk dengan sempurna .
" Hahhhhh, hahhhhh,hahhhhh" mereka berempat memiliki nafas yang terengah engah.
" Panglima kita ke mana??"
__ADS_1
" Kita masuk ke bascamp Zero, kalian obati luka kalian lebih dulu ....!"
" Baik...!"
Petter segera membawa kemudi menuju Bascamp Zero.
Mereka memakai kecepatan tinggi menuju Bascamp.
...----------------...
" Pak, rumah kepresidenan kacau, Jendral dan Perwira tua itu lolos, banyak penjaga yang meregang nyawanya dan beberapa orang terluka!"
" Bajjjiiingan... bagaimana bisa??"
Bi terlihat sangat gugup, tubuhnya seketika keringat dingin mendengar kartu terakhirnya lepas begitu saja, padahal tempat itu sudah di jaga dengan sangat ketat.
" Pasti ada penghianat di sana??, bagaimana mereka bisa menemukan Jendral dan Hatta di ruang bawah tanah??"
" Sepertinya memang ada penghianat!"
" Kumpulkan semua orang yang tersisa, introgasi dengan jelas, jika tidak ada jawaban jelas bunuh saja mereka semua tanpa tersisa!"
" Baik....baik....!"
Panglima memang tidak bisa di remehkan, dia bisa mengendalikan orang lain dalam keadaan sekarat, pantas saja Panglima tidak mau di ajak bertemu, dia sudah tahu tempat persembunyian Jendral dan mertuanya.
Bi sangat kesal marah dan juga mentalnya cukup terguncang.
" Apa yang harus aku lakukan??"
Bi benar - benar cemas.
...----------------...
Sampailah mereka di bascamp Zero , Jack dan Hatta segera mendapatkan perawatan.
" Jenderal akhirnya kita bersama lagi!"
" terimakasih Panglima...!"
" Kakak, apa yang terjadi??, apa kau terluka lagi??" Ria yang segera keluar menemui Panglima dan Jenderal.
" Kami tidak apa-apa...Jack dan mertuaku terluka di bagian kaki karena tembakan!"
" Ah, apa sudah ditangani??"
" Sudah, bagaimana Jimmie dan Dex??"
" Sudah membaik, Dex sudah bisa berjalan-jalan tanpa tongkat bantu... Jimmie masih harus beristirahat untuk pemulihannya paling tidak satu bulanan lagi!"
" Syukurlah...!"
" Bagaimana dengan bibi paman dan kakak ipar?"
"Mereka aman!, kenapa kau menutupi wajahmu??"
" Ini mengerikan, aku buruk sekarang kakak!"
" Buruk??"
" Ya, aku mendapati bekas luka di wajahku!"
" Jimmie tidak akan berubah, dia akan tetap menyukai, gadis nakal sepertimu!"
" Kakak jangan meledekku!"
"Ria, apa yang kau khawatirkan??, sekarang dunia sudah canggih, jika kau merasa buruk dengan itu kau bisa operasi plastik bukan??"
" Hah???, aku tidak menginginkan wajah palsu kakak!"
" Ehmmm, itu adalah tanda sejarah besar untuk Dokter sepertimu...!"
" Hhhhaaaaaa, tapi kau adalah pemeran utamanya, pemeran pembantu sepertiku mana bisa mendapatkan tempat yang sama dalam sejarah dengan kakak!"
" baik-baik di sini, katakan pada Jimmie untuk menjalankan tugasnya beristirahat dengan baik, sisanya aku akan menanganinya!"
mengusap kepala Ria dengan lembut.
__ADS_1
" Kakak, ayo bebaskan kami dari penderitaan yang panjang!"
" Aku berjanji!"