DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
80 Tidak di Beri muka


__ADS_3

" Leon, apa kau akan ke negara F segera?"


" Belum bu,..masih ada beberapa urusan yang harus Leon tangani dulu!"


" Baiklah, kau istirahatlah ibu akan memasakan makanan untukmu dan Sammy! " segera menuju dapur.


Sammy masih duduk dipangkuan Leon, dengan wajah yang terlihat takut.


" Apa kau senang di sini?" tanya Leon mencoba untuk memberikan kesan ramah pada Sammy.


" Sen senang!" jawab Sammy ragu.


" Kakak, ....kakak...kakak...!" Terdengar teriakan melengking yang tak asing di telinga Leon, siapa lagi kalau bukan Meimei.


" haha, Meimei...apa kau harus teriak sekencang itu?, aku tidak tuli!"


" kakak, kau akhirnya kembali, aku sangat rindu...!" ikut menempel di tubuh Leon.


" Sebenarnya kau ini adik siapa?" Ujar Jendral Petter.


" Aku adik kakak tua dan kakak panglima, iyakan Sammy, atau kita tukaran saja, kau jadi adik kakak tua itu!"


menunjuk ke arah Jendral Petter.


Sammy hanya diam , karna takut jika dia salah menjawab dan membuat kakaknya tidak senang, meskipun Jendral Petter lah yang menemukannya.


" kau jangan mempersulit Sammy, dia sudah menjadi adik Panglima itu sudah sangat baik untuknya!"


" Hai, aku cuma bercanda kakak tua memang tidak asyik!" meimei kesal.


" hmmm, apa yang kalian ributkan sih?, Sammu dan Meimei adalah adik kami berdua, karna aku dan Jendral juga sudah seperti saudara!"


" Nah itu, baru benar! " sambung Jendral Petter.


" Jendral bagaimana kabar Suzy?, apakah sudah ada kemajuan?"


"Suzy baik Panglima, Ya kami sudah masuk dalam proses saling memahami satu sama lain!"


" Bagus sekali, ku harap kau menjaganya dengan baik!"


" Tentu saja Panglima, aku akan melindungi nya!"


tak lama mereka mengobrol, Maya pun sudah selesai memasak.


" Oh, ada Jendral dan Meimei...ayo makan bersama sekalian, tante memasak banyak!" ujar Maya ramah.


sambil menata semua menu yang di masainya ke meja makan satu persatu.


" Sammy kita bantu ibumu yuk!" Ajak Meimei


mereka berdua segera turun dari pangkuan Panglima.


" Tante aku bantu! " ujar Meimei.


" Wah baiknya, kalian bawa Yang mudah-mudah saja ya!"


setelah semua siap mereka pun makan bersama, setelah selesai mereka mengobrol bersama di ruang tamu.


" Permisi,..."


semuanya menoleh ke arah pintu, ternyata Xian-xian yang datang, namun tak ada yang menyambut Xian-xian mereka kembali asing mengobrol dengan topik yang ada.


Xian-xian berjalan masuk, perlahan


" wah, bahas apa kayaknya seru sekali!" ujar Xian-xian ramah.


" Tante girang, siapa yang mempersilahkan kau masuk kemari?" ujar Meimei kesal.

__ADS_1


" aku?, aku tunangan Panglima kenapa tidak boleh?"


" Kalau tante girang tunangan Panglima aku istrinya!" sambil menempel memeluk Panglima.


"pfffffttt...!" Maya menahan tawanya melihat gaya Meimei yang sangat protek.


"aduh adik kecil, kau lucu sekali!" ujar Xian-xian tersenyum


meskipun dalam hati ingin sekali mencubit Meimei sampai menangis.


" Oh ini tante girang ya?" ujar Sammy.


" siapa tante girang, aduh bagaimana bisa kalian memanggilku tante girang?"


" Ya tante sangat jahat, dan genit!" jawab Meimei.


" Ahahahahahahahahahahah" Panglima tertawa.


" pfffffffffft....!" Maya dan Jendral Petter menahan tawanya.


" Panglima apa yang panglima tertawakan?"


" tak ada, sepertinya anak-anak kurang menyukaimu, kau bisa pulang!"


" Panglima aku ke sini untuk menemuimu, selamat Panglima karna telah menyelesaikan tugas dengan baik!"


" Ya trimaksih! "


" Silahkan pulang kak, kan sudah mengucapkan selamat, kami tidak punya jamuan disini! "


" hahahah, Mei kau pandai sekali bicara, pantas saja Anton sangat menyukaimu!" Ujar Maya gemas.


" Tante kenapa malah tidak menasehati dia?, dia sangat tidak sopan terhadap orang yang lebih tua!"


" Xian-xian, mereka hanya anak kecil, sebaiknya jangan kau ambil hati!"


" hmmm, baik tante, Xian-xian tidak ambil hati!"


" Apa aku di usir?"


" Ya, aku tidak suka melihatmu!, sebaiknya kau segera pulang!"


" apa?, Panglima apakah sungguh Xian-xian tidak ada kesempatan untuk menunjukan ketulusan Xian-xian? "


" Tidak,...!"


" Kenapa? "


" aku tidak menyukaimu, dan itu tidak akan pernah! "


" tapi aku sudah mengorbankan semuanya untuk Panglima! "


" apa yang kau korbakan?"


" Semua waktu ku, aku sudah lama menunggu Panglima! "


" Aku tidak pernah meminta itu!"


" tapi aku melakukan semua untukmu Panglima!"


"Sammy dan Meimei ikut kakak ke lapangan utara yuk kita lihat-lihat senjata perang!" ujar Jendral Petter yang ingin memberi ruang untuk Panglima dan Xian-xian.


" ah, ibu mau mencuci piring juga!" Beranjak ke dapur.


kini hanya tinggal mereka berdua di ruang tamu.


" sudah pulanglah!"

__ADS_1


" Panglima, lagian wanitamu juga sudah tidak di sini bukan?, aku akan menggantikannya !"


" kau tahu dia tidak di sini?, apa kau tahu dia dimana?, aku sedang mencarinya!" ujar Panglima berpura-pura.


" oh?, apa? aku juga tidak tahu Panglima, aku hanya melihat dia sudah tidak bersamamu lagi di sini!"


" ah, aku kira kau tahu, kalau kau sampai tahu, aku akan mencurigaimu mulai sekarang! "


"ma ma mana mungkin Xian-xian tahu, ...!" mulai takut dengab sorotan tajam Panglima.


" Ya sudah karna kau tidak memiliki informasi tentangnya, maka kau silahkan pulang!"


" Panglima sudah berapa kali kau mengusirku?"


" sudah berapa kali juga aku memperingatkanmu?"


" aku masih akan berusaha untuk mendapatkan cintamu Panglima, semakin kau menyuruhku pergi, aku akan semakin bersemangat!"


" Tidak tahu malu, semakin kau bersemangat, semakin aku jijik kepadamu!"


Sial dia memang benar-benar tidak bisa digoyahkan


dalam hati Xian-xian.


" Terserah, pokoknya aku tidak akan menyerah!" Beranjak pergi meninggalkan paviliun Panglima.


Panglima mengambil ponselnya dan segera mengomando anak buahnya untuk mengikuti Xian-xian.


Maya yang menguping dari dapur, segera keluar saat tahu Xian-xian pergi.


" Wah dia benar-benar menjijikan sekali!" ujar Maya.


" Hmmmm, pilihan ayah sangat payah!"


" hehebehe, sudahlah jangan membahas orang menyebalkan itu !"


" Ibu minggu depan aku ke negara F!"


" Oh ya?, lalu bagaimana dengan Xian-xian?, dia pasti saat ini akan mencari cara untuk melukai Tania bukan?"


" Ya bu,... tapi Leon ada , dia tidak akan bisa melukai Tania sedikit pun! "


" Baiklah, ibu percaya padamu, ibu ikut ya?"


" Jangan, ibu tetap di sini dengan Sammy, aku akan ke sana sendiri! "


" Ya sudah kalau begitu... Tania pasti juga sangat merindukanmu, selesai kan segera apa yang ingin kau selesaikan setelah itu kau harus berada di sampingnya sampai dia benar-benar sembuh!"


" ibu tenang saja ya!"


***********************


" menyebalkan, bagaimana bisa Panglima tidak melihat ku sedikit pun, wanita itu pun mungkin sudah cacat, kenapa Panglima masih mencarinya, ini tidak adil!"


prang...pryarrrr...


Xian-xian melempari semua barang nya karna kesal dan tidak terima.


" Jika Cacat pun tidak cukup, membuatmu dilupakan Panglima, maka kau harus mati Tania!" Gumam Xian-xian sangat geram.


Aku harus memikirkan cara untuk melenyapkan Tania segera, bagaimana pun Tania kau harus mati.


Xian-xian benar-benar dianggap sepele oleh Panglima, dan dia berpikir itu semua karna Tania karna semenjak kehadiran Tania Panglima menjadi sangat dingin dari sebelumnya.


Bersambung...


Author

__ADS_1


Like dan komen jangan lupa..


terima ksih


__ADS_2