
Panglima segera mengambil alat kecil yang ada di ranselnya segera membuka, ternyata banyak sekali pesan masuk dari Jimmie dan anak buahnya .
" Keadaan baik-baik saja, aku akan segera kembali menyelesaikan semua" Panglima menulis pesan pada Jimmie.
" Haduh hampir kacau..."
" Panglima,..."
" Oh Jenderal Petter...!"
" Apa ada hal mendesak???"
" Kita selesaikan apa yang harus di selesaikan di sini dan kita kembali ke kota, bawa keluarga kita kembali juga Jenderal..."
" apakah sudah yakin aman???"
" Untuk saat ini dalam pantauan tidak ada ancaman besar, ..."
" Syukurlah... sepertinya Jimmie pandai mencari negosiasi yang tepat...!"
" ya, anak itu cukup bisa di andalkan, aku akan menghadiahi pernikahan yang meriah untuk anak itu setelah semuanya selesai!"
" hemmm, bagaimana dengan Yesa apa istriku sudah tahu??"
" Dia baru saja bangun Jenderal, aku tidak tega menyampaikan kabar buruknya!"
" iya benar juga, tapi juga jangan biarkan dia tahu sendiri atau dari orang lain, ...itu akan membuatnya kesal bukan??"
" aku akan tetap menyampaikan hal itu Jendral!"
" Emmm...aku juga ingin memperbaiki toko kue Ayahku dulu , lalu baru membawanya kembali, sayang sekali mertua belum bisa kembali, mereka harus bertahan di negara orang dengan baik...!"
" Untungnya mereka berada di negara yang tidak konflik dengan kita, jadi mudah untuk memantau dan menjaga mereka!"
" Ya ....!"
" Panglima, aku sangat senang akhirnya istrimu siuman, jika tidak negara kita akan kacau meski musuh tidak melawan...!"
" Betapa aku sangat bahagia dan bersyukur Jenderal, setelah semua membaik, aku akan menuruti semua permintaannya, jika dia ingin aku melepas gelar ini aku akan melepasnya...!"
" Pasti istriku akan melakukan hal yang sama padaku jika itu terjadi!"
__ADS_1
" jangan mengikutiku ini semua kan impianmu, kau sudah berusaha dengan baik bukan??, sampai pada titik ini...!"
" Jika dulu kau tidak menemaniku, aku juga tidak akan masuk militer Leon!"
" Tapi memang takdirlah yang menyeret kita dalam hal ini...."
" benar... meskipun kita tidak mundur kita juga akan pensiun panglima, aku berharap generasi di masa depan lebih ganas dari Panglima kami!"
" Hahahah, apa kau berharap anak-anak mengikuti jejak kita??"
" Hahaha...tidak biarkan mereka menentukan pilihan hidup mereka sendiri!"
" hemmm, aku setuju...bukankah kita ini terlalu tua untuk memiliki seorang bayi dan baru satu pula"
" Ya jika diturut dengan angkatan kita mereka sudah memiliki 3 anak..."
" Tapi sudah bagus bukan kita sudah memiliki junior walau terlambat dari yang lain...!"
" Ya bersyukur saja, repot kan kalau kita jadi Doney...oh ya bagaimana dengan keluarga Yesa??"
" hmmmm... meskipun kompensasi tidak sebanding dengan nyawa Yesa, tapi bagaimana pun keadaannya mereka harus menlanjutkan hidup mereka dengan baik, aku sudah mengirim uang santunan, Zero juga mengatakan akan menanggung biaya keponkan Yesa sampai Kuliah...!"
" Yesa juga cukup berarti untuk Zero..."
" Benar juga, kita tidak akan paham dan bisa memberikan solusi...kita hanya bisa memahami strategi dan senjata!"
" Panglima, lapor...."
Seseorang datang melapor.
" Ada apa??"
" Kami sudah memperbaiki semua bangunan yang rusak di Camp ini, untuk Camp lain masih dalam proses karna memang sudah rata dengan tanah...!"
"Pelan-pelan saja untuk camp lain... yang terpenting di sini, 3 hari lagi kami akan kembali ke kota...kau tolong sampaikan pada rekan kalian bisa sedikit bersantai tapi tetap waspada!"
" Baik Panglima saya mengerti...!"
" Kau bisa kembali jika tidak ada hal lain!"
" baik saya pergi!"
__ADS_1
" Jenderal kau bisa membawa pasukanmu kembali, maaf sudah membuat pasukanmu terluka...aku sangat ceroboh!"
"Tidak, ... yang terpenting tidak ada korban jiwa Panglima aku sangat bersyukur, karena juga ada yang menunggu mereka di rumah untuk pulang ..."
" Benar, ... Jenderal kau juga bisa mulai mempersiapkan semuanya untuk kembali ke kota...aku akan kembali pada istriku dulu...!"
" Baik...baik... nikmati waktumu Panglima!"
" Ya....!"
Jenderal segera kembali pada istrinya begitu juga dengan Panglima,
namun saat Panglima kembali ke ruangan istrinya, ternyata Zero dan Nisa ada di sana.
" oh di mana Ria??"
" sedang bersama Grey, Panglima!" jawab Nisa menunduk.
" Kalian mau ikut kembali ke kota atau, menetap di sini??" tanya Panglima.
Zero dan Nisa saling menatap,
" Istriku, apa kau ingin ke kota???"
" Aku terserah padamu kak...!"
" Kita menetap saja di sini untuk sementara waktu ya..." Ujar Zero.
" Baik!!"
" wah benar kalian kan pengantin baru harus memiliki waktu intens lebih banyak hihihi" Ujar Tantan menggoda.
" Menetap boleh, ikut ke kota juga boleh...!" sahut Panglima.
" Suamiku di mana Yesa??" tanya Tantan seketika itu.
Leon melihat ke arah Zero, Zero menunduk Tidak berani ikut menjawab.
" Ehmmm, kita akan bertemu dengannya di kota ,kau fokus pada pemulihanmu dan juga dengan Manggala...!"
" Baik Panglima...!"
__ADS_1
" ehmmm..." Entah itu yang terbaik atau tidak untuk Tantan nanti, tapi untuk saat ini Leon tidak tega membuat istrinya bersedih, melihat Zero yang masih sangat sedih, begitu juga pasti dengan istrinya pasti juga akan sangat sedih dalam waktu yang cukup lama.