DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
220. Siuman


__ADS_3

Panglima sudah bangun dari koma,


semua media sedang membicarakan tentang Panglima, masyarakat pun menjadi tenang dengan berita tentang Panglima yang sudah sadarkan diri.


Sementara, Bi mulai ketar-ketir mendengar berita tersebut.


" Bagaimana bisa , bukankah Panglima masih terbaring?? kenapa tiba-tiba siuman??"


" Maafkan atas kelalaian saya pak....!"


" Kita harus segera menemui Panglima, kita harus segera bernegosiasi dengannya!"


" Tapi, sementara ini Panglima tidak ingin menemui siapapun,dengan alasan untuk pemulihan dirinya!"


" Aku tidak mau tahu, sebelum dia berbicara di pers...kita harus sudah memenuhi kesepakatan dengannya, kita masih punya satu kartu!"


" Baik, saya akan mencobanya!"


" Kau tahu konsekuensinya, jika kau gagal....!"


" Ba,baik...!"


Kenapa dia tidak mati saja??,


kenapa harus bangun.??? ini akan sedikit merepotkan.


dalam hati Bi.


Sebenarnya yang selalu terlihat tampil di media itu adalah Doney, dia menyamar menjadi Panglima dengan mengenakan topi dan masker, dan duduk di kursi roda, dan Yesa harus menyamar menjadi istri panglima yang tiba-tiba muncul dari persembunyiannya, Panglima hanya tampil sekali saat keluar dari rumah sakit.


Panglima tidak bisa untuk selalu di kejar-kejar


dia punya pekerjaan lain yang harus di selesaikan, Doney yang menyamar bersama Yesa pun harus menempati kediaman Utara Panglima, sementara Panglima masih di tempat persembunyian bersama sang istri menanti keluarganya kembali.


Dan akhirnya kedua orang tua Panglima sampai.


" Tantan anakuu!" Maya yang sudah sangat merindukan menantunya itu berteriak - teriak di depan pintu.


" Hei kau akan mengaggetkannya!" ujar Huan Zang.


" Aku sangat rindu padanya, di mana anak dan menantuku??" tanya Maya pada penjaga.


" Ada di ruang tengah nyonya!"


Maya segera berlari menuju ruang tengah namun dia terhenti dan terkejut saat ada seekor singa besar mengahdangnya.


" Uaaaaaaaa. sayang ada singa!"


segera berlari dan bersembunyi di belakang Huan.


" Hei ...duduk!" perintah pawang yang slalu memegang tali singa itu, singa itu pun patuh dan duduk.


" Maafkan atas kelalaian saya nyonya, tuan!"


" Ya...ya... sebaiknya kau ajak dia menjauh dari sana!"


" tak apa nyonya, silahkan berjalan !"


" Ayo cepat, jalan!" Huan menggandeng istrinya berjalan masuk melewati singa itu, singa itu tetap tenang memperhatikan keduanya masuk ke dalam.


" Hufffft...astaga menantuku setiap hari nyawanya pasti terancam oleh kucing besar itu!" Gumam Maya.


" Jangan bandingkan nyalimu dengannya sayang!"


" Yayayyaay...Tantan tantan di mana kamu??" Maya berteriak memanggil menantunya.


mendengar suara ibu mertuanya Tantan segera keluar dari kamar.


" Jangan lari!" teriak panglima mengingatkan istrinya


Tantan segera berhenti dan berjalan pelan,


" Ibu....!"

__ADS_1


" Tantannnnnnnnnnnn....!"


akhirnya Teletubbies berpelukan.


" Menantuku, oh tidak perutmu sudah mulai besar....wahahahah sayang lihat cucu kita tumbuh dengan baik!" Maya meraba perut menantunya dan menciumi perut menantunya itu.


" Tantan, terimakasih karena sudah baik-baik saja!" Ujar Huan Zang bahagia melihat menantu dan calon cucunya baik-baik saja.


" Ayah, Ibu Tantan sangat bahagia akhirnya kita bisa bersama lagi...!"


" Ya kau benar... ini sangat membahagiakan!"


" Di mana Panglima??" Tanya Maya


" Panglima ada di kamar, baru mengganti perban dengan dokter Dimas...!"


" Oh. Putraku!" Maya segera masuk ke dalam kamar.


" Panglima anakku!" Maya sangat khawatir pada putranya itu.


" Ibu...!" Panglima tersenyum senang melihat ibunya baik-baik.


" Anak nakal, bagaimana bisa seperti ini?, itu pasti sangat menyakitkan nak!"


" Tidak ibu, ini hanya luka ringan...!"


" Untunglah kau masih hidup, jika tidak bagaimana bisa kau membiarkan menantu dan cucukku menjadi seorang janda dan anak Yatim!"


" Hei Huan bicara apa kau? anakku tidak selemah dirimu!" Maya tidak terima.


" Hehhhhh sudahlah yang terpenting dia tidak mati!"


" Hiiiiih, kau ayah yang buruk bagaimana bisa kau bicara begitu!"


keributan kecil seperti biasa yang lama tidak terjadi pun akhirnya terjadi lagi.


" Hihihih...Ini sangat mengharukan kita sangat lama tidak seperti ini !" ujar Tantan sangat gembira.


" Ibu, Ayah istirahatlah di kamar paling ujung, pasti kalian lelah biar dokter Dimas mengobati luka kalian...!" Ujar Panglima.


" Yayaya...aku sangat lelah...Putraku, keponakanmu bagaimana keadaannya??"


" kita tunggu kabar dari Zero...!"


" Ibu Ayah selamat beristirahat nanti akan ada yang memanggil kalian untuk makan malam...!"


" Iya sayang, kau juga harus banyak istirahat...!"


" Tentu saja...!"


mereka pun segera istirahat...


...----------------...


" Panglima, Josh sudah bangun...!"


" Baik, aku akan ke sana...!"


menutup panggilan...


" Sayang apa Josh sudah siuman??"


" Ya, kau tetap di sini bersama ayah ibu aku harus ke sana...!"


" Hati-hati!"


Panglima pun bergegas pergi menuju tempat persembunyian Josh .


" Panglima Dia ada di lantai atas...!"


Panglima segera menaiki tangga dan menuju kamar Josh.


" Selamat pagi bapak...!" Panglima menyapa dengan sopan .

__ADS_1


Josh mengangguk menunduk malu , Josh tidak berani untuk memandang Panglima.


" Panglima, ini sudah berakhir...!" ujar Josh meneteskan air mata.


" Untuk hal apa Pak??"


" Maafkan aku...!"


Panglima terdiam, untuk memberikan ruang pada Josh , Panglima tahu Josh sangat bingung untuk memulai dari mana dia akan bercerita.


" Sebenarnya aku tidak pernah menginginkan jabatan ini, karena aku bukanlah orang yang bijaksana!"


Panglima duduk ,dan mendengarkan dengan baik keluh kesah Josh.


" Panglima, aku tahu kau adalah anak muda yang jujur, dan memiliki jiwa besar dalam menegakkan keadilan...!,tidak seperti ku, Panglima apa yang harus saya lakukan sekarang??, apakah bisa saya menyelamatkan bangsa dan negara ini??"


" Tergantung pada niat bapak!"


" Panglima, saya akan mempertaruhkan nyawa saya, untuk menyelamatkan negara ini, apa itu cukup??"


" Bapak, sekarang katakan pada saya... siapakah orang yang ada dibelakang kalian??"


" Panglima, sebelum saya katakan bolehkah saya meminta satu hal??"


" Katakan pak!"


" istri dan anakku ada di tangannya, jika aku berkhianat mereka akan di jadikan budak **** seumur hidupnya!"


Panglima terdiam,


" baiklah sesuai dugaan, apa bapak tahu di mana mereka berada??"


" Aku tidak tahu, Bi tidak mau memberitahu ku!"


" Hemmm itu sulit pak!"


" Tapi mereka masih di sini Panglima, Bi hanya mengatakan istri dan anakku di bawa ke dekat lereng gunung...!"


" Baiklah setidaknya ada sedikit clue, saya akan mencari anak istri anda, sekarang tolong katakan siapa orang dibelakang anda??"


" Namanya adalah Lux's...Dia mafia yang memiliki cabang yang cukup besar, kita tidak akan bisa menumpas habis, Lux's bahkan masih kelas kecil dibelakang itu masih ada beberapa pembesar, mereka penjajah negera berkembang...apa yang harus kita lakukan Panglima??"


" Bapak saya sangat turut prihatin atas musibah yang menimpa anda, karena itu perbuatan orang terdekat anda !"


" Ehmmm padahal dia adalah teman yang paling aku percaya!"


" Anda salah memilih teman pak...!"


" Panglima, apakah anda juga bisa menyelamatkan Keluarga Bi??, keluarga Tom dan rekannya sudah di tangan anda kan?"


" Benar..., untuk keluarga Bi saya sudah lepas tangan karena mereka berada di luar jangkauan saya!"


" Tolonglah Panglima, mereka tidak bersalah!"


" Pak, jangan memaksa di luar batas saya, itu akan memperumit keadaan, karena yang menempatkan keluarganya dalam kesengsaraan adalah Bi sendiri...!"


" Baiklah Panglima, hanya sangat menyayangkan anak-anak Bi adalah anak-anak yang baik dan luar biasa...!"


" Bapak, saya akan mencari keluarga anda, namun itu butuh waktu, ... sementara bapak berdiam diri lebih dulu di sini, dan bapak bisa muncul saat waktunya sudah tepat, satu lagi pak...!"


" Apa panglima??"


" Di mana ayah mertua saya dan Jendral di sembunyikan??"


" Mereka ada di ruang bawah tanah di rumah kepresidenan!"


" Apa??, bagaimana bisa saya menerobos ke sana??"


" Bisa,...!"


Panglima mengerutkan keningnya,


Dan Josh membisikan sesuatu pada Panglima, Panglima pun cukup terkejut dengan bisikan Josh.

__ADS_1


__ADS_2