DIA,SANG PANGLIMA PERANG

DIA,SANG PANGLIMA PERANG
236. Dendam membara


__ADS_3

Zero sangat merasa bersalah, karena meminta gadis itu pergi sendiri mencari minum.


" Brengsek!, hei tua bangka, menyingkirlah!" teriak Zero.


namun sepertinya tua bangka itu tidak mengerti dengan ucapan Zero, dia menikmati hingga puas.


Zero mencoba tenang, sebentar lagi anak buahnya pasti datang dan bisa menemukannya, memang sudah terlambat menyelamatkan Nisa dari hantaman nafsu biadab namun setidaknya Nisa masih hidup.


Pria itu sudah selesai dengan nafsunya dia segera mengenakan boxer dan duduk di kursi sambil menyalakan rokoknya sedangkan Nisa tergulai tak sadarkan diri dengan tubuh polos dan tangan kaki yang masih terikat.


Pria itu diam sambil menghabiskan batang rokoknya, dan menatap tajam pada zero yang tak bisa bergerak karena terikat, mata itu melihat Zero tanpa berkedip namun tidak ada sepatah kata yang terucap dari bibirnya.


terdengar suara langkah kaki, ada 5 orang pria asing datang lalu menyapa pria tua itu, dengan bahasa asing ,Zero sedikit mengerti, apa yang di perbincangkan.


Mata Zero membesar , hatinya memanas... karena pria tua itu menyerahkan Nisa untuk digilir sebagai hadiah.


" Anjiiiiing, bangsat, biadab, kalian manusia Laknat, aku akan memenggal kepala kalian semua!!!" teriak Zero begitu hebat.


namun teriakan Zero itu tak di anggap mereka, mereka malah menertawakan Zero dengan remeh, dan segera membawa Nisa yang sudah tergulai lemas tak sadarkan diri itu entah kemana.


tubuh Zero mendadak lemas, dia tidak bisa berbuat apapun, dia hanya bisa mengutuk dirinya sendiri yang membuat Nisa menjadi korban di sini, bagaimana nanti dia berhadapan dengan Panglima, dia telah gagal, menjaga gadis kecil itu.


tangan kaki Zero diikat dan di rantai dengan rantai yang cukup kuat, dia sudah berusah menarik sekuat tenaganya tapi rantai itu cukup kuat.


tittttt tiiiit tiiiit..


suara cincin yang dikenakan Zero berbunyi,


Zero segera menekan bola pada cincin itu,


dia sedikit lega akhirnya anak buahnya menemukannya, untuk saat akan mencari Nisa Zero sudah mengubah rencananya dan meminta semua anak buahnya yang terpencar segera menghentikannya dan segera menyusulnya karena Zero sudah menemukan tempatnya.


meskipun sudah ada titik terang, namun rasa sesal dan bersalahnya terhadap gadis di bawah umur itu bersarang kuat di hatinya.


mengingat wajah nisa yang memohon untuk ditolongnya membuat hatinya semakin sesak.


Ya itulah yang di khawatirkan oleh Jimmie karena Zero masih menggunakan hatinya saat menjalankan misinya, itu membuat cara kerjanya menjadi tidak sempurna


Zero segera menggeleng kepalanya, untuk saat ini dia akan membuang kelemahannya.


Zero sekeliling, sambil menunggu pergerakan dari anak buahnya.


terdengar suara yang begitu gaduh di luar, termasuk suara gonggongan Anjingg ya terlihat sahut menyahut dengan brutal, akhirnya anak buahnya tiba, tapi entah apa yang terjadi di luar Zero tidak bisa melihatnya.

__ADS_1


Hanya suara tembakan ledakan, jeritan dan sesuatu yang tumbang.


dan seketika hening dalam hitungan menit.


suara langkah kaki buru-buru memasuki gubuk di mana dia berada.


" Bos..."


mendengar suara anak buahnya Zero langsung bernafas lega.


" Apa yang terjadi??"


" Maaf kami terlambat..m" segera menembak rantai besi yang mengikat kaki dan tangan Zero.


" Apa kalian menemukan Nisa??"


" Ya, dan 5 wanita lainnya!"


" apa kau menghabisi mereka??"


" sebagian masih di tangkap, untuk mengorek informasi!, ada yang berhasil kabur!"


" Bawa Nisa dan yang lainnya kembali ke basecamp... pastikan identitas ke lima wanita itu, laporkan pada Panglima, katakan aku gagal mengemban misi kali ini, setelah kembali aku siap mendapatkan hukuman!"


" Bos..."


" Lalu??"


" Aku akan mengorek informasi pada yang tersisa dan membuat perhitungan dengan tua biadab itu, pasti dia berhasil kabur!"


" Baik!"


setelah Zero benar - benar terlepas, dia segera keluar dari gubuk, matanya mencari keberadaan gadis malang itu, Nisa berada di gendongan anak buahnya dengan tubuh terkulai lemas seperti tak bertulang, mata Zero kembali berkaca-kaca melihat gadis itu, Zero melepas pakaiannya dan memakai kan pakaian itu pada tubuh Nisa yang mungil sehingga tubuhnya tertutup seperti memakai daster kedodoran karena baju Zero yang besar.


" Hati-hati jangan sampai membuatnya terluka lagi!" ujarnya anak buah itu mengangguk dan di belakang ada wanita dengan penampilan kusut tak terurus Zero meyakini pasti, diantara mereka ada keluarga Josh, 5 wanita itu dengan wajah tertekan mata sayu mengikuti langkah anak buahnya.


" Bagaimana dengan mereka bos??"


Zero memandang remeh kepada pria yang tadi menertawakannya.


Zero duduk di sebuah batu besar, anak buahnya memberikan sebatang rokok dan memetikan api untuk Zero, anak buahnya sangat mengerti kebiasaan Bosnya itu, Zero harus memenangkan diri dengan sebatang atau dua batang rokok ,bahkan lebih baru bisa berpikir.


Zero menghirup dalam-dalam rokoknya, membiarkan asap hangat itu menjelajahi rongga dalam tubuhnya kemudian menghempasnya perlahan.

__ADS_1


Zero melakukannya sampai habis 5 batang rokok... setelah dirinya tenang dia menghampiri beberapa pria yang sudah babak belur itu yang tadi meremehkannya,Zero menyecak rokoknya yang masih menyala pada ******** pria itu yang telanjang hingga pria itu menjerit kesakitan memohon ampun .


Zero akan menyiksa mereka yang menyentuh Nisa, sampai mereka memohon untuk mati.


" Dia, Dia, Dia, dan Dia,Dia!, hujami *********** dengan rokok lalu siram air panas, lakukan terus sampai mereka meminta kematiannya!" tegas Zero.


" Apa tidak kita korek informasi dari mereka bos??"


" Itu, yang itu...dia adalah yang paling tahu tentang pria tua biadab itu!" menunjuk pria berdarah campuran tadi yang di pukul oleh Zero.


" Yang ini??" anak buah zero menunjuk


" Ya, siksa dan korek informasi tentang Pria tua biadab itu!"


Zero menatap langit yang masih cerah itu, nemun kenapa rasanya sangat mendung di mata Zero.


Terdengar jerit pekik pria - pria asing itu meminta ampun, namun Anak buah Zero menyiksanya tanpa ampun, siksaan itu tidak Kan berakhir dengan cepat, sampai mereka memohon untuk kematiannya yang lebih baik.


matahari mulai terbenam, teriakan menyakitkan itu masih mengudara di dalam hutan, pria - pria asing itu menangis mengerang .


" Kebiri, lalu bunuh dengan memenggal kepalanya!" merasa puas dengan siksaan yang diberikan, Zero memerintahkan untuk membunuh Kelima orang asing itu.


" Bos, saya sudah mendapatkan informasi dari pria itu...!"


" Apa??"


Anak buah Zero memberitahu semua informasi yang di dapat, Zero mengangguk mengerti.


" Kalau begitu bunuh berikan pada hewan buas!"


" Baik!"


" Oh bagaimana orang yang kau minta untuk mengecek di bagian Utara??"


" Di sana saya menemukan, beberapa orang kota, yang sudah tidak bernyawa, sepertinya di sana tempat untuk eksekusi bos...membawa semua jasad untuk diidentifikasi dan semua sisanya sudah di tangkap dan bawa pada Panglima!"


Zero mengangguk...


" Aku akan pergi mencari tahu tempat mereka, urusan yang lain aku tidak bisa membantu, kau kembalillah bersama yang lain!"


" Saya ikut bos!"


" Bantu Panglima saja kau, cepat kembalillah!"

__ADS_1


Mau tak mau anak buah Zero menurut, Zero sangat ingin menemukan keberadaan tua bangka keparat itu sesegera mungkin.


Bersambung....


__ADS_2