
Satu bulan kemudian....
Hari ini, hari yang ditunggu Kania, dan adiknya Dara. Keluarga Kania dari Semarang datang berkunjung ke rumah Yudha, karena sejak Kania sakit sampai sekarang Kania, dan adiknya Dara tinggal di rumah Yudha, karena permintaan Yudha sendiri untuk memantau perkembangan kesehatan Kania calon istrinya.
Tepat pagi ini di Semarang pakde, budenya tengah bersiap-siap untuk berangkat ke Bandara Ahmad Yani Semarang. Mereka menggunakan jasa transportasi pesawat terbang sesuai apa yang dipesan orang suruhannya Nak Yudha calon suami
keponakannya.
Drttt... drttt drttt...
Handphone budenya Kania bergetar diatas meja ruang tamu, melihat layar handphonenya senyum budenya langsung merekah, karena yang menelepon keponakannya Kania.
"Assalamu'alaikum bude." Sapa Kania dengan wajah lebih bersinar, setelah mendengar suara budenya yang berada di Semarang.
"Walaikumsalam wes sehat, Nduk?" tanyanya budenya yang memperlihatkan senyum hangatnya.
"Alhamdulillah sampun bude." Jawab Kania dengan warna rona merah di pipinya.
"Bude berangkat jam pinten?" tanyanya Kania tetap dengan senyum bahagianya.
__ADS_1
"Jam 13.00 katanya, Nduk!" Jawab budenya.
"Pakde dan bude nembe siap-siap, Nduk! sebentar lagi mobil jemputan akan datang." Ujar budenya yang mulai membenahi kerudung yang dipakainya.
"Hati-hati bude, salam kalih pakde! sampai jumpa di Jakarta bude." Ujar Kania menutup sambungan teleponnya.
Di kantor Pradipta Group...
Yudha tengah fokus menghadiri rapat bulanan di kantornya, yang dipimpin oleh Yudha sendiri untuk evaluasi kinerja para karyawannya dari hari ke hari.
Banyak karyawan yang mencuri-curi pandangan kepada bosnya. terutama kaum hawa karena karyawan pada tahu bahwa Yudha seorang duda beranak satu, pemilik Pradipta Group.
Ehh hemm....
Deheman Yudha membuat para karyawan melihatnya, "Mau lanjut rapat apa bergosip?" tanyanya Yudha menatapnya satu persatu dengan tatapan matanya yang membunuh, perfeksionis.
"R..a..pat Pak." Jawab karyawan dengan gugup menundukkan kepalanya melihat ke bawah.
Satu jam rapat membahas kinerja para pegawai, dan pendapatan yang meningkat dalam beberapa bulan ini. Yudha menghadiahi bonus untuk pegawai yang berprestasi.
__ADS_1
Sorak gembira para pegawainya membuat Yudha tersenyum tipis, catat ya tipis sekali. rapat hari ini saya tutup, mohon kerjasamanya. tingkatkan prestasinya bonus menanti kalian semua.
"Selamat bekerja." Ujar Yudha meninggalkan ruang rapat, dan bergegas ke ruang CEO untuk menyegarkan pikirannya karena rapat yang menguras pikiran.
Yudha masuk kamar mandi untuk mencuci mukanya, dengan melihat penampilannya di cermin, sesekali tersenyum melihat wajahnya yang lumayan tampan, pantas saja para pegawainya tadi sedang membicarakannya khusus untuk kaum hawa.
Yudha tampan kan, pastinya ganteng juga, apalagi brewoknya. aduhhh bikin autthor juga mau wkwkwk....
Selesai dari kamar mandi Yudha duduk bersandar di kursi kebesarannya, untuk menatap langit-langit ruang CEO.
"Sayang, tak terasa kamu sudah 4 tahun meninggalkan kami berdua, tak terasa waktu berjalan begitu cepat, sekarang anak kita sudah masuk sekolah walaupun masih TK B.
Saya bahagia dan sangat menyayanginya, terima kasih untuk kenangan terindah darimu sayang, terima kasih telah memberikan saya satu malaikat, senyumnya yang persis sepertimu sayang.
Yudha terdiam sejenak memejamkan matanya untuk menikmati hembusan angin yang bertiup melewati dirinya, seperti merasakan kehadiran mendiang istrinya Nena.
"Aku mencintaimu Mas! jaga anak kita baik-baik! jika Mas mau menikah lagi, dan memberikan Kenzi ibu sambung, Aku merestuimu Mas." bisiknya mendiang istrinya dengan senyum merekahnya.
__ADS_1
30 menit berlalu Yudha membuka matanya, seolah-olah melihatnya tersenyum bahagia dan melambaikan tangannya, pergi dari hadapannya diiringi seperti warna awan putih dibelakangnya.