Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bab 86


__ADS_3

"Pak Yudha." tepukan Kania menyadarkan dari mata terpejamnya, Yudha langsung membuka matanya melirik ke sampingnya ada Kania yang ingin menepuknya kembali.


"Ada apa Kania ?" Tanyanya Yudha memejamkan matanya kembali dan membukanya untuk menyesuaikan cahayanya.


"Bapak ngantuk?" tanyanya Kania balik menatap wajah Yudha secara intens.


"Nggak Kania, perasaan tadi ada hembusan angin lewat seolah-olah itu mendiang istriku Nena." Tubuhnya Yudha sudah dicondongkan kearah Kania, Kania sudah memejamkan matanya , ternyata Yudha sekedar untuk menjawil hidungnya Kania.


"Kenapa memejamkan matanya, Kania?" Tanyanya Yudha yang sudah usil ingin menjahili Kania dengan menjentikkan jarinya di keningnya Kania.


Kania langsung membuka matanya, persis di depan matanya ada wajah pak Yudha yang sangat dekat dengannya. bila bergeser sedikit saja sudah pasti Kania mencium wajahnya Pak Yudha.


"Bodoh!" bisa-bisanya Kania berfikiran jorok di hadapan Pak Yudha dan keluarganya.


Ehemmmmmm...


Suara deheman menyadarkan dua manusia yang saling pandang, menjadi grogi dan gelagapan seperti ketahuan selingkuh.


"Kalau mau bermesraan jangan disini! Kasihan anak kecil yang melihatnya." Ujar Anna keponakan Kania.


Blusssshhhh...


Rona merah di pipi Kania tercetak jelas di wajahnya yang putih mulus. Kania menutup wajahnya dengan kedua tangannya untuk menutupi wajah merona nya.


"Kakak, kok pipinya merah?" Tanya keponakannya dengan polos.


Perkataan keponakannya mengundang gelak tawa yang berada di ruang tamu. Hahhhha kamu lucu, Dik kalau sedang jatuh cinta merah-merah gitu." Kelakar keponakannya Kania yang sedang ingin menggodanya.


"Bodo!!" Kania meninggalkan ruang tamu, untuk berjalan ke dapur yang ingin mendingankan pikirannya.


Di ruang keluarga Yudha dan pakde mengobrol panjang kali lebar, membicarakan tentang pekerjaan dan kehidupan pribadi Yudha di masa lalu yang pernah menikah.


Yudha menceritakan perjalanan sampai menikah muda, dan akhirnya di pisahkan dengan alam yang berbeda, di pertemukan dengan Kania di saat Yudha sedang butuh pengasuh untuk anaknya Kenzi.


Flashback On


Om, kedatangan Yudha ke tempat Om karena Yudha punya maksud tertentu ingin menjalin silaturahmi, ingin serius dengan keponakan Om, Kania." Ucap Yudha dengan lantang, tegas, tanpa ada rasa gugup.

__ADS_1


"Kata Kania, "Nak Yudha seorang duda beranak satu!" benarkah?" tanyanya Om Hendra yang ingin tahu kebenarannya daripada menerka-nerka.


"Iya betul Om!" Istri saya meninggal karena sakit yang sudah sangat lama di deritanya, sebelum awal kami memutuskan untuk menikah.


Semenjak melahirkan anak kita Kenzi, kesehatan istri saya menurun sudah bolak-balik di rawat di rumah sakit.


Tepat usia anak kita Kenzi yang ke-7 bulan, istri saya menghembuskan nafas terakhirnya di rumah di pelukan saya sendiri, karena istri saya ingin meninggal di samping suami dan anaknya.


Sebelum meninggal, kesehatan istri saya menurun sudah satu minggu belakangan, sudah berkali-kali saya membujuknya, tetapi istri saya tidak mau.


Yudha menceritakan mendiang istrinya sedikit berkaca-kaca, mengenang istrinya yang selalu semangat dalam pengobatannya supaya sembuh dari penyakitnya.


Tetapi Allah lebih sayang sama istriku, sehingga Nena ku di ambil lebih dulu sama Allah, mungkin ini yang terbaik daripada saya melihat dengan mata kepala saya sendiri menahan sakit. "Jujur saya tidak tega Om!"


Yudha mencoba menghalau air matanya, supaya tidak jatuh di pipinya, tetap saja air matanya mengalir ke pipinya, dada ini rasanya sesak mengingat perjuanganmu sayang untuk sembuh.


Om Hendra juga ikut meneteskan air matanya, ikut merasakan betapa cintanya Yudha kepada mendiang istrinya.


"Berbahagialah, Nak! Kamu berhak bahagia." guman Om Hendra di hatinya.


Dengan berjalannya waktu, benih suka itu muncul secara tiba-tiba, mungkin kebawa perasaan Kenzi, saya intens mendekati Kania, dan meminta menjadi istriku, ibu sambung untuk putraku Kenzi.


Saya selaku walinya Kania merestui, Nak Yudha. bila ingin lebih dekat dengan keponakan Om, yang terpenting Kania bahagia, sudah cukup buat Om." Ujar Om Hendra dengan senyum hangatnya, memberikan Yudha Restu untuk membahagiakan keponakannya.


"Terima kasih, Om!" Ucap Yudha dengan berbinar bahagia mendapat restu dari Om, tantenya Kania.


"Sama-sama, Nak Yudha." Ujar Om Hendra menepuk punggungnya Yudha untuk memberikan semangat.


"Jaga Kania dengan baik, Om percaya sama kamu!" Ujar Om Hendra meninggalkan Yudha yang menghapus jejak air matanya.


Flashback Off.


Mengalirlah cerita Yudha, dari awal kenal, dan sampailah sekarang ini saya berkunjung ke Semarang untuk bersilaturahmi dengan keluarga Om dan Tante.


Mereka berdua sedang nonton bola di televisi dengan menjagokan tim-nya masing-masing.


"Gollll!" Suara Om Hendra berteriak sangat keras, nyaring di telinganya Yudha, membuat yang ada di sebelahnya menggeser duduknya.

__ADS_1


"Daddy suala apa tadi?" Ken Atut daddy! Kenzi berusaha untuk naik di atas angkuan daddy-nya, dan menyembunyikan kepalanya di dada bidang daddy-nya.


"Nggak apa-apa sayang." Itu tadi suara Kakek yang sedang asyik melihat bola di televisi. jagoannya Kakek berhasil memasukkan bola ke gawang, makanya Kakek berteriak senang.


"Sayang, mandi yuk udah sore!" Suara Kania mampu memecahkan keheningan di ruang keluarga.


"Kenzi langsung merentangkan kedua tangannya, ingin di gendong bundanya." Ujar Kania mengangkat badannya Kenzi dari pangkuan daddy-nya.


"Jagoan bunda sekarang sudah besar, tambah tinggi seperti daddy-nya." Ujar Kania mengecup pipinya Kenzi yang tambah montok.


Setelah memandikan Kenzi, Kania menyiapkan pakaian untuk Pak Yudha sebagai baju gantinya setelah mandi.


"Jagoan bunda udah ganteng." Ujar Kania mencium wangi minyak telon, dan bedak bayi yang dipakai oleh anaknya.


Unda geyiii......


Gelak tawa mereka berdua mengundang perhatian dari Yudha, yang memandangnya dengan tatapan penuh cinta.


Yudha berjalan ke arah Kania yang akan menuju teras depan rumah, kalau sore hari komplek perumahan disini sangat ramai dengan anak kecil.


Kania mencoba memperkenalkan lingkungan yang baru untuk Kenzi, karena Kenzi tidak pernah keluar rumah kecuali sedang pergi.


Kania mengajari Kenzi untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru juga, karena ajaran baru nanti Kenzi sudah siap masuk ke bangku sekolah usianya cukup untuk mengenal sekolah, dan beradaptasi dengan teman maupun lingkungan sekolah yang baru.


"Jagoan udah mandi, baunya wangi, ganteng seperti daddy-nya." Ujar Yudha mengecup kening Kenzi lama, dan mengusap pipinya dengan lembut.


"Yeahhh Enzi anteng, unda." Serunya Kenzi dengan wajah yang bahagia, karena di bilang ganteng oleh daddy-nya.


"Iya sayang, gantengan anaknya daripada daddy-nya." Ujar Kania melirik Yudha yang tersenyum sedikit mencurigakan dengan tatapan penuh minat.


Lihat Kania! disana ada apa? Kania menoleh ke sampingnya melihat kerumunan orang yang membeli gorengan.


Cup........cup....Yudha mencuri kecupan di pipinya Kania Kanan dan kiri.


Kasih saran dong, mau di bikin part sedikit tapi sering update? apa part yang panjang, update sehari sekali.


Like dan koment nya ditunggu

__ADS_1


__ADS_2