
Yudha tersenyum tipis bisa menikmati di usianya yang tidak muda lagi, bisa melihat tumbuh kembang putra-putrinya dengan kondisi masih sehat bugar seperti sekarang ini merupakan kebahagiaannya.
Beliau juga masih aktif di kantor, semakin tua Yudha semakin menjadi, seperti kata pepatah padi semakin tua, semakin menunduk. Penampilannya semakin mempesona dengan kemeja di lipat di siku, dan celana kerja seperti model celana Chinos menambahkan kadar ketampanan Yudha Pradipta bapak dari lima orang anak yang lucu-lucu, sekarang sudah mau beranjak remaja saja waktu seperti cepat berlalu.
Kania juga tidak kalah bahagianya, usianya yang tidak muda lagi membuat siapa saja yang melihatnya pasti ikut terpesona.
Penampilan seperti ABG, siapa saja yang tahu mereka seperti kakak beradik dengan ke lima Anak-anaknya. Padahal Kania sudah memiliki lima anak, tetapi kecantikannya tidak kalah dengan ABG pada masanya.
💚💚💚
Adzan subuh berkumandang di masjid sekitar rumahnya, Kania langsung terbangun dari tidurnya. Sebenarnya masih ngantuk, tetapi demi putra-putrinya yang akan berangkat ke sekolah, akhirnya Kania melawan rasa kantuknya.
"Mas, sudah adzan bangun atuh !" Tutur Kania menepuk-nepuk pelan pipi sang suami. Tangannya terus saja mengelus lembut pipinya, dan membelainya membuat Yudha betah tidak membuka kedua matanya.
"Cup....." Yudha mengambil punggung tangan sang isteri, lalu mengecupnya tetapi kedua matanya masih terpejam sempurna.
__ADS_1
"Mas iiihhh bangun..."
"Iya, mas sudah bangun." Tetapi Yudha belum mau membuka matanya, masih menikmati suara merdu rengekan sang isteri.
Mendengar rengekan sang isteri membuatnya ingin menertawakan istrinya, tetapi Yudha urungkan demi mendapatkan jatah menggarap sawah.
Yudha tidak ingin jatah menggarap sawahnya berkurang, menurutnya jatah itu kebutuhannya yang susah bila tidak dimainkan pasti akan pusing.
.💚💚💚
Setelah membuat sarapan untuk suami, dan Anak-anaknya. Mereka bertujuh sedang sarapan di meja makan, biasanya duo kembar yang tidak bisa diam, tetapi pagi ini berbeda. Duo kembar nampak anteng memakan sarapannya, keduanya makan sangat lahap, meskipun tidak menyukai makan sayuran.
"Ma,, kakak dan adik berangkat sekolah dulu ya, Mama jangan suka kangen..." Tutur sang kakak pamit kepada mamanya. Mereka berlima bergantian mengecup punggung tangan mamanya, dan sekalian pamit untuk berangkat ke sekolah.
"Ita sayang, sekolah yang rajin, nggak boleh bandel harus nurut sama guru !" Sahutnya Kania menasehati Anak-anak, dan tangannya membelai rambut putra-putrinya.
__ADS_1
"Ciap-ciap Mama..." ucap duo kembar yang semakin melengking diantara kakak-kakaknya.
"Pintarnya..."
Kini giliran suaminya yang berpamitan dengan istrinya, Yudha hanya mengecup kening sang isteri, dan Kania membalas dengan mengecup punggung tangan Suaminya.
"Take cara sayang..." teriaknya Kania. Anak-anak sudah anteng duduk di dalam mobil, mereka sangat penurut meskipun sedikit ada kenakalan pada anak seusianya.
Setelah mengantar suami, dan Anak-anaknya ke depan rumahnya. Kania memilih masuk ke dalam kamarnya kembali, Kanaya merapikan tempat tidurnya yang berantakan karena semalam mereka berdua baru saja menggarap sawah.
Lalu beralih ke kamar Anak-anaknya, setelah rapi baru Kania kembali ke kamar utama, kamarnya dengan sang .
Badannya sedikit remuk, suaminya tidak pernah puas meskipun berulang-ukang suaminya menggarap sawahnya dengan berbagai gaya permainan barunya. Sebenarnya Kania sudah lelah, kedua matanya sudah mengantuk, ingin rasanya nyerah, tetapi menolak keinginan suami adalah dosa.
Mereka berdua terbang ke awang-awang menikmati manis madu cerita cinta yang di tulis dalam balutan kata pernikahan melebur menjadi satu kesatuan dalam ikatan cinta yang hakiki, dan
__ADS_1
Mampir sequel Duda Keren Yang Tampan. Tekan tombol favorit untuk menyukai cerita Auttor yang lainnya ya 😁