
Satu minggu kemudian...
Setelah ziarah dari makam mendiang Nena, Kenzi semakin akrab dengan bundanya, yang mempunyai panggilan spesial "unda Nia", dan tidak mau lepas darinya apa-apa harus bunda, daddy-nya seperti tidak di butuhkan lagi.
Yudha semakin terancam dengan kehadiran Kania, membuat Kenzi tidak lengket dengan daddy-nya.
Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, dan membuangnya secara berlahan. mengingat drama pagi tadi semakin Yudha ingin cepat-cepat menghalalkan Kania untuk di geret ke KUA.
Yudha membayangkan Kania, membuatnya senyum-senyum sendiri mengingat senyumnya, bibirnya yang tipis tetapi seksi, apalagi buah dadanya begitu menggoda, membuat pikiran Yudha melalang buana kemana-mana.
Bbraakk
Suara pintu terbuka dengan kasar, menyadarkan lamunan Yudha yang tiba-tiba jadi salah tingkah.
"Woi, nggak sopan! masuk ruangan tidak ketok-ketok pintu dulu!" Seru Yudha yang kesal acara melamunnya di gangguin biang kerok.
"Dari tadi! saya sudah ketok-ketok berulang kali, tetapi kamu masih saja asyik dengan duniamu! melamunin apa? kok sampai senyum-senyum sendiri? jorok ya" Ujar Paman Tom.
"Enak saja kalau ngomong, belum di tipuk sama Kenzi ya." Kelakar Yudha yang dulu Paman Tom di kerjain Kenzi habis-habisan.
Hari ini, Kenzi ikut Kania ke kantor karena Kenzi tidak mau di tinggal bundanya untuk bekerja, kalau pun bundanya tetap pergi kerja Kenzi harus ikut bunda. mendengar rengekan Kenzi akhirnya Kania tidak tega, membiarkan Kenzi menangis di rumah sama pengasuhnya.
Kania mengajak Kenzi ke kantor dengan menggunakan taksi online, Yang biasanya Kania berangkat menggunakan jasa ojek atau angkutan umum untuk menghemat pengeluarannya. Karena demi kenyamanan Kenzi, Kania rela merogoh kocek yang lebih mahal.
__ADS_1
"Unda tulun, Enzi au tulun!" Ujar Kenzi merengek minta turun dari gendongan bundanya.
"Iya, bunda turunin tetapi tidak boleh lari-lari!" Ujar Kania menasehati Kenzi yang ingin berjalan sendiri.
Akhirnya Kania mengalah menurunkan Kenzi, dan sekarang mereka bergandengan tangan memasuki lobby utama.
Semua karyawan yang melihat Kenzi dan Kania dengan tatapan yang memuja, bisik-bisik karyawan mengatakan "Mirip, Ibunya cantik, anaknya tampan beruntung suaminya memiliki istri yang cantik, anaknya juga tampan pasti seperti ayahnya.
Kania yang mendengar cuma geleng-geleng kepala melihat karyawan yang suka ghibah, Kania tersenyum melihat Kenzi nya bisa tertawa lepas.
"Unda ada ante menol." Kata Kenzi dengan jari telunjuknya yang mengarahkan tangannya kepada Tante-tante yang berjalan berseliweran.
Husttt....
"Aaff unda." Ujar Kenzi dengan kepala yang menunduk, takutnya bundanya akan memarahinya.
"Unda malah?" Ujar Kenzi menatap manik mata bundanya.
"Nggak sayang!" Kata Kania mensejajarkan tingginya dengan Kenzi.
Cup Cup Cup....
Belum sempat Kenzi membuka suaranya, Kania sudah menciuminya pipi kanan kiri, dan terakhir keningnya.
__ADS_1
"Enzi cayang anget ama unda!" Kata Kenzi yang langsung memeluk bundanya.
Cup Cup Cup ......
Kenzi membalas mencium Kania bertubi-tubi, disertai tawa cekikikan dari bundanya yang merasa geli sendiri di ciumi pria kecil di depannya.
Di kantor
Yudha berjalan mondar-mandir untuk berfikir sebelum mengambil keputusan untuk masa depannya, dan untuk Kenzi juga.
"Tidak ada salahnya mencoba" gumam Yudha.
Menundukkan pantatnya di kursi kebesarannya, Yudha telah memikirkan semua nya dengan matang-matang, Lalu mengambil handphone-nya untuk menghubungi Kania.
Tut...Tut...Tut...
Panggilan tidak terjawab, sudah tiga kali Yudha menelepon Kania tetapi semuanya nihil. Tidak ada panggilan yang di angkatnya, "Apa mungkin handphonemu rusak? kalau rusak kok bisa ya. saya telepon. Kata Yudha pada dinding di ruangannya.
"Kemana kamu, Kania?" guman Yudha sedikit ada rasa cemas, karena sudah panggilan ke-4 masih sama saja tidak di angkat.
"Saya mengkhawatirkanmu!" guman Yudha mengengam handphonenya untuk di peluk di dadanya.
"Kania," gumam Yudha memandang ke luar jendela .
__ADS_1
..."Sebenernya autthor tidak Up karena ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan, maaf ya kalau autthor Up sedikit....