
Hari ini mereka bertiga akan pulang ke Indonesia bersama, sebenarnya Intan enggan satu pesawat dengan Tommy, tetapi rengekan Aira yang membuat Intan tidak bisa menolak permintaan putrinya.
Flashback
Hari kemarin Intan sudah memesan tiket pesawat, meskipun hanya lewat online tetapi Intan sudah mempersiapkan jauh-jauh hari kepulangannya ke Indonesia.
Malam harinya Intan sudah packing, sudah di masukkan ke dalam koper barang-barang yang akan di bawa pulang. Sebenarnya pakaian Intan sedikit, tetapi pakaian Aira yang banyak sampai dua koper besar khusus untuk Aira-nya.
Ting Tong....Ting Tong....
"Siapa malam-malam bertamu, tidak tahu tempat saja!" guman Intan sedikit jengkel, karena keasyikan packing di ganggu dengan suara bel rumahnya.
"Ma, kayaknya ada tamu." Ujar Aira yang sibuk dengan bermain Barbie.
"Mama lihat dulu ya, Aira tetap di sini jangan kemana-mana!" Sahutnya Intan memberikan titah kepada Aira-nya.
"Ciap Mama." Aira memberi hormat seperti tentara.
"Gadis-nya Mama pintar." Ucap Intan mengacak-acak rambutnya Aira.
"Iiiih Mama belantakin rambutnya Aira, ental Aila ndak cantik." Ujar Aira yang sedikit kesal rambutnya yang sedikit berantakan.
Intan berjalan keluar kamar, meninggalkan Aira yang sedang sedikit kesal. Sebenarnya Intan tidak tega, tetapi Intan ingin membuat Aira-nya yang sedikit kesal. Rasanya Intan bahagia bisa melihat mukanya Aira yang kesal, karena Aira itu termasuk anak yang anteng, dan jarang menangis. Karena dari itu Intan ingin menjahili Aira, bukan karena tidak sayang atau cinta dengan anaknya, tetapi melihat mukanya Aira yang kesal membuatnya semakin menggemaskan.
πππ
Ceklek...
Intan melolongkan kepalanya keluar, ingin melihat siapa yang memencet bel rumahnya, Intan celingak-celinguk mencari keberadaan tamunya, tetapi tidak ada siapa-siapa yang diluar hanya keheningan yang tercipta.
Intan ingin menutup pintu rumahnya, tetapi ada kaki yang menahannya. Intan mengurungkan niatnya dan Mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa yang menghalangi pintunya.
"Dia lagi, dia lagi..." batinnya Intan.
"Ada apa? kamu nggak tahu jam ya? malam-malam bertamu di rumah orang, apa nggak merasa menganggu yang punya rumah?" tanya Intan seperti rel kereta api, tidak ada titik, tidak ada koma.
"Hai Sayang, Lagi apa?" Tutur Tom yang menaik turunkan alisnya dan wajahnya tersenyum tanpa rasa bersalah.
"Sayang, sayang kepala peyang kali." Intan mengumpat sangat pelan, tetapi Tom bisa mendengarnya sangat jelas.
"Kamu kangen sama Aku ya, jangan suka mengumpat enter kamu tambah cantik, Akunya tambah cinta." Ujar Tom yang tidak bisa mengalihkan dari pandangannya ke Intan.
__ADS_1
"Hai, Aku ini tamu kok nggak di suruh masuk! biar tetangga pada tahu ya bahwa Aku calon suami Mamanya Aira. Tukasnya Tom yang percaya diri.
"Menyebalkan!" Intan menghentak-hentakkan kakinya meninggalkan Tom yang bersandar di daun pintu rumahnya.
πππ
"Hai Sayang..." Sapa Tom ke Aira.
"Om hanteng-nya Aira.."Seru Aira menghamburkan ke pelukan Tom.
"Kok itu banyak koper, emang Aira mau kemana?" tanyanya Tom penuh selidik, dan melirik Intan yang sedang melanjutkan packingnya.
"Ecok, Aila ama Mama au Puyang ke tempat Opa Oma di Indonesia, Om."Tutur Aira dengan binar bahagia di wajahnya.
"Om boleh ikut nggak?" tanyanya Tom kembali.
"Boyeh dong om! emang Om lumahnya ana? kok puyangnya ikut Aila dan Mama?" tanya Aira yang sedikit kebingungan.
"Rumahnya Om di Indonesia deket sama rumahnya Opa Oma-nya Aira lho."
"Yeeeehh belalti Ita Ica ketemu agi dong, Om?"
"Iya sayang."
πππ
"Tan, besok pesawatnya jam berapa?"
"Emang kenapa?"
"Besok Aku mau ikut pulang ke Indonesia, kita bareng saja kebetulan pekerjaanku udah selesai."
"Nggak usah khawatir, Aku bisa pulang sendiri dengan Aira!"
"Tetapi Aku nggak bisa membiarkan kalian pulang berdua saja, dan Aku tidak akan membiarkan kamu pulang sendiri atau nggak usah pulang sama sekali."
"Kenapa kamu mengatur hidupku?"
"Karena ada Aira di antara kita, Aku tidak akan membiarkan Aira kesusahan di dalam pesawat, karena ini penerbangan pertamanya Aira."
"Apa karena Aira, kamu ngotot ingin pulang bareng dengan kita?"
__ADS_1
"Bukan!"
"Lha apa?"
"Karena Aku mencintaimu, mencintai Mamanya Aira."
Setelah ucapan jujur dari Tom, Intan terdiam menimbang-nimbang untuk pulang berdua atau bertiga, kalau pulang berdua takutnya di dalam pesawat Aira-nya rewel, kalau pulang bertiga takutnya Tom semakin berharap lebih, takutnya Aira tergantung dengan Tom.
Setelah di pikirkan, akhirnya Intan menyetujui pulang bersama dengan catatan tidak satu tempat duduk. Intan merasa tidak nyaman harus duduk dengan pria yang beberapa hari ini di temuinya.
Flashback Off
Mereka bertiga sudah sampai Bandara, Aira sudah bobok di dalam dekapan Tom. Intan menggeret kopernya mengikuti langkah Tom, yang sedikit kesusahan karena barang bawaannya banyak terutama buat Aira-nya.
Rumahnya yang di sing sudah Intan titipkan kepada biik Salma, yang sudah Intan anggap keluarga sendiri seperti ibu untuk Intan, dan Nenek untuk Aira.
Jangan melamun, entar bisa ketinggalan pesawat. Tangannya Tom terulur untuk mengengam tangannya Intan, dan mereka berjalan bertiga dengan Aira ada di gendongan Tom, sedangkan tangan Intan selalu Tom genggam.
Ada rasa yang tidak biasa yang mereka berdua rasakan, hatinya Intan menghangat mendapatkan perlakuan manis dari Tommy. Aira juga sangat nyenyak dalam gendongannya Tom.
πππ
Tom bahagia, Intan tidak menolak genggaman tangannya. Rasa bahagia menyeruak di relung hatinya, seseorang yang di carinya akhirnya bisa Tom genggam tangannya, gadis kecilnya yang sering hadir di mimpinya sekarang bisa Tom dekap dalam gendongannya.
Tom berjalan dengan sesekali tersenyum tipis, banyak pasang mata yang menatapnya kagum, terpesona, hot Daddy banget. Banyak bisik-bisik orang-orang berlalu lalang di bandara, yang mengatakan suami idaman banget, istrinya pasti beruntung mempunyai suami yang begitu sayang istri dan anak.
Tetapi Tom hanya mengabaikan saja, hanya membalasnya dengan senyuman.
"Ganjen amat itu orang, baru juga di perhatikan begitu sudah tebar pesona, sok ganteng banget jadi orang." gerutu Intan. Sayangnya Tom mendengar semua gerutuan calon istrinya.
"Mau di cium di sini ya, biar orang-orang pada tahu bahwa kamu istriku!" Bisiknya Tom yang nafasnya menerpa langsung wajahnya Intan, membuat Intan wajahnya memerah.
"Sukanya mengambil kesempatan dalam kesempitan." Intan membatin.
πΌKebahagiaan itu kita yang menciptakan, bukan orang lain, tetapi melainkan kita sendiriπΌ
**Jangan lupa kasih tanda cintanya untuk autthor dengan cara yang sangat mudah, bagikan biar tambah semangat.
LIKE
KOMENTAR
__ADS_1
RATE-NYA
VOTE**