
Kania terus saja menempel dengan tubuh suaminya, kepalanya semakin menenggelamkan wajahnya di ketiak suaminya. Kania tidak mau lepas dari pelukan suaminya yang bagi Kania sangat menenangkan.
Kania menghirup oksigen dalam-dalam sebelum mendusel-dusel di ketiak suaminya, yang menurutnya sangat wangi, harum seperti bunga mawar tubuh suaminya, padahal Yudha sangat geli sendiri melihat istrinya seperti bukan Kania yang di kenalnya.
Yudha terkekeh sendiri, karena istrinya tidak bisa diam selalu bergerak-gerak membuatnya sedikit menegang yang di bawahnya. Berulang-ulang Yudha berusaha menyingkirkan tangan Kania yang terus saja bergerilya di dada bidang suaminya.
"Mas belum mandi, sayang!" Yudha berusaha untuk sedikit menghindari tangan istrinya, yang masih saja melukis senja di dadanya........
"Nggak apa-apa! Kania suka wanginya."
"Mas mandi dulu ya! baru Mas peluk lagi setelah Mas mandi."
"Nggak boyeh!" persis seperti Kalila.
Ingin rasanya Yudha menertawakan tingkah istrinya, yang sangat manja banget bayi besarnya. Membuat Yudha ingin menertawakan istri manja-nya, yang sikapnya seperti Anaknya.
***
"Mas bau sayang." Tutur Yudha sembari mencium ketiaknya, yang baunya semerbak bunga di tanam seperti bau matahari.
"Nggak bau! Mas wangi." Sahut Kania dengan nada sedikit kesal, karena mainannya di ganggu suaminya.
Yudha dibuat tercengang jawaban istrinya, lagi-lagi Yudha hanya bisa menghela nafasnya, dan membuangnya pelan-pelan, memejamkan matanya untuk menghalau pikirannya yang berkelana kemana-mana.
"Sayang kenapa?" tanyanya Yudha sedikit khawatir melihat istrinya yang sikapnya berbeda.
__ADS_1
"Mas, sepertinya nggak sayang lagi dengan Kania." Tutur Kania dengan nada ketus-nya, dan siap mencebikkan bibirnya.
"Cup Cup....Mas Sayang, cinta dengan istri Mas yang cantik ini, tetapi lebih cantik Kalila anak kita." Seloroh Yudha yang tanpa dosa, tanpa menyaring dulu perkataannya yang menyebabkan istrinya kecewa.
"Huaaaa huhuhu...." tangisnya memekik gendang telinganya Yudha, persis seperti Kalila Anaknya.
Untung kamarnya kedap suara, kalau tidak pasti ketiga Anaknya sudah heboh menyusulnya ke kamar utama.
Yudha membelai lembut rambutnya Kania, mulai mengusap-usap pelan-pelan. Membuat sang tuan Putri mendengkur halus, bagi Yudha seperti nyanyian merdu di setiap hembusan nafas istrinya.
Setelah menidurkan istrinya, Yudha memijat pelipisnya yang dibuat pusing kelakuan Kania seperti Anak-anaknya. Memastikan istrinya sudah tertidur pulas, Yudha beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sebelum bertemu dengan ketiga Anaknya.
***
Di ruang bermain suasananya sangat riuh, ketiga Anaknya sangat rukun, dan mau mengalah demi Kalila Adik tersayangnya. Itu yang selalu membuat Yudha sangat lega, Kalila di kelilingi Kakak-kakaknya yang sangat menyayangi-nya.
"Daddy temana aja? kok ulangnya ama anget."
"Daddy sudah pulang dari tadi! cuma Daddy lagi di kamar Bunda."
Setelah mendengar jawaban Daddy-nya, Kalila menghampiri kedua kakaknya untuk bermain kembali. Yudha menghampiri ketiga Anaknya mengecup puncak kepalanya satu-satu, Membuat ketiga Anaknya terkikik geli dengan perlakuan Daddy-nya.
***
Yudha Membuka pintu kamarnya sangat pelan, takut istrinya terbangun dan membuat Yudha sedikit repot dengan tingkah manja istrinya.
__ADS_1
Setelah membuka pintu kamarnya, Yudha terbelalak kaget melihat Kania yang menangis tersedu-sedu, tanpa mengeluarkan suara.
"Hiks....Mas jahat ninggalin Kania sendiri."
"Mas nggak ninggalin cuma lihat Anak-anak di bawah sedang apa."
Mendengar kata Anak-anak membuat Kania, tersadar dari tangisan-nya, dan mulai mengusap jejak air matanya.
Kania mulai turun dari ranjang, mau keluar kamar untuk menemui ketiga Anaknya, tetapi tangannya langsung di cekal suaminya.
"Mas apa-apain sich! pake acara pegang-pegang."
"Kamu mau kemana?"
"Ketempat Anak-anak."
"Anak-anak sedang bermain bertiga."
*
Kania sangat bersyukur ketiganya sangat rukun, dan akur. membuatnya sedikit lega, kalau mereka baik-baik saja.
Yudha menarik tangan istrinya, sehingga Kania terduduk di pangkuan suaminya, mata keduanya saling memandang, tatapannya penuh damba. tercetak jelas kabut gairah keduanya, yang begitu sangat menginginkan sentuhan demi sentuhan.
***Maaf ya autthor jarang Up
__ADS_1
Berhubung banyak pasien, membuat autthor tidak konsisten untuk menulis.
Terimakasih yang sudah menunggu cerita ini, like, koment, dan votenya yah selalu autthor tunggu ya***.