
Kebahagiaan Yudha sangat lengkap di karunia-Nya tiga orang Anak, dari pernikahannya dengan mendiang mommynya Kenzi, karunia-Nya Kenzi Pradipta yang sekarang berusia sembilan tahun. Pernikahannya dengan Kania, di karunia-Nya sepasang Anak kembar laki-laki, dan perempuan yang berusia tiga tahun.
Satu minggu ke depan Yudha memutuskan untuk mengambil cuti satu minggu, bertepatan liburan sekolah Anak-anaknya. Yudha berencana akan memboyong keluarganya untuk berlibur ke pulau Dewata Bali.
Hari ini, hari terakhirnya Yudha berada di kantor yang sebelumnya sudah Yudha serahkan pekerjaan kepada orang kepercayaan-nya kepada Tom. Yudha ingin menikmati liburan bareng keluarga tanpa ada gangguan masalah pekerjaan, Yudha ingin quality time dengan Istri, dan Anaknya yang mumpung masih musim liburan.
Sore harinya Yudha pulang kantor sangat cepat, ingin memberikan kejutan kecil untuk istri tercinta yang sudah memberikan malaikat kecil pelengkap hidupnya. Mau menemaninya suka duka di perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga, yang tidak selamanya lurus seperti jalan tol.
***
Di kediamannya Kania sangat di repotkan tingkah polah-nya ketiga Anaknya, yang sedang berebut Bundanya. Si bungsu Kalila sudah menangis saja, karena kalah cepat berlari menghampiri bundanya. Sedangkan kedua Kakaknya terlebih dulu bisa memeluk Bundanya.
"Hiks.... Unda.... huaaaa. .."
Suara tangisan Kalila memekik gendang telinga yang berada di rumahnya, bik Siti saja sampai keluar dari dapur untuk melihat Non Ila yang sedang menangis.
"Cup Cup.... Sayang..." Kania mengecup kedua matanya Kalila, dan menggendongnya mendudukkan-nya di pangkuan.
"Hiks... akak akal Unda! Ninggalin Ila sendili! kan Ila asih kecil ndak Ica lali." Tutur Kalila yang masih sesenggukan, yang mengadu kepada Bundanya.
"Iya-iya Kalila masih kecil! Cup diam ya sudah di pangku sama Bunda juga." Ucap Kania menenangkan Anaknya yang sedikit sangat manja, mungkin Anak perempuan sendiri, yang kakaknya keduanya laki-laki semua.
Kenzi dan kama melihat Adiknya yang memulai dramanya, mulai mendengus kesal. lagi-lagi keduanya harus mengalah, membiarkan Kalila di pangku Bundanya, sedangkan keduanya duduk di lantai bawah beralasan karpet Rasfur.
Keduanya sedang main menyusun Lego, nampak kakak Adik sangat rukun. Kania melihatnya tersenyum tipis mengusap lembut rambut keduanya bergantian. Keduanya sangat pengertian, ri rewel seperti si bungsu Kalila. Walaupun Kama terlahir kembar, tidak serta-merta sifat manja seperti Kalila Adiknya.
"Kenapa Bunda?" tanya Kenzi.
"Tenapa Unda?" tanya Kama.
__ADS_1
"Enggak apa-apa sayang, Bunda sangat menyayangi kalian berdua! lanjut saja mainnya sembari nunggu Daddy pulang ya."
"Iiihhhhiappp Unda!"
***
Tin tin.....tin....
Klakson mobil memekik telinganya Kania, ingin rasanya Kania mencium suaminya yang bikin telinganya berdenging.
"Yeeeaaahhhh Daddy ulang." Seru Kama yang menghampiri Daddy-nya, dan Kama mulai menarik-narik celana Daddy-nya untuk minta di gendong seperti Adiknya Kalila.
"Sebentar sayang! Daddy mandi dulu ya." Cup Yudha memberikan kecupan di pipinya Kama. Yudha berlalu, dan masuk ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya, dan berganti pakaian santai.
Selesai mandi, Yudha menghampiri Istri, dan ketiga Anaknya. Yudha mengecup kening satu-satu bergantian, dan Kania mengecup punggung tangan suaminya.
"Kenapa Kalila minta di pangku bunda? nggak ikut main sama kakak."
Yudha yang mendengar aduan Anak bungsunya tersenyum kecil, Kalila yang menggemaskan sekarang sudah pintar mengadu ke Daddy-nya.
"Mau minum apa, Daddy? Bunda ambilkan."
"Nggak usah sayang!"
Yudha mengambil alih, memilih bermain dengan kedua jagoannya. Keduanya bermain sampai lupa waktu yang mengakibatkan ketiga Anaknya tertidur pulas di kasur Rasfur. Yudha mulai memindahkan satu-satu Anaknya, untuk bobok di dalam kamarnya.
Setelah menidurkan ketiga Anaknya, di kamarnya masing-masing. Yudha dan Kania memasuki kamar utama, Kania sudah naik ke atas ranjang lebih dulu, dan di susul Yudha yang baru saja dari kamar mandi. Keduanya sudah saling berpelukan seharian tidak bertemu.
"Mas punya kejutan sayang!"
__ADS_1
"Apa Mas?"
"Lusa kita berlibur ke Bali bersama Anak-anak!"
"Serius Mas." Tutur Kania yang kedua matanya sudah berbinar penuh bahagia.
"Iya sayang! kan awal kita menikah Mas belum pernah mengajak bulan madu, Mas ingin ini jadi Mas di ulang tahun pernikahan kita, Anggap saja ini bulan madu walaupun tertunda, setidaknya Mas ingin menikmati waktu berdua denganmu sayang."
"Mas ingin buat Yudha Junior lagi." bisiknya Yudha.
"Auuuhhhh...." Sakit sayang.. Kania mencubit perut suaminya yang kelewatan mesum, baru saja anak-anak usia tiga tahun, udah pengen menghamili istrinya kembali.
Tidak ada yang tahu siapa yang memulai, keduanya sudah berkabut penuh gairah ingin saling di puaskan. Yudha terus mengeksplorasi leher jenjang istrinya, meninggalkan jejak cinta di sekitar lehernya. Kemudian turun ke bawah ke kedua bukit kembarnya, yang nampak masih segar walaupun sudah melahirkan sepasang bayi kembar.
Yudha tidak bosan-bosan mengeksplorasi bukit kembar istrinya yang nampak ranum, membuat Yudha gemas sendiri. Tangan Yudha memilin-milin ujungnya, dan mengecupnya seperti bayi yang sedang menyusu pada ibunya.
Setelah puas bermain di bukit kembarnya, tangannya Yudha turun ke bawah untuk membuka resleting celana istrinya, dan meloloskan. Nampak begitu menggiurkan putih bersih tanpa ada cacat sama sekali.
Kania berusaha menutupi dengan tangannya, tetapi cepat kilat Yudha Yudha menahan tangan istrinya. "Jangan ditutup-tutupi sayang! ini indah Mas suka banget." Kania bernafas lega ternyata suaminya sangat menyukai aset miliknya, yang Kania rawat untuk suami tercinta, Daddy dari Anak-anaknya.
Suaminya mulai memainkan inti istrinya yang sudah sangat lembab, dan basah akibat ****** ***** istrinya yang menetes hingga ke paha mulusnya. Yudha semakin intens memainkan inti istrinya, memaju mundurkan tangannya yang membuatnya semangat melihat tatapan istrinya yang penuh kabut cinta.
"Aakhhh..." Kania melenguh sangat indah, suaranya sangat merdu di telinganya suaminya.
Setelah memberikan jeda istirahat, Yudha memandangi tubuh istrinya yang nafasnya mulai naik turun yang sedang menikmati aliran cintanya sampai ke sum-sum tulang-nya. Rasanya susah d di jabarkan dengan kata-kata, bisanya cuma di rasakan, dan dinikmati.
Puas memandangi Istrinya, Yudha berlahan mulai membuka lembah hijau yang sempit, dan memainkan jarinya, di rasa sudah keluar cairan-nya. Yudha mulai memasukkan pusakanya sangat pelan-pelan, karena sedikit kesusahan walaupun sering sekali Yudha masukin.
Tidak kurang dari satu jam keduanya mencapai surga dunia yang nikmatnya tiada Tara. Berulang-ulang Yudha mengulangi permainannya, hingga beronde-ronde membuat sang empunya tertidur karena kelelahan.
__ADS_1
Keduanya tidur bersama tanpa memakai sehelai benangpun, hanya ditutupi selimut tebal. Berkali-kali Yudha menciumi wajah istrinya, hingga akhirnya Yudha ikut tertidur memeluk istrinya.