
Keduanya saling mendamba, sorotan mata keduanya memberikan Singal positif, tatapan mata yang meneduhkan hati membuat sang istri tidak mau lepas dari dekapan hangat suaminya.
"Kok semakin manja sih seperti Kalila saja, Yank."
"Bialin kan Bunda sepelti Kalila besal." Tuturnya menirukan ucapan Kalila yang cadel, semakin membuat Yudha gemas.
"Kok makin gemesin sih! bikin Mas tambah cinta! Mas cium dulu dong, Yank." Sahut Yudha yang sudah memajukan wajahnya, tepat di depan istrinya.
"Nggak ah malu di lihatin readers." Kania memasang emoticon tersenyum manis.
***
"Brakkk brakkk......"
Dorongan pintu dari luar begitu kencang, ketiganya nyengir melihat aksi Daddy, dan Bundanya yang saling berhadapan, sedangkan Bundanya duduk di pangkuan Daddy-nya.
"Daddy, Bunda....." Teriakan Kama Kalila sangat memekik telinganya Kenzi, Yudha, dan Kania tidak menoleh ke sumber suara.
Mereka masih saja menikmati momen kebersamaan, hanya ada mereka berdua yang lainnya ngontrak. Tidak mendapatkan respon dari orang tuanya, Kalila berniat untuk menghampirinya, tetapi langkahnya di halangin kakaknya Kenzi, dan tangannya di cekal kakaknya Kama.
"Ishhh kakak...."
"Tutup mata, Dik." Tutur Kenzi menutup kedua mata Kama , dan Kalila menggunakan tangannya.
"Ishhh tatak Ila ndak hiyat Daddy, dan Unda." Tangan Kalila yang mencoba melepas tangan kakaknya Kenzi.
"Bentar Dik ada tikus lewat di kamar Daddy, dan Bunda."
Kalila langsung terdiam mendengar suara kakaknya, yang sedang membicarakan tentang tikus, karena Kalila sangat takut dengan tikus, kecoa menurutnya sangat seram.
Sedangkan Kama sangat menurut dengan kakaknya, tanpa ada satu kata yang terucap, Kama masih saja memejamkan matanya. Mendengar pembicaraan Adiknya Kalila, dan kakaknya Kenzi.
Sang kakak Kenzi mengajak kedua Adiknya untuk keluar kamar Daddy, dan Bundanya. Kenzi tidak mau menganggu kedua orang tuanya yang sedang duduk berduaan.
"Tatak tenapa talik-talik tangannya Ila sich! tangan Ila tatit tau!" Tuturnya memanyunkan bibirnya condong ke depan.
"Mana? coba kakak lihat dulu?"
Kalila mengulurkan kedua tangannya ke tangan kakaknya Kenzi, Kenzi yang melihat tangan Adiknya sedikit memerah mencoba meniup-niup-nya tangan Adiknya, membuat Kalila terkikik geli.
***
Yudha, dan Kania tiba-tiba tersadar dari lamunan-nya, pintu kamarnya terbuka lebar, Kania celingak-celinguk melihat sudut ruangan yang tidak ada siapapun, hanya suara keheningan di kamarnya.
__ADS_1
Yudha yang melihat istrinya nampak seperti orang bingung, menjadi sangat khawatir, karena istrinya di panggil tidak menjawab sapaannya.
"Sayang, kenapa seperti sedang mencari sesuatu?" tanyanya Yudha yang berulang kali...
"Nggak pa-pa." Jawabnya tanpa dosa.
Kania menepuk jidatnya, karena baru ingat ketiga Anaknya yang belum di temuinya, semenjak dirinya merasa pusing, mual, dan muntah yang keluar hanya air saja.
"Anak-anak gimana, Mas? udah makan, udah mandi belum ya, dan bla blala....." Kania terlihat mengkhawatirkan ketiga Anaknya terutama Kalila yang sangat begitu manja, tetapi selalu bikin kangen.
"Anak-anak sedang main di bawah, Yank."
"Jangan khawatir ketiganya baik-baik saja."
"Syukurlah."
Yudha berniat untuk mengecup bibir istrinya yang sedang manyun, tetapi Yudha urungkan. Sebelum sampai depan wajah istrinya, Kania langsung memuntahkan cairan bening.
"Huekkkk.... huekkkk...."
Kania memuntahkan cairan bening di kemeja suaminya, sembari menutup mulutnya dengan tangannya, dan berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Hush....hush....." Kania masih muntah, berusaha mengusir suaminya lewat tangannya, supaya menjauh darinya.
"Bau Yank! perutnya nggak enak."
Kania sudah terduduk lemas di bawah wastafel, dan memejamkan kedua matanya. Semakin membuat Yudha khawatir, karena tidak biasanya istrinya sampai tidak sadar setelah memuntahkan cairan bening dari mulutnya.
Yudha menepuk-nepuk pipi istrinya, tetapi tidak ada respon sama sekali. Akhirnya Yudha membopong tubuh istrinya, dan menuruni tangga sedikit tergesa-gesa karena khawatir istrinya tidak mau membuka mata.
"Daddy, Unda tenapa?"
Yudha tidak menghiraukan pertanyaan Anaknya, Yudha memasuki ke dalam mobilnya untuk membawa Kania ke rumah sakit. Mang Udin yang duduk sebagai pengemudi di buat khawatir, karena majikannya yang tiba-tiba tidak sadarkan dirinya.
Sus.....Sus....! tolong istri saya." Teriaknya Yudha yang baru saja keluar dari mobilnya.
Yudha tidak memperdulikan tatapan sekelilingnya, yang terpenting istrinya mendapatkan pertolongan. Yudha sedikit berlari sembari membopong tubuh istrinya, yang semakin berisi, nampak pipinya yang chuby.
"Sus......! tolong istri saya."
Kedua perawat keluar dari IGD, dengan mendorong satu brankar. Setelah meletakkan istrinya diatas brankar, membuat Yudha sangat lega semoga istrinya baik-baik saja.
__ADS_1
"Maaf, Bapak silahkan tunggu di luar! Dokter sedang memeriksanya. Tutur satu perawat yang perempuan.
Perawat langsung menutup pintu IGD, supaya Dokter lebih leluasa dalam memeriksa kondisi pasiennya, tanpa gangguan keluarganya.
Tanpa jawaban, Yudha terduduk lemas di kursi tunggu, kedua mulutnya komat-kamit sembari membaca doa semoga istrinya selalu dalam lindungan-Nya.
Yudha berdiri berjalan mondar-mandir, bolak-balik ke kanan ke kiri, berulang-ulang melihat pintu tempat Kania yang sedang di periksa, suasana hatinya tidak tenang menunggu pintu IGD terbuka.
"Ceklek....."
Pintu ruangan IGD di buka salah satu perawat, dan menampilkan wajahnya yang tidak bersahabat. Membuat hatinya ketar-ketir mendengar jawaban sang perawat, tentang kondisi istrinya.
"Bapak suaminya! yang ibu di dalam?"
"Iya sus."
"Silahkan ikuti saya! Dokter ingin berbicara dengan suaminya ibu yang di dalam."
Yudha mengikuti langkah kaki perawat untuk memasuki ruangan dokter yang memeriksa istrinya. Hatinya jadi melow seperti seorang perempuan yang selembut kapas.
"Silahkan duduk, Pak."
Setelah suami pasien duduk dengan tenang, sang dokter mencoba menjelaskan penyakit pasiennya, yang hanya masuk angin biasa. yang membuat asam lambungnya naik, dan pemeriksaan lanjutan, jadi istri Anda harus di opname untuk beberapa hari.
"Gimana pak?"
"Saya ngikut aja yang terbaik untuk istri saya, Dok."
Dokter yang memeriksa tersenyum tipis, sangat tipis sekali siapapun yang melihatnya pasti tidak akan tahu kalau sang dokter sedang tersenyum.
Yudha keluar dari ruangan dokter, dan mengikuti perawat untuk melakukan pendaftaran rawat inap untuk Kania, setelah selesai administrasi Yudha kembali ke IGD tempat istrinya sedang istirahat setelah di lakukan tindakan pemasangan infus.
***
Di rumahnya tangis kedua Anak kembarnya memekik telinganya Kenzi, terutama Kalila yang suaranya cempreng. Kenzi sangat kualahan untuk menenangkan Kalila, yang terus saja menangis mencari Daddy, dan Bundanya.
"Daddy, Unda! Ila lindu cepat Puyang."
Sedangkan Kama juga menangis, tetapi tidak se-histeris Kalila. Kama menangis meninggalkan suara sesenggukan saja, tidak se-heboh saudara kembarnya.
***
Di kamar istrinya di rawat, Yudha menghubungi orang rumah mengabarkan kepada Anak-anaknya bahwa malam ini tidak pulang, karena menemani Bundanya yang sedang tidak enak badan, dan harus menginap di rumah sakit.
__ADS_1
Hai readers ternyata Kania tidak hamil ya, cuma asam lambungnya naik. Apabila asam lambung naik bisa menyebabkan mual, muntah. Jadi jangan telat makan ya readers.
Salam sehat dari autthor.