
Satu bulan persiapan pernikahan Yudha, dan Kania telah selesai, tinggal satu minggu lagi acara akan diselenggarakan di hotel Pradipta milik keluarga Pradipta.
Di rumah Yudha sudah terjadi keramaian, karena keluarga Kania sudah berdatangan datang ke Jakarta.
Mereka sudah berkumpul di ruang keluarga, seperti sekarang ini mereka tengah mengobrol tentang konsep pernikahannya Yudha, dan Kania.
"Entar kalau bunda dan daddy menikah Enzi mau ikut siapa?" tanyanya aunty Dara.
"Itut unda dan addy dong." Seru Kenzi menampilkan giginya yang putih.
Walaupun usia Kenzi Sudah 4 tahun, tetapi Kenzi belum pernah giginya ompong sama sekali, karena Kenzi dari kecil sudah rajin sikat giginya.
Kenzi dari kecil sudah di ajarkan oleh daddy-nya untuk menjaga kebersihan diri sendiri, sebelum dan sesudah bangun tidur sudah di ajarkan Daddy-nya untuk sikat gigi terlebih dahulu.
Selesai bertukar cerita dengan keluarganya mereka masuk ke kamar masing-masing, seperti biasanya Kenzi akan tidur dengan bundanya, bener-bener dua sejoli tidak terpisahkan.
"Unda ental alau uda ikah ama Daddy, angan upain Enzi ya unda." Ujar Kenzi yang tiduran memeluk bundanya, dan manik matanya menghadap ke bundanya.
"Iya sayang! Bunda akan selalu sayang Kenzi, jagoan bunda yang paling ganteng ini." Ujar Kania mencubit hidungnya Kenzi, dan mengusap-ngusap pipinya.
"Anji ya unda!" Ujar Kenzi menautkan jari kelingkingnya, ke jari kelingking bundanya sebagai bukti kesepakatan berdua.
"Pasti sayang!"
Setelah mereka berdua bercerita, dan saling memeluk menumpahkan rasa rindunya. Kenzi sudah mulai memejamkan matanya, dan menguap beberapa kali.
"Unda antuk." Ujar Kenzi mengucek-ngucek matanya yang sudah memerah.
__ADS_1
"Acain ongeng sebeyum Enzi bobok." Ujar Kenzi yang menyerahkan buku cerita ke hadapan bundanya.
Seorang kancil mencuri timun di....... sebelum Kania melanjutkan ceritanya, Kenzi sudah bobok terlebih dahulu, dengan suara dengkuran halusnya yang menandakan Kenzi sudah tertidur lelap.
Kania pok-pok pantatnya, dan melanjutkan mendongengnya agar Kenzi bobok nya lebih pulas lagi, dan tidak bangun.
Terakhir Kania mencium keningnya, pipinya, bibirnya, dan menaikan selimutnya sebatas dadanya supaya tidak nya tidak kedinginan.
Setelah menidurkannya Kenzi, Kania beranjak dari tempat kamarnya untuk membuat kopi hitam kesukaannya, kayaknya enak dech aromanya udah bikin ngiler.
Kania menuruni tangga, untuk berjalan kearah ruangan dapur untuk membuat minum hangat nya.
Kania memasak air di dalam panci sembari menunggu mendidih airnya, Kania bernyanyi lagu kesukaannya.
"Dulu kita pernah berbagi rasa"
"Kini kita hanya teman yang biasa"
"Tapi Tuhanlah yang menakdirkan"
"Hidup terus berjalan"
"Engkau t'lah kurelakan"
"Pada Tuhan semua"
"Kupasrahkan"
__ADS_1
"Nyanyi apa? suaranya bagus?" Bisiknya Yudha sembari tangannya memeluk Kania dari belakang.
"Makasih!" Ujar Kania singkat.
"Sedang masak apa hmmm? bisiknya Yudha semakin mengeratkan pelukannya.
"Ai..r ma..u bikin kopi, mau? tanyanya Kania kembali.
"Boleh! saya tunggu di meja makan ya." Ujar Yudha mengendus, dan mengecup tengkuk lehernya Kania.
Cup Cup Cup.........
"I....ya !" jawab Kania sedikit gugup.
Saya tunggu duduk di meja makan ya, Yudha membalikkan badan Kania untuk menghadapnya, dan berjalan menjauh sembari mengedipkan matanya.
Setelah 5 menit Kania sibuk di dalam dapur, sekedar untuk membuat kopi membuatnya sedikit membuncah bahagia. karena mendapat seorang duda yang tampan beranak satu, tetapi pesonanya mengalahkan para lelaki lajang yang pernah suka sama dirinya.
"Ini kopinya!" Kania meletakkan di meja.
Kania berniat beranjak dari dapurnya untuk kembali ke kamarnya, takut Kenzi bangun mencarinya. tiba-tiba ada sebuah tangan yang mencekal lengannya untuk menahannya dengan isyarat tatapan matanya.
"Ada apa? tanyanya Kania yang berdiri di sampingnya Yudha.
"Duduk sini temani saya!" Ujar Yudha yang terus menatapnya penuh minat.
"Boleh, tetapi Kenzi kalau bangun gimana?" tanyanya Kania lewat bahasa tubuhnya yang mengkhawatirkan Kenzi yang bangun mencarinya.
__ADS_1
Biarlah! nanti juga denger kalau Kenzi bangun atau menangis, sekarang temani saya dulu minum kopi.
Akhirnya Kania mengalah, mereka berdua sedang duduk berdua sembari membicarakan pernikahannya yang tinggal menghitung hari lagi.