
Pulang dari kantor Yudha menyempatkan dirinya untuk bermain dengan anak-anak, meskipun hanya sebentar tetapi sudah menciptakan tawa, dan senyum renyah untuk anak-anak.
Yudha sangat bersyukur di waktu sibuknya masih bisa meluangkan waktu untuk bermain dengan anak-anak, bisa mencurahkan kasih sayangnya, dan perhatiannya.
Cukup satu jam Yudha menemani bermain, anak-anak sudah sangat bahagia, dan mereka juga sudah sibuk dengan mainannya.
"Dad, mandi dulu ya! udah bau asam, entar kita main lagi oke!" Ujar Yudha memberikan pengertian kepada anak-anaknya. Meskipun mereka sudah tumbuh remaja, dan bersekolah baginya tetap kangen Daddy, padahal tiap hari bertemu.
"Iya dad, tapi nanti main lagi ya oke?" tanya Kaynuna yang menatap manik mata sang Daddy-nya. Nuna menatapnya dengan tatapan mengiba berharap jawaban Daddy-nya memuaskan.
Yudha semakin luluh, terkunci dengan tatapan putrinya, bola matanya persis seperti Bundanya yang memancarkan aura kecantikannya.
"Iya sayang..." Ucap Yudha mengelus pipi chuby putrinya. Yudha bergantian mengecup kening anak-anak, dan meninggalkan mereka untuk mandi sejenak.
Sebenarnya Yudha sudah sangat merindukan dengan sang istri, meskipun seringkali bersama, tetapi semakin bertambah nya usia, semakin membumbung tinggi rasa cintanya kepada sang istri.
Tak! Tak!....
__ADS_1
Suara langkah keramik rumahnya berbunyi pelan, Yudha mulai menaiki anak tangga satu persatu. Semangat nya cukup tinggi, karena rasa rindu yang sudah di pendamnya beberapa jam yang lalu sangat tinggi pula.
Mereka sepasang suami istri yang Tak terpisahkan, walaupun akhir zaman tetap saja tidak akan terpisahkan kecuali maut yang memisahkan.
"Sayang...." panggil nya Yudha celingukan mencari keberadaan sang istri, tetapi tidak ada di tempat tidur, dan di balkon rumahnya.
Yudha beralih ke walk in closet, tetapi juga tidak ada. Berjalan gontai, Yudha langsung merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, kedua matanya terpejam menikmati rasa lelahnya, berharap cepat hilang sebelum membersihkan tubuhnya.
Memejamkan sejenak kedua matanya, sayup-sayup terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi kamarnya. Yudha sedikit membuka kelopak matanya, dan melihat warna terang berubah warna menjadi warna gelap seperti langit akan turun hujan.
Berjalan seperti mengendap-endap Yudha mulai membuka handel pintu kamar mandi, membukanya sangat pelan membuatnya tidak menimbulkan suara.
Kania sedang membilas tubuhnya, karena baru saja Kania merendam tubuhnya supaya lebih rileks lagi, dan segar menyambut kepulangan sang suami dari kantor.
"Sayang...." Yudha sudah memeluk tubuh Kania, dan mulai mengendus-endus leher jenjang sang istri.
"Mas tadi udah cari kemana-mana? ternyata kamu ada di sini! ayo Yank kita mandi bareng lagi, kebetulan mas juga belum mandi." Tutur Yudha masih memeluk Kania dari belakang, dan tangannya sudah memilin-milin buah jeruk kesukaannya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lagi, Yudha langsung melucuti pakaiannya dengan gerakan sangat cepat. Tubuh keduanya sudah saling menghadap, ekor matanya sudah saling bertemu, saling menatap, sudah memancarkan benih-benih gelora dalam gairah.
Tanpa ampun Yudha menyerang duluan memberikan kenikmatan yang susah untuk diartikan, Kania hanya pasrah dengan permainan suaminya yang seperti sudah tidak sabaran.
"Ini indah sayang, mas suka.!" Yudha mengecup buah jeruk lemon yang berada di depannya penuh dengan minat, dan matanya tidak berkedip dalam memandanginya.
Yudha ingin melancarkan aksinya, tiba-tiba pintu kamarnya seperti ada yang membukanya.
"Tok! Tok! ....." Daddy Bunda bukain pintunya, adik mau ke Bunda.
"Iya sayang, bentar ya!" jawabnya Kania dari dalam kamar mandi.
Yudha tertunduk lesu, hasrat yang berkobar-kobar kini tak terlampiaskan, pusaka yang berdiri tegak dibiarkan menggantung dan terekspos dengan sempurna.
"Sabar, nanti kita lanjutkan lagi kalau anak-anak sudah tidur." Ucap Kania mengelus dada bidang suaminya.
Mendengar jawaban sang istri seperti tersiram air hujan, rasanya Mak nyes membuatnya berbinar bahagia menunggu hari yang di ucapkan sang istri tiba.
__ADS_1