
Keesokan paginya, Intan terbangun terlebih dulu untuk membersihkan tubuhnya, sebelum Tom dan Aira-nya bangun dari tidurnya.
Intan berniat untuk masuk ke dalam dapur yang berada di apartemen-nya, tetapi semuanya tidak jadi Intan lakukan, karena Intan merasa tidak enak menggunakan dapur tanpa seizin yang punya apartemen.
Intan hanya menunggu Aira-nya bangun, memandikan Aira langsung pulang ke rumah orang tuanya. Intan tidak mau menunda-nunda lagi, biar bagaimanapun Intan dan Aira pasti secepatnya mereka akan bertemu.
Disinilah Intan, sedang duduk di sofa kamarnya sembari bermain dengan ponselnya. Intan sudah mengabarkan kepada keluarganya, bahwa hari ini akan pulang ke rumahnya. Tinggal menunggu Aira-nya bangun, baru Intan keluar dari apartemen-nya Tom.
Pukul 08.00 WIB mereka berdua baru bangun dari tidurnya, Aira yang merasakan kenyamanan dalam dekapan Om hanteng-nya, Aira malah merangsekkan kepalanya ke dada bidangnya Tom, untuk mencari posisi ternyaman-nya.
💚💚💚
Tom melihat gerak-geriknya Aira, hanya terkekeh kecil memandangi wajah Aira yang muka bantalnya sangat jelas terlihat. Rasanya ingin sekali menggigit pipi gembil-nya, tetapi tidak pernah Tom lakukan. Karena itu tidak mungkin Tom lakukan, yang ada Aira malah ngambek tidak mau dekat dengannya lagi.
"Bangun yuk, Sayang udah siang nich." Tutur Tom yang merapikan anak rambutnya Aira yang berantakan.
"Aila asih antuk, Om." Sahutnya Aira yang sedikit serak.
"Tom langsung memeluk Aira sangat erat, dan menghujani ciuman bertubi-tubi di wajahnya Aira."
"Aila jeli Om, udah Om hahahaha..." tawanya Aira sampai ke telinganya Intan.
"Makanya Aira harus bangun, harus mandi supaya wangi dan cantik sepanjang hari."
"Belalti alau Aila seling andi, belalti Aila-nya cantik telus dong om." Serunya Aira dengan kedua matanya mengerjap-ngerjap sangat lucu..
"Iya dong, kan Aira adalah kesayangan Om jadi harus cantik!"
"Ya udah Aila andi, bial kelihatan cantik telus sepelti Mama." Ucap Aira dengan bangganya. dan senyumnya tidak pernah lepas dari sudut bibirnya.
💚💚💚
Intan memasuki kamar setelah mendengar tawanya Aira, yang jelas sekali terdengar tawanya memenuhi kamar Om hanteng-nya Aira.
Intan yang melihatnya dari pintu, membuncah bahagia karena Aira sangat nyaman dalam pelukan Tom. Intan berharap kelak Aira tahu kebenarannya, Aira tidak akan marah dengannya atau membencinya.
"Mama.... Aila au andi." Panggilnya Aira yang begitu memekik telinganya Intan.
"Iya sayang! anak gadis nggak boleh teriak-teriak dong, nanti ada sesuatu yang datang ke rumah ini."
"Benelan Ma!"
__ADS_1
"Iya dong!"
Setelah memandikan Aira, mereka tengah bersiap-siap di kamarnya. Aira sudah di dandani Intan memakai dress couplenya yang berwarna coklat susu, dan rambutnya di biarkan tergerai dengan bandana diatas rambutnya.
"Gadis-nya Mama sang cantik, apalagi pipinya ini tambah gemesin."
Aira yang yang mendapatkan pujian dari Mamanya tersenyum sangat lebar, Aira memperlihatkan giginya yang putih bersih dan sangat rapi.
"Maacih Ma." Tutur Aira memeluk Mama-nya. Aira mengecup pipi Mamanya kanan kiri bergantian.
Dirasa sudah rapi, Intan dan Aira keluar dari kamarnya. Intan sudah menggeret kopernya untuk di bawa keluar, Intan juga sudah memesan taksi via online. Sebelum Intan meninggalkan apartemen-nya Tom, Intan dan Aira berpamitan dulu sama yang punya apartemen.
"Makasih Tom untuk tumpangan-nya semalam, makasih juga udah bantu-bantu jagain Aira." Tutur Intan sangat tulus, mata keduanya saling berpandangan, menyelami perasaan masing-masing.
"Seharusnya Aku yang mengucapkan kata terimakasih, karena kamu sudah menjaga Aira kita dengan sangat baik."
"Pikirkan lamaranku yang kemarin, Aku siap kapanpun kalau kamu minta di nikahi sekarang pun, Aku juga siap." Bisiknya Tom dengan suara lantang dan tegas.
"Om ama Mama kok bicik-bicik, Aila kok ndak di ajak sich! emangnya bicalain apa sich?" tanya Aira yang sedang menopangkan dagunya.
"Nggak apa-apa sayang! ayo pamit dulu sama Om dan jangan lupa bilang apa sama Om, sayang."
"Telimakasih Ma."
"Aku dan Aira pamit dulu ya, sekali lagi terimakasih untuk semuanya."
"Sama-sama." Tom mengecup keningnya Intan dan Aira bergantian.
"Dada...da..da Om..."
"Da...dada.... Aira."
💚💚💚
Setelah memasuki taksi yang di pesannya, mobil melaju meninggalkan apartemen-nya Tom. Siang ini jalanan Jakarta begitu lengang, lalu lalang kendaraan hanya ada satu dua saja. Mobil pun melaju dengan cepat, tidak membutuhkan waktu yang lama. Sesuai alamat yang dituju, mobilnya sudah sampai di pelataran rumah elite dengan pager rumahnya warna hitam.
Intan dan Aira sudah turun dari taksi, barang-barang bawaannya sudah di turunkan. Intan memandangi rumah yang dulu jadi tempat tinggalnya, dan harus meninggalkannya demi nyawa anaknya yang harus di jaga-nya.
Kedua matanya sudah berkaca-kaca bila mengingat masa-masa sulitnya membesarkan Aira seorang diri, tetapi Intan tidak akan menyesal meninggalkan keluarganya demi nyawa di rahimnya.
Intan mengandeng tangannya Aira, dan satu tangannya di biarkan untuk memecat bel rumahnya.
__ADS_1
Ting....Tong....
Intan mulai memberanikan dirinya untuk melangkahkan kakinya ke depan pintu rumahnya, dan mulai memecat bel rumahnya kembali.
Ting...Tong....
Ceklek
Pintu rumahnya sudah terbuka, terpampang seorang wanita yang setengah baya mematung melihat kedatangan Intan dan Aira. Rasanya seperti mimpi Intan-nya sudah pulang, membawa cucunya. Cucu yang selama ini di rindukan, ternyata cucunya sangat cantik dan sudah besar.
"Bunda...." Sapa Intan.
"Intan, sampai bunda tidak percaya di depan bunda ternyata Putri kecilnya bunda." Intan menghamburkan ke pelukan Bundanya, bunda yang sudah Intan rindukan beberapa tahun yang tidak bertemu, penantiannya akhirnya pertemuannya sangat manis.
"Ayo masuk! nggak enak di lihat tetangga."
"Hai Aira cucunya Oma..." Sapa Oma-nya.
"Tidak ada jawaban, Aira bersembunyi di belakang Mamanya, kedua matanya mulai mengintip yang di panggilnya Oma."
"Hayo sayang Salim dulu sama oma." Tutur Intan menasehati Aira. Dengan malu-malu Aira berjalan ke tempat Oma-nya, dan mencium punggung tangan.
"Pintarnya cucu Oma." Oma-nya langsung mencium wajah gembil-nya Aira.
Aira yang merasakan kenyamanan, tidak malu-malu lagi memandangi wajah Oma-nya yang cantik seperti Mama Intan. Dengan malu-malu kucing Aira tersenyum manis, dan mau duduk di pangkuan Oma-nya.
"Papa mana, Bun?"
"Papa di kantor, belum tahu kalau hari ini kamu dan Aira akan pulang ke rumah."
"Oohh."
Intan bahagia, bundanya mau menerimanya kembali pulang ke rumah. Dan mau menerima Aira-nya dengan setulus hati, berharap Papa-nya mau menerima Intan dan Aira. Kalau pun Papa-nya menolak kehadirannya, Intan bertekad akan kembali ke Singapura dan menetap di sana.
Jangan lupa dukung terus cerita autthor
tinggalkan jejaknya. Simpan di favorit ya.
LIKE
KOMENTAR
__ADS_1
VOTE
RATE-NYA