Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bab 141


__ADS_3

Selamat hari Jum'at.


Selamat beraktivitas yah.


Happy reading


Selesai Yudha bertemu dengan Tom, sembari berjalan tergesa-gesa menuju tempat parkir mobilnya berada.


Yudha memasuki mobilnya, dan menarik pedalnya dengan kecepatan tinggi, Yudha tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya yang mungkin sedang menunggu di rumahnya.


Tidak butuh waktu lama, Yudha tiba di rumah langsung Na ke kamar atas, di pertengahan tangga ada suara bik Siti memanggil namanya.


"Pak! tadi ada Intan datang kerumah mencari, Bapak." Ujar bik Siti dari lantai bawah.


Niat Yudha ingin naik ke lantai atas di urungkan, Yudha membalikkan badannya untuk turun ke lantai bawah untuk mendengar penjelasan bik Siti.


Yudha, dan bik Siti duduk berdua di ruang tamu, membicarakan perihal kedatangan Intan secara tiba-tiba, yang datang ke rumahnya.


"Kapan bik datangnya?" tanyanya Yudha yang mulai membuka pertanyaan.


"Tidak lama setelah Bapak keluar dari rumah." Jawabnya bik Siti yang meremas-remas kedua tangannya.


"Apa Intan melukai istriku?" tanyanya Yudha penuh rasa cemas, dan penuh selidik karena Intan orang yang sedikit nekat.


"Tidak Pak! tetapi dari raut wajahnya Non Kania terlihat murung, belum keluar kamar semenjak kedatangan Intan." Ujar bik Siti dengan lembut.


"Apa tahu Kania istriku, bik?" tanya Yudha.


"Belum Pak!" Jawabnya bik Siti.


Katanya Intan, "Intan akan datang ke sini lagi entah esok atau lusa Pak." kata bik Siti.


"Jangan boleh masuk ya, bik! kalau saya tidak di rumah takutnya Intan berbuat yang macam-macam." Ujar Yudha.


"Yudha ke kamar atas dulu ya, bik." Pamitnya Yudha kepada bik Siti yang masih duduk di ruang tamu.


Yudha berlalu dari hadapan Bik Siti, melanjutkan untuk naik ke lantai atas terutama ke kamarnya.

__ADS_1


Tok! Tok...


"Sayang, Mas pulang." Tutur Yudha dari luar pintu.


Berulang-ulang Yudha mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, tidak ada sahutan dari dalam, tidak ada suara apa-apa yang biasanya akan nyala telivisinya, semuanya nampak sangat bening.


Krek...


Yudha memutar handel pintunya yang tidak terkunci sama sekali, memudahkan suaminya untuk masuk ke dalam melihat istrinya tertidur.


Yudha Berjalan dengan kaki mengendap-endap langkahnya, supaya istrinya tidak terbangun dari tidurnya, yang nampak sangat pulas.


Setelah melihat istrinya yang tertidur, Yudha melanjutkan langkahnya untuk membersihkan badannya dahulu, sebelum ikut tidur di samping istrinya.


Selesai mandi, dan menganti bajunya di walk in closet, Yudha ikut naik ke ranjangnya, mengelus perut istrinya dulu,dan berbicara pada anak-anaknya walaupun masih di dalam kandungan, Yudha selalu mengajaknya untuk berbicara sejak di rahim istrinya


Lalu


Yudha memeluk istrinya sangat erat, kepalanya di taruh di ceruk leher istrinya yang nampak menggoda dengan leher jenjangnya yang putih, dan mulus.


Yudha mulai mengendus-endus lehernya, meninggalkan bekas keunguan di sekujur leher istrinya.


Melihat reaksi istrinya, Yudha nampak makin gemas mengeksplorasi leher istrinya, dan mengecupnya bertubi-tubi.


Istrinya bergerak tidak karuan, menginginkan sentuhan suaminya lebih lagi, dan lebih dalam.


Tangannya Yudha semakin intens menyusup masuk ke bukit kembarnya, dan membelainya sembari memberikan cubit-cubitan kecil di sekitarnya.


Kania seperti orang kesetanan bertubi-tubi menerima rangsangan dari suaminya, yang tidak tinggal diam tangannya semakin bergerilya untuk menyusuri lekuk-lekuk tubuh istrinya, yang semakin hari semakin berisi semakin seksi dengan perut sedikit membuncit.


"Aakkhhh Mas..... Terus... lebih dalam..." Rancauan istrinya yang semakin tidak jelas, seperti cacing kepanasan.


Yudha mulai membelit lidah istrinya, dan menginvasi rongga mulutnya, mereka berdua saling membalas, bertukar saliva, dan memberikan sentuhan memabukkan.


Kania mulai meraba-raba, membelai dada bidang suaminya, dan memainkan kedua bukit kembar suaminya yang sudah sangat keras, memberikan cubit-cubitan kecil di sekitar dada suaminya.


Berulang-ulang Yudha di buat merem melek permainan tangan istrinya, yang membuatnya mendesis tidak karuan akibat sentuhan tangan istrinya yang lembut, tetapi sangat nikmat.

__ADS_1


"Mana lagi, sayang?"Tanyanya suaminya yang semakin menggoda istrinya dengan gerakan jari tangannya yang mulai memainkan intinya yang sudah basah.


"Di situ Mas.... dalam lagi... Ahhh Iya Mas..."Ujar Kania yang menggeliat kemana-mana


"Ini sayang." Ujar Yudha untuk menggoda istrinya.


'Iya-iya Mas di situ yang cepat...." Ujar istrinya yang kedua matanya masih terpejam sangat indah. tetapi bibirnya tidak bisa diam, dan merancau tidak jelas.


Yudha semakin dalam memasukkan jari tengahnya, semakin cepat gerakan maju-mundur cantiknya, yang berkali-kali membuat istrinya merancau tidak jelas saking menikmati sentuhan suaminya yang begitu lembut, tetapi sangat memabukkan.


Suaminya semakin bersemangat menarik keluar masuk jarinya yang berada hangat di inti istrinya, yang sudah sangat basah dengan bunyi suara yang khas.


Yudha sudah tidak sabar untuk menurunkan celana istrinya, yang sudah sangat basah, dan siap untuk menerima pusaka suaminya yang nampak ingin segera masuk ke dalam sarang istrinya yang nampak menggoda.


Berkali-kali Yudha menelan ludahnya, yang sudah tidak sabar untuk segera masuk ke intinya.


Yudha mengarahkan pusakanya ke intinya, dan memasukkan secara cepat, dan menariknya keluar masuk, dan memasukkan lagi lebih dalam.


Suaminya mulai maju mundur dengan gerakan lebih cepat secara intens, sehingga terdengar bunyinya penyatuan mereka berdua.


"Aaaakkkhhhh...." Mereka berdua meraih kenikmatan bersama, dan saling menyebutkan nama masing-masing setiap kali mencapai puncak kejayaannya.


Mereka mengulang sampai lima ronde sekaligus, Keduanya terlihat sangat menikmati permainannya, tercetak jelas di sudut bibir keduanya yang membentuk bulan sabit.


"Makasih sayang." Ujar Yudha mengecup kening istrinya, pipinya, dan terakhir bibirnya yang nampak lebih menggoda.


"Kania mengangguk."


Merangsek kepalanya ke dada bidang suaminya, dan memainkan dengan gigitan kecil yang meninggalkan bekas keunguan.


"Sayang, jangan nanti Mas pengen lagi." Ujar Yudha yang menahan kepala istrinya supaya sedikit menjauh, tetapi nihil tangan istrinya yang tidak tinggal diam memainkan memainkan kembali bukit kembar suaminya.


Akhirnya Yudha kalah, dan terbawa suasana permainan tangan istrinya, mereka mengulang kembali untuk mencapai puncak kejayaannya bersamaan.


Keduanya terengah-engah, tertidur pulas posisi saling memeluk, dan memberikan kehangatan satu dengan yang lainnya.


Sebelum hari esok datang, dan apa yang akan terjadi nantinya, keduanya cuma berharap, dan berdoa rumah tangganya tidak ada masalah yang berarti, cuma kerikil-kerikil kecil yang menghalangi langkahnya.

__ADS_1


Keduanya sangat kompak, tidak akan goyah walaupun Ada orang lain di masa lalu, karena masa sekarang lebih penting daripada masa lalu yang datang, di saat kita sudah bahagia dengan yang sekarang.


Autthor nggak akan bikin konflik yang menguras air mata, sedikit bumbu untuk rumah tangganya☺☺☺☺☺


__ADS_2