
Tripel Up mumpung Author lagi Semangat untuk melanjutkan kisah cinta Yudha dan Kania☺☺☺ akankah mereka bersatu? temukan jawabannya jangan lupa simak terus cerita ini☺☺☺
Setelah drama berpelukan seperti Teletubbies, Yudha, Kania, dan Kenzi telah bersiap-siap untuk berangkat ke Stasiun besar kota Jakarta.
'Unda, Enzi uda ampan beyum?" tanya Kenzi dengan tangan dimasukkan ke saku celananya dengan gaya yang sok coolnya..
"Haha sangat tampan, sayang." Ujar Kania mengelus pipinya Kenzi dengan lembut.
"Belalti sepelti daddy ya unda." Seru Kenzi berteriak senang di bilang tampan sama bundanya.
"Iya sayang sama-sama tampan." Ujar Kania melirik sekilas Pak Yudha yang sedang memakai sepatu sneakersnya berwarna putih kembaran dengan anaknya.
"Daddy, kata unda ita ampan." Seru Kenzi menghampiri daddy-nya yang sedang duduk di ruang tamu menunggu Paman Tom.
"Bundamu suka benar sayang!" Ujar Yudha tersenyum penuh misterius menatap Kania yang sedang memalingkan wajahnya ke arah yang lain.
Tak...tak..tak...
Suara sepatu memenuhi ruang tamu karena kedatangan seseorang yang menghampiri Yudha dan Kenzi yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya.
"Hay, Paman apa kabar." sapa Yudha memeluknya seperti memeluk seorang pria dewasa.
__ADS_1
"Baik bro!" Ucap Paman Tom bertos ria dengan Yudha sebagai majikannya, teman, dan saudaranya.
"Sayang, salim dulu sama Paman." Ujar Yudha memberitahu anaknya yang sedang bermain mobil-mobilannya untuk menghormati yang lebih tua, dan menghargai yang lebih muda.
"Apa kabalnya aman?" tanya Kenzi mengulurkan tangannya untuk takzim dulu kepada pamannya.
"Enzi lindu aman!" Ujar Kenzi memeluk kaki pamannya. mensejajarkan tingginya dengan Kenzi Paman Tom mengangkatnya untuk mengendong nya di pundaknya.
"Yeeeehh.... yeeeehh Ita telbang aman, telbang yang inggi sepelti pecawat telbang di angit." Seru Kenzi mengalungkan kedua tangannya untuk memeluk leher pamannya.
"Hiyat daddy...... hiyat.....Enzi ica telbang sepelti pecawat." Seru Kenzi yang bersorak gembira penuh kegirangan.
"Hiyat... Enzi aik pecawat hiyat ....unda." Seru Kenzi sedang memamerkan ke bundanya yang tengah membereskan barang-barangnya yang akan di bawa ke dalam mobil.
"Aman, Enzi inta tulun ental Enzi di malahim ama unda!" Bisik Kenzi ke daun telinganya Paman Tom.
Barang-barang sudah di masukkan ke dalam bagasi mobil, Kania, Kenzi sedang berpamitan dengan bik Siti dan para pekerja lainnya.
"Enzi belangkat duyu, bik?" Ujar Kenzi mencium tangannya bik Siti dengan takzim. Bik Siti mensejajarkan tingginya dengan Kenzi lalu menciumnya dengan gemas.
"Di sana den Ken tidak boleh nakal, harus nurut sama bunda dan daddy ya!" Ujar bik Siti memberi wejangan kepada Kenzi, yang sudah di anggap cucunya bik Siti sendiri.
__ADS_1
"Iap-iap bik." Seru Kenzi memberikan hormat seperti tentara yang akan pergi bertugas di Medan perang.
"Kami permisi, mang, bik." Ujar Kania pamit kepada orang rumah. "Jangan lupa Jaga rumah , baik-baik di rumah." ucap Kania berjalan meninggalkan bik Siti dan para pekerja lainnya.
Kenzi membalikkan badannya untuk menoleh ke belakang untuk melihat orang-orang rumah yang sedang memperhatikannya.
"Dada...dadaaaaaa mang, bik." Ujar Kenzi melambaikan tangannya kepada mereka.
Bik Siti dan para pekerja melambaikan tangannya juga untuk melepas bos kecilnya untuk berkunjung ke keluarga non Kania yang berada di Semarang.
Kania mengandeng tangan Kenzi untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, karena Yudha masih menerima telepon dari kantornya.
Setelah menerima telepon dari orang kepercayaan tentang Pradipta Group Yudha sedikit bernafas lega, perusahaannya baik-baik saja tidak perlu kunjungannya ke Semarang di mundurkan.
Tidak mau Yudha melihat anaknya bersedih dengan kegagalannya untuk pergi berkeliling Pakai kereta api antara Jakarta ke kota Semarang.
"Bik, saya berangkat titip rumah!" Ujar Yudha pamit kepada bik Siti yang sudah di anggap neneknya sendiri.
"Iya Pak, hati-hati di jalan pak!" Teriak Bik Siti, karena Yudha berjalan tergesa-gesa untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Daddy ama!" Ujar Kenzi sedikit kesal dari tadi di cuekin daddy-nya.
__ADS_1
"Maaf sayang," Ujar Yudha menjelaskan ke anaknya karena ada telepon penting yang harus Daddy angkat.