Duda Keren Yang Tampan

Duda Keren Yang Tampan
Bab 107


__ADS_3

"Alhamdulillah." Kania mengucapkan rasa syukurnya, berkat ada acara di tetangganya keluarga yang di Semarang tidak jadi berangkat.


"Unda tenapa?" tanya Kenzi yang mengangkat wajahnya, melihat bundanya membasuh wajahnya dengan kedua tangannya, membuat Kenzi bertanya-tanya.


"Nggak apa-apa, sayang." Ujar Kania menatap dalam manik matanya Kenzi dengan tersenyum lembut, dan mengelus punggungnya.


"Itut unda." Ujar Kenzi yang sudah merentangkan kedua tangannya, minta di gendong bundanya.


"Mam ya, bunda suapin?" Tanya Kania yang mengendong Kenzi, untuk berkeliling di taman belakang.


"Ndak unda, Enzi au ain di cini." Ujar Kenzi menunjuk tempat gazebo un tempat bermainnya.


"Enzi au tulun unda! au uduk di cini!" Ujar Kenzi yang beringsut ingin turun dari gendongan bundanya, dan berjalan ke tempat yang akan di jadikan tempat mainnya.


"Main sambil mam ya!" Ucap Kania.


"Iya unda au mam, ama hicken." Jawab Kenzi dengan tersenyum tipis memperlihatkan sedikit giginya.


"Kenzi di sini dulu ya! Bunda ke dalam dulu, ambil nasi, dan ayam chicken." Ujar Kania pamit kepada Kenzi.


"Iap unda!" Jawab Kenzi.


"Sayang, Kenzi mana?" tanya Yudha yang menghampiri Kania yang berada di dalam dapur.


"Di gazebo belakang." Jawab Kania yang tanpa menoleh ke belakang, dan masih sibuk menggoreng ayam chicken dulu.


"Masak apa?" bisik Yudha.

__ADS_1


"Iihh jangan peluk-peluk, nanti ayam chicken nya gosong." protes Kania yang melepas tangannya Yudha yang sedang memeluknya dari belakang.


Di peluk calon suaminya aja nggak mau, sedangkan kalau di peluk Kenzi aja nggak pernah protes. "uhhh bunda Kenzi tidak sayang sama daddy-nya."


Ullluhh...... ngambek nya seperti Kenzi, entar gantengnya hilang, udah jadi Daddy dari satu putra aja masih suka cemburu dengan anak sendiri.


"Habisnya di peluk bentar sekarang suka protes, coba yang peluk Kenzi pasti tambah erat pelukannya, malah di kasih kecupan kecil. kalau sayang?" Yudha protes waktu bersamanya selalu terganggu dengan anaknya yang tidak bisa lepas dari bundanya nempel seperti perangko.


"Unda mam nya ana?" Teriak Kenzi di luar dapur, yang sedang sibuk dengan mainannya di gazebo belakang.


"Iya sayang, bentar lagi goreng ayam chicken!" Teriak Kania membalasnya.


Daddy-nya Kenzi, saya mau melanjutkan menggoreng ayam chicken dulu, dan menyuapi Kenzi. tolong di lepas ya pelukannya, karena saya susah bernafas, dan tidak bisa gerak.


Yudha terkekeh geli melihat aksinya Kania yang berada di pelukannya, dan selalu ingin protes.


Kania menjawil hidungnya Yudha yang mancung seperti bule-bule luar negeri, dan memencetnya hingga nampak merah-merah atau kemerahan.


"Sakit sayang, jangan di pencet nanti kadar kegantengan seorang Yudha Pradipta luntur." Ujar Yudha dengan sikap percaya dirinya, dan menampilkan senyum penuh maksud tertentu, membuat Kania bergidik ngeri.


Udah ah sana! saya mau ketempat Kenzi mumpung dianya mau makan, dan hatinya lagi bahagia.


"Sayang." Sapa Kania.


"Unda cuka ama sih! tadi kan Enzi teliak panggil unda, tetapi unda ndak dengel-dengel." Daddy dan anak sama saja suka protes kedua-duanya.


"Aaakkkk..... Suapan pertama Kania untuk anaknya yang paling pintar, dan paling kegantengan seperti daddy-nya.

__ADS_1


"Enak unda mamam nya


"Seru Kenzi memuji masakan bundanya, dengan giginya putih bersihnya untuk memperlihatkan kepada bundanya.


"Ecok-ecok asakin ini agi unda, Enzi cuka anget!" Ujar Kenzi yang sedang menghayati makanannya.


"Jagoan Daddy lagi makan sama apa?" tanya Yudha menghampiri mereka berdua yang sedang duduk di gazebo.


"Enzi agi mam yam hicken ya unda!" Ujar Kenzi yang mengadu ke bundanya, dan minta persetujuannya ayam chicken.


"Kok Daddy nggak di kasih." Ujar Yudha berniat mengoda anaknya, dan mengambil piring makannya di tangan Kania.


"Ndak oleh! ini uat Enzi ya unda." Ujar Kenzi yang memegang tangan bundanya, supaya tidak di rebut Daddy-nya.


"Jagoan Daddy sekarang tambah pintar kosakata-nya, yang ngajarin siapa?" tanya Yudha.


"Unda."


"Daddy."


"Nty Dara."


"Bik Siti."


"Akek, dan enak."


Kenzi menghafal nama satu persatu dengan khas cadelnya, malah membuatnya semakin menggemaskan.

__ADS_1


__ADS_2