
Sudah satu malam Yudha tidur sendirian. luar, rasanya badannya pegal-pegal semua, kualitas tidurnya juga sedikit terganggu yang biasanya lebih pulas, perasaan ada yang kurang.
Malam kemarin, menjadi malam yang tak terlupakan hanya bantal, dan guling yang menjadi teman tidurnya.
Di kantor pun Yudha dengan perasaan was-was bercampur menjadi satu, ini merupakan malam kedua tidur di luar. Berharap sang istri mau berbesar hati memaafkan, dan mengajaknya tidur di dalam kamarnya berdua.
Harapannya nihil, Yudha malam ini pulang larut malam karena ada beberapa berkas yang harus segera di selesaikan, dan di tanda tangani-nya.
Yudha berjalan gontai masuk ke dalam kamar tamu yang bersebelahan dengan ruang tamu rumahnya, Membersihkan tubuhnya adalah hal wajib karena hampir seharian Yudha berada di kantornya.
Di dalam kamar pun Kania merasa tidak tega dengan suaminya, tetapi apa mau dikata suaminya kalau tidak di beri pelajaran sedikit pasti akan melonjak ke hal-hal negatif.
Sebenarnya Kania belum tidur semenjak suaminya pulang dari kantor, Kania memilih berdiam diri di kamarnya dengan bermain gadget. Perasaan hatinya sedikit jengkel, kesal atas sikap sang suami yang seenaknya sendiri.
Ini malam kedua Yudha tidur seorang diri, yang biasanya memeluk tubuh mungilnya Kania, malam ini harus memeluk guling menjadi teman tidurnya.
Keduanya belum bisa memejamkan matanya, meskipun berbeda kamar dan masih satu rumah. Kania sangat gengsi bila harus menyapa suaminya dulu, tetapi tidak bisa tidur meskipun sudah mencari posisi yang nyaman.
πππ
Pukul 00.00 dini hari Intan bolak-balik ke kamar mandi, perutnya tiba-tiba mulas, melilit, sedikit sakit rasanya seperti orang Bab . Duo bocil semalam juga aktif membuat Intan tidak bisa tidur dengan pulas, sedikit-dikit bangun dengan rasa perutnya yang tidak enak.
Tidak tega rasanya membangunkan suaminya, kelelahan seharian bekerja membuatnya mengurungkan niatnya untuk membangunkannya.
__ADS_1
Intan berusaha untuk turun dari ranjang pelan-pelan, supaya tidak mengganggu bobok pulas sang suami. Mondar-mandir di dalam kamar untuk mengalihkan rasa sakitnya, dengan gerakan yang sangat pelan seperti tidak menimbulkan suara sedikit pun.
"Apa Aku mau melahirkan ya?" Ucap Intan dengan lirih.
"Tetapi rasanya kok beda ya, tidak seperti kak Aira dulu ya.." Ucap Intan bermonolog pada dirinya sendiri, tetapi belum juga menemukan jawabannya yang pasti.
Sebenarnya Tom tidak tidur nyenyak, Tom tahu apa yang di lakukan sang istri, dan gumanannya yang lirih membuat Tom tahu apa yang di rasakan sang istri.
Berusaha untuk tenang saja di dalam selimut, tetapi perasaannya khawatir dengan Intan yang sudah bolak-balik ke dalam kamar mandi. Sesekali tangannya Intan terulur untuk mengusap perut buncitnya, dan menarik nafasnya guna menghalau perutnya yang Sakit.
Intan keluar dari kamar mandi sedikit ada raut kekhawatiran, ada bercak merah di pakaiannya meskipun sedikit , dan mulas di perutnya semakin terasa sering. Membuat Intan semakin was-was dengan perubahan dirinya, yang tiba-tiba sedikit ada rasa yang tidak enak di bagian bawah intinya.
"Mas bangun sepertinya Aku mau melahirkan..." Tutur Intan menggoyang-goyangkan lengan suaminya.
"Mas iiihhh nyebelin..." Ujar Intan dengan ringisan kecil yang keluar dari bibirnya, rasanya seperti di kremes-kremes.
Mendengar ringisan sang istri Tom langsung bangun, dan langsung turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi . Tidak lupa juga berganti pakaian yang sedikit sopan, Tom sudah terbiasa tidur hanya bertelanjang dada...
Setelah semua perlengkapan beres yang akan di bawanya ke rumah sakit, dengan sedikit ringisan menahan rasa sakit. Intan berjalan keluar kamar dengan di bopong sang suami, melihatnya saja itu sudah tidak tega dengan jalannya.
Berpamitan dengan orang rumah sudah Tom lakukan, Tom memilih mengendarai mobilnya sendiri dengan kecepatan tinggi seperti pembalap pada umumnya.
Tom juga sudah menghubungi kedua orang tuanya, dan juga mertuanya bahwa Intan akan melahirkan. Dan baru besok kedua mertuanya, dan orang tuanya yang akan datang ke rumah sakit.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit Intan langsung mendapatkan pertolongan, dan sudah pembukaan lima. Tinggalkan selangkah lagi Tom, dan Intan akan bertemu dengan duo bocil, sesuai USG yang mereka lakukan satu minggu lalu calon Anaknya berjenis kelamin laki-laki.
"*Dengan suami ibu Intan?" tanya perawat.
"Saya sus...." Jawabnya Tom berdiri dari duduknya, dan menghampiri perawatnya.
"Mari ikut saya Pak, istri Anda sudah pembukaan lengkap sebentar lagi akan melahirkan." Tutur perawat menjelaskan ke suami pasien*.
Setelah melalui proses panjang, proses melelahkan, kedua sepasang suami isteri tersenyum bahagia dengan kelahiran baby twins berjenis kelamin laki-laki.
Tom sangat bahagia mendapatkan seorang putra sekaligus dua lagi, keinginannya terwujud sesuai prediksi, dan USG sang dokternya...
Tom terus saja memandangi bayi mungilnya, seakan-akan ini seperti mimpi di siang bolong, rasanya tidak percaya di anugerahkan bayi kembar sepasang.
Intan juga sama, kedua matanya tertuju kepada kedua putranya yang nampak lelap dalam tidurnya. Sesekali membuka kedua matanya, membuatnya sangat menggemaskan ingin menciumi hingga pipinya memerah.
Kedua orang tuanya saling melempar senyum, dan rasa bahagia membuncah di hatinya, di berikan hadiah terindah .
"Terimakasih sayang untuk hadiahnya, Mas sungguh sangat bahagia melebihi menang tender di perusahaan..." Ucap Tom mengecup keningnya Intan sangat lama.
Selamat datang ke dunia Sayangπππ.
__ADS_1
Kebanggaan Papa Mama, dan Kakak Aira menjadi pelita hati, dan sumber kebahagiaan tak terhingga sepanjang masa.