
Happy reading
Satu bulan sudah, Intan tinggal bersama keluarganya di Jakarta, Intan sangat terharu dan bahagia Bunda, Papa-nya menerima Intan dan Aira dengan tangan terbuka.
Mulai minggu depan Intan akan mulai berkantor lagi, mungkin satu minggu yang akan datang, Intan baru siap mengurus perusahaan Papa-nya kembali yang sudah lama Intan tinggal.
Hidup terus berjalan, Intan juga sudah merelakan masa lalunya, masa sulitnya di mana hadirnya Aira di rahimnya, Intan siap untuk memulai hari yang baru dengan Putri semata wayangnya.
Satu bulan berlalu pernyataan Tom yang tiba-tiba melamarnya di apartemen-nya, masih terngiang-ngiang di telinganya Intan. Antara ingin menerima atau menolaknya, Semua masih Intan pikirkan dalam-dalam. Intan tidak mau salah mengambil keputusan, berdampak tidak baik untuk dirinya sendiri maupun untuk Aira-nya.
Di tambah lagi usia Aira yang semakin hari semakin bertambah, Aira juga berhak tahu siapa Ayah kandungnya, karena Intan tidak ingin membuat Aira menunggu setiap ulang kepulangan, berharap ayahnya akan pulang tepat di ulang tahunnya, tetapi itu tidak pernah terwujud.
Satu bulan juga, Tom juga sering mengunjunginya di rumah orang tuanya. Setiap weekand mereka selalu jalan bertiga, entah sekedar makan atau bermain di taman yang menjadi tempat favoritnya Aira.
Intan ingin memberikan hadiah untuk ulang tahun putrinya dengan memberikan keluarga yang lengkap, seperti impiannya Aira yang selalu di panjatkan setiap kali Aira selesai sholat, bermunajat kepada-NYA.
πππ
Jam makan siang Intan dan Tom janjian untuk makan siang bersama, karena ada hal yang Intan ingin bicarakan masalah hubungannya yang seperti tidak ada perkembangan, seperti jalan di tempat saja.
Padahal berulang-ulang juga Tom sudah melamarnya, mungkin karena masa lalunya yang tidak baik, pertemuan yang tidak terduga membuat pada takdir cintanya untuk masa depan dirinya dan putri semata wayangnya.
Intan sudah membulatkan tekadnya untuk menerima lamaran Tom, dan di restoran ini Intan akan menjawab lamarannya. Di tempat ini akan menjadi sejarah yang baru untuk kehidupan Intan kelak.
"Semoga ini keputusan yang terbaik." batinnya Intan menopangkan dagunya melihat hilir mudik orang keluar masuk untuk makan siang atau sekedar minum kopi.
__ADS_1
πππ
Tom berjalan dengan gagahnya, dasinya sudah tidak berbentuk seperti semula, lengan kemejanya sudah di gulung sampai ke siku-siku.
Siapapun pasang mata yang melihatnya pasti akan terpesona dengan penampilan Tom, yang tampannya berkali-kali lipat dari sebelumnya. Garis wajahnya yang tegas, sedikit brewok yang belum di cukur, tatapan matanya yang tajam membuat kaum hawa tidak berkedip untuk memandangnya.
"Maaf ya telat, tadi jalanannya macet." Tutur Tom yang sudah duduk di depannya Intan. Tangannya Tom terulur untuk mengelus lembut punggung tangannya Intan.
"Eeehhh enggak pa-pa, Aku juga baru datang kok." Sahutnya Intan sedikit gugup telah mengangumi pria yang ada di depannya.
"Ada apa? tumben minta ketemu! Aira mana?" tanya Tom yang sudah celingak-celinguk mencari keberadaan Aira-nya. tetapi hanya kekosongan yang ada, karena hanya mereka berdua berada di meja makan.
"Aira di rumah sama bunda, sengaja tidak Aku ajak karena ada yang ingin Aku bicarakan denganmu." Sahutnya Intan berusaha untuk menyesuaikan dirinya yang sedang berdebar-debar irama jantungnya.
"Bicara apa? makin penasaran saja."
"Baik.." Tom mengecup tangannya Intan.
Mereka memesan menu makanan yang sama, keduanya makan dengan khidmat dan lahap. Sesekali mereka saling menyuapi makan, mereka makan di selingi dengan obrolan ringan, candaan, bahkan mereka tertawa bersama.
Disinilah mereka duduk berdua, saling berhadapan, tangannya saling bertautan, sesekali melempar senyum.
"Huuuffftt...." Intan menarik nafasnya, membuangnya pelan-pelan, rasanya sangat grogi berbicara serius dengan Tom."
"Mengenai lamaran yang kamu utarakan kemarin-kemarin, setelah Aku pikirkan ini juga Aku lakukan demi Anak kita Aira, Intan sekali lagi menarik nafasnya sebelum memulai pembicaraan."
__ADS_1
"Aku mau..." ucap Intan yang sudah deg-degan.
"Mau apa?" tanya Tom yang sudah tidak sabaran menunggu jawaban Intan.
"Aku mau..... mau menjadi istrimu." Tutur Intan yang sedikit malu-malu, tetapi Intan berusaha untuk menguasai rasa nerveous.
"Datanglah ke rumah, mintalah Aku kepada Papa dan Bunda secara resmi."
"Siap ibu negara."
Senyum terukir jelas di wajahnya Tom, akhirnya penantiannya panjangnya, berakhir manis. Seperti kata pepatah indah pada waktunya.
Autthor senyum-senyum sendiri menulis part ini, berasa autthor yang akan di lamarπππππ.
...Next part lamaran Tom secara resmi ke rumahnya Intan....
Terimakasih buat readers, yang sudah kasih krisannya.
Tinggalkan jejaknya ya readers untuk mendukung cerita ini, Jangan lupa simpan cerita ini di favorit ya.
LIKE
KOMENTAR
RATE-NYA
__ADS_1
VOTE